Bali Tunjukkan Cara Baru Membangun Ketangguhan Lewat Program SIAP SIAGA

Misi Pemantauan Bersama Australia-Indonesia Soroti Penguatan Inklusi dan Mitigasi Risiko

DENPASAR, MataDewata.com | Ketika bencana terjadi, yang diuji bukan hanya kekuatan infrastruktur, tetapi juga kemampuan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan komunitas untuk bekerja sebagai satu kesatuan. Di Bali, kemampuan itu kini semakin terlihat nyata.

Dari desa adat di lereng Gunung Agung yang menggunakan drone untuk memetakan risiko bencana, hingga pusat kendali kebencanaan yang mengintegrasikan data dan peringatan dini secara real-time, Bali menunjukkan bagaimana investasi jangka panjang dalam pengurangan risiko bencana dapat menghasilkan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Baca juga :  Wabup Badung Hadiri Metatah Massal di Pura Prajapati Desa Adat Sobangan

Berbagai capaian tersebut menjadi fokus dalam Misi Pemantauan Bersama Program SIAP SIAGA yang berlangsung pada 15-17 September 2026 di Bali. Misi ini mempertemukan perwakilan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia termasuk BNPB, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Sosial, dan Kementerian PPN/Bappenas bersama pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan komunitas untuk meninjau langsung hasil enam tahun kemitraan Australia-Indonesia dalam memperkuat ketangguhan bencana.

Dr. Udrekh, Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, menyatakan bahwa keberhasilan pengurangan risiko bencana hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang melibatkan seluruh tingkatan pemerintahan dan masyarakat.

Baca juga :  Sekda Dewa Indra Ingatkan Tantangan dalam Pengutamaan Bahasa Negara

Salah satu perubahan yang paling menonjol adalah penguatan peran penyandang disabilitas dalam tata kelola kebencanaan melalui Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB), yang diperkuat oleh Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2026.

β€œULD-PB adalah wadah, tempat teman-teman untuk berperan aktif dan berkontribusi yang bermakna,” kata Dr. Teja Busana, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali. Apresiasi turut disampaikan oleh Catherine Meehan, First Secretary of Humanitarian Pemerintah Australia, yang menilai program ini menempatkan inklusi sebagai bagian inti dari pengelolaan bencana.

Baca juga :  Pemkab Tabanan Hadiri Pengukuhan Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Bali

Selain aspek inklusivitas, para peserta misi juga meninjau berbagai inovasi seperti Sistem Peringatan Dini Tsunami Bali, sertifikasi kesiapsiagaan bencana pariwisata, Kampus Siaga Bencana, Desa Tangguh Bencana, hingga pemanfaatan teknologi drone oleh pemuda adat di Desa Adat Temukus, Karangasem. Pengalaman Bali melalui kemitraan Program SIAP SIAGA ini dinilai memiliki potensi besar untuk direplikasi dan menjadi percontohan bagi wilayah lain di Indonesia. Sb-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button