Trem Bandara-Canggu Ditargetkan Beroperasi 2028

BADUNG, MataDewata.com | Pemerintah Kabupaten Badung menyambut rencana pembangunan trem dari Bandara menuju Canggu sebagai salah satu solusi mengatasi kemacetan di kawasan pariwisata. Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa menyebut pembangunan ditargetkan mulai groundbreaking pada 2026 dan beroperasi pada 2028.

Hingga saat ini, kepadatan kendaraan menuju Canggu saat ini sudah tidak sebanding dengan kapasitas ruas jalan yang tersedia. Kondisi ini menjadikan beberapa titik di kawasan Kuta hingga Canggung terus terjadi kemacetan.

Baca juga :  Lobi Pusat, Bupati Jembrana Kawal Langsung Anggaran Prioritas di Kemendagri

“Kalau kita lihat dibandingkan dengan ruas jalan yang kita miliki dengan jumlah kendaraan, memang sudah tidak sebanding lagi,” ujar Adi Arnawa kepada awak media saat memberikan keterangan terkait Trem Bandara – Canggu, Kamis (3/9/2026).

Permasalahan Kemacetan di Badung bukan lagi masalah Badung, Bali tapi juga pemerintah pusat. Karena itu, pemerintah pusat mengambil kebijakan pembangunan jalur trem dari Bandara Internasional Ngurah Rai menuju Canggu sebagai solusi untuk mengatasi kemacetan yang terus meningkat.

Baca juga :  Bupati Badung Serahkan LKPD Unaudited Tahun 2023 kepada BPK RI

“Pemerintah pusat mengambil kebijakan bahwa untuk mengatasi kemacetan akses dari bandara menuju Canggu ini, dibuatlah jalur baru dengan memanfaatkan trem nanti,” ujarnya.

Berdasarkan timeline yang disampaikan Direktur KAI, groundbreaking ditargetkan mulai 2026, bila pembangunannya lancar dan tidak terjadi masalah maka trem akan ditargetkan running pada 2028.

“Mudah-mudahan nanti dengan pembangunan trem ini otomatis meningkatkan kapasitas infrastruktur kita, otomatis akan berdampak kepada tingkat daya saing kepariwisataan kita akan semakin meningkat,” ucapnya.

Baca juga :  Pemkab Badung Raih Opini WTP 10 Kali Berturut-turut

Selain trem, Pemkab Badung juga menyiapkan pembangunan jalan baru sepanjang sekitar 19 kilometer, termasuk tunnel sekitar 2,4 kilometer. Saat ini, masih dikaji untuk penerapan Electronic Road Pricing (ERP) sebagai salah satu upaya menjaga lahan pertanian dari alih fungsi lahan. On-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button