Menengok 100 Tahun Pariwisata Bali: Dari Jejak Sejarah hingga Misi Menjaga Identitas

DENPASAR, MataDewata.com | Menengok 100 Tahun perjalanan panjang pariwisata Bali yang kini menembus usia satu abad menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi. Dari jejak sejarah hingga misi untuk menjaga identitas Bali di tengah perkembangan zaman yang terus berkembang pesat dan masif.

Sebanyak 20 peneliti bersama lima guru besar di Bali berkumpul merumuskan acuan tata kelola pariwisata Pulau Dewata agar tetap lestari dan berdampak nyata bagi masyarakat. Rangkaian riset yang diawali dari diskusi bertema Jnana Yatra (perjalanan kedalaman pengetahuan) ini menegaskan bahwa peringatan 100 tahun pariwisata Bali tidak boleh berhenti pada perayaan seremonial semata.

Untuk memperkaya sumber dan referensi yang relevan dengan penelitian yang dilakukan, para peneliti melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dengan menghadirkan para Narasumber yang pakar dan ahli dalam bidang pariwisata. FGD dilaksanakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Rabu (16/9/2026).

Baca juga :  Pangurip Merdeka Belajar ISI Denpasar Diapresiasi Prof. Nizam

Ketua Panitia FGD, Prof Komang Sudirga, Guru besar Bidang Kajian dan Seni Karawitan di Institusi Seni Indonesia Denpasar, menjelaskan makna dibalik tema yang dipilih sangat berkaitan dengan historis dan perkembangan pariwisata di Bali.

“Tema Jnana Yatra ini tidak hanya sekedar kenyataan kondisi empiris, tapi juga tentang bagaimana pengetahuan dan kebijaksanaan menuntun kita melakukan refleksi. Harapannya, 100 tahun berikutnya kita bisa melakukan tata kelola kepariwisataan Bali yang lebih memberikan dampak kesejahteraan kepada masyarakat,” ujar Prof. Komang Sudirga.

Sejarah pariwisata Bali dipetakan dari masa perintisan, pembentukan, hingga kebangkitan. Berbagai tonggak bersejarah kembali diulas, mulai dari kedatangan H.N. van Kol pada 1904, masuknya seniman Walter Spies dan Rudolf Bonnet di Ubud era 1920-an, kunjungan tokoh dunia seperti Rabindranath Tagore dan Charlie Chaplin, hingga hadirnya jaringan pelayaran perkapalan KPM dan pembangunan Bali Hotel.

Baca juga :  Sekda Dewa Indra Hadiri Peresmian Kantor Konjen Timor Leste

Menurutnya, di balik sejarah panjang tersebut, pariwisata Bali kini dihadapkan pada berbagai dinamika dan tantangan lingkungan yang cukup mengkhawatirkan.

“Dampak dari fenomena kepariwisataan ini banyak hal, mulai dari lingkungan, alih fungsi lahan, eksploitasi air bawah tanah, masalah sampah, hingga dinamika perilaku wisatawan asing. Ini perlu kolaborasi, koordinasi, dan konsistensi dalam menjalankan agenda kedepan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pengikisan identitas budaya, seperti mulai diabaikannya arsitektur khas Bali dan mulai bergeser dengan bangunan-bangunan modern yang tidak identik dengan arsitektur Bali.

“Soal resiliensi atau pertahanan budaya, alam, dan manusia Bali, itu penting. Termasuk identitas. Dalam arsitektur misalnya, dulu sangat ketat harus berciri khas Bali Style. Sekarang banyak yang tidak menghiraukan lagi. Padahal ini penting, supaya begitu tamu turun di bandara, mereka langsung tahu ‘Oh, ini loh identitas Balinya,” kata Prof. Komang Sudirga.

Baca juga :  Segera Laksanakan Musprov, INKINDO Bali Siap Kawal Visi Gubernur Bali

Nantinya, seluruh hasil kajian termasuk FGD dirangkum dalam satu buku komprehensif terkait perjalanan 100 tahun pariwisata Bali dan rekomendasi kebijakan. Menariknya, riset ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Brida Provinsi Bali, Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata, akademisi, hingga tokoh puri dan masyarakat setempat.

“Hasil diskusi ini menjadi masukan bagi kami tim peneliti. Output besarnya nanti berupa buku hasil penelitian dan artikel ilmiah yang diharapkan bisa menjadi acuan bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan pariwisata Bali ke depan,” tutupnya. On-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button