Golkar Bali Tak Mau Terus Kehilangan Kursi, HUT ke-61 Jadi Momentum Kebangkitan

DENPASAR, MataDewata.com | Tekad membalikkan keadaan dan merebut kembali kursi yang hilang menjadi napas utama perayaan HUT ke-61 Partai Golkar di Bali. Alih-alih menggelar seremoni mewah, jajaran DPD Partai Golkar Provinsi Bali memilih menempuh jalur kerja kerakyatan dan aksi nyata sebagai pijakan kebangkitan menyongsong pemilu mendatang.
Ketua DPD Partai Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih (yang akrab disapa Demer), menjelaskan bahwa perayaan tahun ini sengaja dirancang tanpa seremoni berlebihan demi memperkuat kehadiran partai di tengah masyarakat melalui kerja-kerja nyata di lapangan.
“Begini, ulang tahun kali ini kami tidak merayakan secara seremonial atau tiup lilin berlebihan, kami merencanakan untuk lebih banyak kerja ke lapangan. Misalnya nanti ada sembako murah, ada juga penghijauan, termasuk juga ada lomba-lomba yang akan kami lakukan, yaitu ada lomba lagu, ada juga lomba rencananya lomba soccer,” ujar Demer saat ditemui di Kantor DPD Golkar Bali, Selasa (20/10/2026).
Selain itu, Golkar Bali juga mengagendakan bakti sosial ke panti asuhan, khususnya dengan memberikan perhatian kepada anak-anak penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus untuk meringankan beban mereka.
“Terus juga kami melakukan kerja-kerja ke panti asuhan. Ada panti asuhan yang kami rencanakan itu adalah pada anak yang berkebutuhan khusus. Nah, rangkaian ini saya harapkan bisa menyentuh kepada masyarakat, utamanya masyarakat yang sedang mengalami sedikit kekurangan, sehingga nantinya dapat mereka lebih berbahagia dan lebih juga bisa mencukupi atau lebih kepada meringankan beban mereka,” ujarnya.
Rangkaian HUT Golkar direncanakan berlangsung di tingkat Kabupaten/Kota secara bertahap dari bulan Oktober hingga puncaknya di bulan November di Jakarta.
Lebih lanjut, untuk menyongsong Pemilu 2029, Demer mengatakan, Golkar Bali melakukan evaluasi menyeluruh menyusul penurunan perolehan kursi di DPRD Provinsi Bali pada pemilu sebelumnya yang menempatkan partai ini di posisi ketiga. Meski demikian, Demer menegaskan target partainya ke depan realistis namun tetap optimis untuk bangkit.
“Target sih, yang penting bisa naik dari perolehan kursi yang tahun lalu. Kami tidak muluk-muluk, yang penting kami bisa menaikkan kursi dari tahun sebelumnya. Itu harapan kami dan kami berusaha untuk ke arah itu,” kata Demer.
Untuk mewujudkan target tersebut, strategi utama yang dijalankan adalah memperkuat kerja-kerja harian, memperluas interaksi langsung dengan masyarakat, serta menjaring figur-figur potensial yang memiliki tingkat akseptabilitas dan simpati tinggi di publik.
“Langkah yang ya itu, melakukan kerja, melakukan karya dengan baik, turun ke lapangan ke masyarakat, dan tentu juga mencalonkan orang yang banyak mendapatkan simpati masyarakat. Nanti kami akan melakukan survei dan juga melakukan penjaringan kepada tokoh-tokoh yang mau bergabung dengan kami, tentu itu akan menjadi bagian daripada kekuatan kami kedepan untuk meningkatkan kursi,” ucapnya.
Demer tak menampik adanya sejumlah wilayah pemilihan yang mengalami kekosongan kursi pada pemilu sebelumnya, seperti di Gianyar, Jembrana, Badung, hingga Denpasar. Pihaknya berharap kantong-kantong suara yang hilang tersebut dapat direbut kembali melalui kerja keras mesin partai di lapangan.
Terkait kontestasi eksekutif dan Pilkada mendatang yang dinilai semakin dinamis, Golkar membuka ruang luas bagi figur eksternal yang memiliki popularitas serta rekam jejak yang baik di mata masyarakat.
“Eksekutif sendiri nanti kita lihat, apakah memungkinkan nanti kami mempunyai calon yang punya popularitas dan punya elektabilitas yang bagus. Yang mau dengan Partai Golkar tentunya, dan tidak mesti dari Partai Golkar. Dan juga mereka benar-benar bisa diterima rakyat,” terangnya.
Ketika disinggung mengenai peluang dirinya sendiri untuk dicalonkan sebagai kepala daerah, Demer menanggapinya dengan santai dan menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme partai serta dinamika dukungan publik.
“Siap apapun itu nanti. Saya ini politiknya mengalir, tidak pernah saya dari zaman dulu, dari zaman ketua HIPMI menjadi DPR, kemudian dari DPR ditempatkan di komisi berapapun dan sebagainya, kami yang penting kami bekerja gitu ya. Dan begitu juga jabatan di DPD I ini kan dari dulu sebenarnya saya seperti air mengalir, walaupun kesempatannya banyak sekali waktu dulu, jauh sebelumnya,” tuturnya.
Demer memetakan tantangan terbesar partai politik ke depan, termasuk Golkar, di tengah menguatnya arus pragmatisme dan persaingan politik yang semakin kompetitif.
“Tantangan Partai Golkar ke depan adalah di mana kami melihat sekarang ini tentu dengan maraknya kondisi kapitalistik, ini menjadi bagian daripada tantangan Golkar. Dan juga kami melihat juga kondisi eksekutif lebih banyak pada pihak yang lain. Itu tantangan kami ke depan,” pungkasnya. On-MD



