100 Tahun Rarud Batur, Desa Adat Batur Kenang Perjuangan Leluhur Bangkit dari Erupsi Gunung Batur

DENPASAR, MataDewata.com | Desa Adat Batur memperingati 100 Tahun Rarud Batur pada 2026 sebagai momentum mengenang perjuangan leluhur yang harus meninggalkan kampung halaman akibat letusan dahsyat Gunung Batur pada 1926. Peringatan satu abad tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga sejarah, budaya, dan semangat gotong royong yang diwariskan kepada generasi penerus. Peringatan 100 Tahun Rarud Batur dijadwalkan mulai berlangsung dari 26 Juli – 8 Agustus 2026.

Jro Penyarikan Duwuran Batur menjelaskan, erupsi Gunung Batur yang berlangsung pada Agustus hingga September 1926 menghancurkan pemukiman masyarakat di kaki Gunung Batur sebelah barat daya. Kawasan tersebut kini menjadi bagian dari kawasan konservasi yang berada di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Hal itu, disampaikan saat jumpa pers bersama awak media yang dilaksanakan di Kubu Kopi, Denpasar, Rabu (22/7/2026).

Baca juga :  Tingkatkan Pelayanan Kesehatan, Bupati Tabanan Resmikan Gedung Aruna RSU Wisma Prasanthi

“Tahun 2026 ini kami memperingati sebuah peristiwa dan momentum yang sangat bersejarah. Seratus tahun lalu, tepatnya pada Agustus sampai September 1926, Gunung Batur mengalami erupsi yang sangat dahsyat hingga menghancurkan permukiman kami yang dulu berada di kaki Gunung Batur sebelah barat daya,” ujarnya.

Peringatan 100 Tahun Rarud Batur bukan sekedar mengenang bencana, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap perjuangan leluhur yang mampu bangkit dan membangun kembali kehidupan setelah mengungsi akibat letusan gunung.

“Kami memperingati 100 tahun Rarud Batur sesungguhnya sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat solidaritas dan gotong royong leluhur kami. Tanpa bakti kepada Ida Bhatara dan tanpa solidaritas antar masyarakat desa adat, mungkin peradaban kami sudah berhenti seratus tahun yang lalu,” jelasnya.

Baca juga :  Walikota Jaya Negara Hadiri Pemelaspasan Wantilan Pura Dalem Desa Adat Peninjoan

Diketahui setelah bencana terjadi, masyarakat Batur sempat mengungsi selama dua tahun di Desa Bayung Gede sebelum akhirnya menempati kawasan permukiman yang kini menjadi Desa Batur. Dalam proses evakuasi tersebut, berbagai pratima, arca suci, prasasti, hingga bangunan sakral berhasil diselamatkan.

Sementara itu, Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Rarud Batur, Nengah Santika, mengatakan rangkaian peringatan telah dipersiapkan sejak 2025. Seluruh kegiatan difokuskan untuk mengingat kembali perjalanan sejarah masyarakat Batur serta memperkenalkan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda.

“Penugasan kami sudah berlangsung sejak tahun 2025. Tahun 2026 ini kami lebih kepada mengenang apa yang terjadi seratus tahun yang lalu oleh leluhur kami saat masih berada di bawah,” ujar Santika.

Sebagai bagian dari penanda sejarah, panitia juga membangun sebuah Padmasana di kawasan Batur lama sebagai simbol keberadaan permukiman leluhur sebelum terjadinya perpindahan akibat erupsi Gunung Batur.

Baca juga :  Pemprov Bali Raih Predikat Terbaik Stranas PK Tahun 2020

Puncak peringatan akan dilaksanakan pada 3 Agustus 2026 melalui kegiatan napak tilas dari kawasan Batur lama menuju Desa Batur saat ini. Kegiatan tersebut akan menghadirkan visualisasi perjalanan masyarakat saat meninggalkan kampung halaman akibat bencana alam.

“Di sana akan ada visualisasi bagaimana dulu leluhur kami tinggal di kawasan Batur lama, kemudian terjadi letusan Gunung Batur sehingga masyarakat harus rarud atau berpindah ke tempat yang sekarang,” ujarnya.

Melalui peringatan satu abad Rarud Batur, Desa Adat Batur menjadi pengingat bagi masyarakat, khususnya generasi muda terkait sejarah perjuangan leluhur sekaligus menjaga kawasan Kaldera Batur sebagai warisan budaya dan kawasan suci yang memiliki nilai sejarah tinggi. On-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button