Refleksi Hari Buruh: Menjaga Marwah Wartawan Pancasila sebagai Benang Rajut Bangsa
Era Akal Imitasi (AI) dan Post-Truht

Oleh: I Made Suteja, Wartawan dan Redaktur Mata Dewata
DENPASAR, MataDewata.com | Momentum Hari Buruh tahun 2026 membawa ingatan kita pada sebuah refleksi mendalam tentang pengabdian. Bagi saya, profesi jurnalis/wartawan bukan sekadar soal pekerjaan rutin. Melainkan sebuah perjuangan kemanusiaan.
Di tengah hiruk-pikuk dan gelombang tuntutan kesejahteraan kaum pekerja di masa Akal Imintasi (AI alias Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) dan era Post-Truht, kita sebagai “Buruh Tinta” perlu menengok kembali jati diri. Apakah kita sudah menjadi Wartawan Pancasila yang sejati?
Menjaga marwah profesi, Dewan Pers secara ketat menjadi penjaga gawang melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Melabeli apakah wartawan yang diuji dinyatakan kompeten atau belum.
Kerja panjang dan rekam jejak menempa sosok wartawan memiliki keunggulan fundamental. Terlebih ditempa dari bawah agar benar-benar terbentuk sosok Wartawan Pancasila.
Dewan Pers telah menetapkan standar yang jelas untuk menjaga marwah profesi ini. Namun disadari atau tidak, keunggulan itu terbangun dari bawah agar memahami apa itu lapar di lingkungan kerja sendiri, serta perjuangan untuk melepas lapar bagi belenggu bangsa.
Sudah Seharusnya Wartawan Hadir Menjadi Benang Rajut Keadilan
Wartawan Perjuangan ni hadir membawa napas dan nalar utuh nilai luhur Pancasila dalam setiap goresan penanya. Ia adalah wartawan pejuang yang tidak sekadar mengejar klik atau sensasi. Sebagai benang rajut bangsa, fokus pada keadilan yang lebih luas demi terciptanya keteraturan sosial.
Kembali pada kondisi banjir informasi digital yang sering kali memecah belah, wartawan harus mampu menjadi benang rajut independen agar tak rapuh pada kepentingan kelompok atau golongan. Kita bertugas menyatukan potongan realita yang berserakan, Merangkainya menjadi narasi yang mencerahkan. Menjadi jembatan solusi bagi masyarakat.
Menjalankan Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
secara murni dan konsekuen adalah harga mati. Beriktikad baik dalam setiap peliputan adalah kewajiban moral agar pers tetap menjadi suluh kebenaran, bukan penyebar kegaduhan.
Menjaga Kecerdasan dan Tongkat Estafet Generasi
Seorang jurnalis dituntut memiliki kecerdasan yang terus diperbarui. Isu ekonomi, teknologi AI, hingga dinamika global berkembang setiap detik. Mengapa kita harus terus belajar, melihat, dan mendengar?
Karena tanpa itu, kita akan gagal memberikan konteks yang benar bagi publik. Kita melihat untuk menangkap ketidakadilan yang tersembunyi, dan kita mendengar dengan empati untuk menyuarakan mereka yang terpinggirkan.
Refleksi Hari Buruh menjadi pesan bagi generasi muda buruh tinta pembangun bangsa. Terlebih para sepuh/senior harus memiliki tanggung jawab lebih untuk memberi jalan dan contoh nyata. Tongkat perjuangan yang hakiki pada tujuan harus diteruskan. melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga kokoh secara integritas.
Sebagai penutup, mari kita jadikan profesi ini sebagai ladang pengabdian, bukan sekadar ladang hidup yang banyak diintip “pensiunan, tim sukses hingga tukang gorengan”.
Menjadi jurnalis khususnya di Bali bukan hanya soal menulis berita, tapi menjaga harmoni dan martabat bangsa melalui karya yang cerdas, beretika, dan berwibawa. Salam Berita Dalam Genggaman. Mhr/Hd-MD9



