Groundbreaking PSEL Denpasar Raya, Bali Mulai Babak Baru Pengelolaan Sampah Modern
Diolah Menjadi Energi Listrik PSEL Rp3 Triliun Targetkan Tuntas Akhir 2027 dan Bebaskan Bali dari Sampah

DENPASAR, MataDewata.com | Bali resmi memulai transformasi pengelolaan sampah modern melalui pembangunan Fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya. Groundbreaking proyek strategis nasional yang digelar Rabu (8/7/2026) tersebut menjadi langkah awal penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi sekaligus upaya mempercepat penyelesaian persoalan sampah di Pulau Dewata.
Groundbreaking dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Gubernur Bali Wayan Koster, jajaran pemerintah daerah, serta Direksi PT PLN (Persero).
CIO Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan pembangunan PSEL Denpasar Raya merupakan implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang memberikan penugasan kepada Danantara Indonesia untuk mempercepat pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Proyek PSEL dirancang untuk mengatasi persoalan sampah dan mendukung transisi energi bersih serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. PSEL Denpasar Raya ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau sekitar 40 persen timbulan sampah di Bali. “Dari sisi energi, PSEL ini akan menghasilkan energi hijau yang mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar 100 ribu rumah masyarakat Bali,” ujar Pandu.
Ia menambahkan, proyek senilai sekitar Rp3 triliun itu diproyeksikan mampu menekan emisi dari tempat pemrosesan akhir hingga 80 persen, mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton COβ per tahun, menciptakan 1.208 lapangan kerja hijau, sekaligus mengurangi kebutuhan lahan TPA secara signifikan.
Hal serupa juga disampaikan oleh CEO Danantara Rosan Roeslani yang menegaskan tujuan utama pembangunan PSEL bukan semata-mata menghasilkan listrik, melainkan menyelesaikan persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan di berbagai daerah.
“Listrik merupakan nilai tambah. Yang paling penting adalah bagaimana teknologi ini mampu mengurangi dampak terhadap lingkungan, menjaga kesehatan masyarakat, meningkatkan keselamatan, serta memperbaiki tata kelola persampahan,” ujarnya.
Menurutnya, teknologi yang digunakan merupakan teknologi yang telah diterapkan di lebih dari 50 negara dan mampu mengolah sampah baru maupun sampah lama yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.
Sejumlah fasilitas di luar negeri justru dilengkapi taman baca dan ruang rekreasi sehingga menjadi bagian dari ruang publik. “Kita ingin mengubah paradigma bahwa fasilitas pengolahan sampah identik dengan tempat yang kotor dan berbau. Justru fasilitas seperti ini harus menjadi kawasan yang bersih, aman, sekaligus menjadi pusat edukasi masyarakat,” terangnya.
Hal ini membuatnya semakin optimistis dengan pembangunan PSEL Denpasar Raya dapat menyelesaikan persoalan sampah lebih dari target. “Saya meyakini, walaupun targetnya semester pertama 2028, proyek ini bisa selesai pada akhir tahun 2027,” tegasnya.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menilai pembangunan PSEL menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan Bali yang bersih sekaligus memperkuat daya saing pariwisata daerah. Menurutnya, persoalan sampah merupakan salah satu isu yang harus segera dituntaskan agar kualitas lingkungan dan citra Bali sebagai destinasi wisata dunia tetap terjaga.
Rangkaian groundbreaking juga diisi dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) antara pengelola PSEL dan PT PLN (Persero). Perjanjian tersebut menjadi dasar penyerapan listrik hasil pengolahan sampah ke jaringan PLN sekaligus memberikan kepastian operasional proyek dalam jangka panjang.
PSEL Denpasar Raya akan menggunakan teknologi moving grate incinerator dengan kapasitas pengolahan sekitar 1.500 ton sampah per hari, menjadikannya salah satu proyek strategis nasional dalam percepatan transformasi pengelolaan sampah modern di Indonesia. On-MD



