Bagaimana Kondisi Pariwisata Bali Ketika Dilanda Krisis BBM? Apa Dampaknya?

DENPASAR, MataDewata.com | Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Bali saat ini sudah mulai melandai, tapi ada pertanyaan serius bagaimana kondisi pariwisata Bali? dan apa dampak yang terjadi ketika krisis BBM berlangsung? Pertanyaan tersebut menjadi perhatian terhadap keberlangsungan sektor pariwisata.
Namun, fakta mengejutkan bahwa selama krisis BBM berlangsung kondisi pariwisata Bali hingga pertengahan Oktober 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik disebut masih relatif stabil, meski terdapat penyesuaian rencana perjalanan ke sejumlah daya tarik wisata.
Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya mengatakan berdasarkan data yang ada, belum terlihat dampak drastis terhadap jumlah kunjungan wisatawan akibat krisis BBM tersebut.
“Kalau dampak, saya kira dari data yang ada, tidak berdampak drastis terhadap jumlah kunjungan, baik wisman maupun domestik,” ujar Sumarajaya saat ditemui di Ruang Sidang Prof. dr. Goesti Ngoerah Gde Ngoerah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, saat ada kemungkinan terdapat penyesuaian jadwal kunjungan ke sejumlah daya tarik wisata (DTW) oleh agen perjalanan. “Mungkin laporan dari travel-travel ya, mungkin ada pengaturan kembali tentang jadwal ke DTW dan lain sebagainya,” ujarnya.
Sumarajaya menyampaikan bahwa kondisi kunjungan wisatawan hingga pertengahan Oktober masih sebanding dengan bulan sebelumnya. “Masih stabil sampai di pertengahan Oktober ini, masih sama dengan bulan September,” kata Sumarajaya.
Ia mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang tercatat setiap harinya relatif masih stabil. “Artinya per hari kalau wisatawan asing itu masih di atas 22.000 per hari. Bahkan ada juga 23.000 per hari. Masih sama dengan kondisi bulan September,” ungkapnya.
Terkait respons pelaku perjalanan wisata, Sumarajaya mengatakan belum ada keluhan yang disampaikan secara langsung kepadanya. Meski demikian, terdapat informasi mengenai perlunya penyesuaian rute perjalanan yang telah direncanakan.
“Saya ulangi, sampai saat ini sih belum ada yang menyatakan komplain secara langsung, tetapi yang menyampaikan bahwa harus ada merencanakan kembali dari rute-rute yang sudah ada,” tuturnya.
Sumarajaya mengakui adanya penyesuaian atau pengaturan ulang rencana perjalanan wisata di tengah kondisi krisis BBM. Namun, ia menegaskan bahwa situasi tersebut belum memperlihatkan dampak drastis terhadap jumlah kunjungan wisatawan secara keseluruhan.
“Secara keseluruhan masih stabil jumlah kunjungan, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara,” pungkasnya. Dengan demikian, meski belum terlihat dampak drastis terhadap jumlah kunjungan wisatawan, penyesuaian rencana perjalanan di tengah krisis BBM menjadi perhatian bagi keberlangsungan pariwisata Bali.
Kelancaran distribusi BBM diharapkan tetap terjaga agar mobilitas wisatawan dan operasional pelaku usaha pariwisata tidak terganggu, sekaligus menjaga kepercayaan wisatawan terhadap Bali sebagai destinasi wisata. On-MD



