Batur Caldera Run hingga Tiga Menteri Bakal Meriahkan Peringatan 100 Tahun Rarud Batur

DENPASAR, MataDewata.com | Berbagai agenda olahraga, budaya, dan religi akan mewarnai rangkaian Peringatan 100 Tahun Rarud Batur yang digelar Desa Adat Batur. Salah satu kegiatan utama adalah Batur Caldera Run yang akan diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Rarud Batur, Nengah Santika, mengatakan rangkaian kegiatan diawali dengan Festival Layang-Layang pada 26 Juli, dilanjutkan Turnamen Ceki pada 27–28 Juli, kemudian Batur Caldera Run pada 2 Agustus 2026 dengan titik start di Museum Gunung Api Batur. Hal itu, diungkapkan dalam Konferensi Pers bersama media yang diselenggarakan di Kubu Kopi, Denpasar, Rabu (22/6/2026).

Baca juga :  Ny. Antari Jaya Negara dan Ny. Ayu Kristi Serahkan Bantuan Paket Sayur, Ikan dan Buah di Empat Kecamatan

“Tanggal 2 Agustus pagi start di Museum Gunung Api Batur untuk Batur Caldera Run. Pesertanya terbuka untuk WNI dari seluruh daerah. Sampai sekarang sudah sekitar 350 peserta mendaftar dari target kurang lebih 500 peserta,” ungkapnya.

Pada hari yang sama, panitia juga akan membuka secara resmi Batur Village Festival di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur. Panitia telah mengundang sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah untuk hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut.

Baca juga :  Batur Village Festival Angkat Edukasi, Budaya, dan Pelestarian Kaldera Batur

“Undangannya kami sampai ke tingkat menteri. Ada tiga menteri yang kami undang, yaitu Menteri Agama, Menteri Pariwisata, dan Menteri Kebudayaan. Konfirmasi terakhir, dari Kementerian Agama sudah menyatakan akan hadir, sementara dua kementerian lainnya masih kami tunggu,” ujarnya.

Selain para menteri, panitia juga mengundang Gubernur Bali, Bupati Bangli, Bupati Badung, serta Wali Kota Denpasar untuk menghadiri pembukaan festival.

Sementara itu, puncak peringatan akan berlangsung pada 3 Agustus 2026 melalui kegiatan napak tilas Rarud Batur, yang menggambarkan perjalanan masyarakat Batur meninggalkan permukiman lama akibat letusan Gunung Batur pada 1926.

Baca juga :  Persembahyangan Saraswati Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan

“Di sana akan ada visualisasi bagaimana dulu leluhur kami tinggal di kawasan Batur lama, kemudian terjadi letusan Gunung Batur sehingga masyarakat harus rarud atau berpindah ke tempat yang sekarang,” jelas Santika.

Rangkaian peringatan kemudian dilanjutkan dengan bedah buku, festival seni dan budaya, serta ditutup dengan Parade Budaya pada 8 Agustus 2026 sebagai penutup peringatan satu abad Rarud Batur. On-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button