Mengenal Wariga Bali, Sistem Pengetahuan Leluhur untuk Membaca Karakter dan Waktu Serta Panduan Menentukan Hari Baik

Berdasarkan Kearifan Kosmis Leluhur

DENPASAR, MataDewata.com | Bagi masyarakat Hindu di Bali, waktu bukanlah sekadar angka penunjuk jam atau tanggal di kalender. Waktu memiliki nilai sakral, energi, dan karakter tersendiri. Sistem pengetahuan tradisional yang mempelajari ilmu perhitungan waktu, penanggalan, hingga penentuan hari baik (dewasa ayu) dan hari buruk (dewasa ala) ini dikenal sebagai Wariga Bali.

Secara etimologi, kata Wariga berasal dari kata wara yang berarti hari atau mulia, serta ika atau iga yang berarti itu atau jalan. Secara filosofis, Wariga diartikan sebagai “jalan menuju hari yang mulia atau sempurna.”

Sistem penanggalan Wariga Bali tergolong sangat unik dan kompleks karena memadukan sistem matahari (Solar system), sistem bulan (Lunar system), serta perhitungan lokal non-astronomis yang disebut Tika. Komponen utamanya meliputi:

Wewaran: Siklus hari yang berjalan paralel, mulai dari Eka Wara hingga Dasa Wara. Yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah Triwara, Pancawara (pasaran), dan Saptawara (tujuh hari dalam seminggu).

Baca juga :  Gubernur Koster Saksikan Parade Gong Kebyar Wanita dan Drama Gong Tradisi di PKB 2025

Wuku: Siklus 30 pekan dalam satu lingkaran penanggalan Pawukon, di mana masing-masing wuku berumur 7 hari (total 210 hari dalam satu siklus otonan). Penanggal dan Panglong: Perhitungan berdasarkan fase bulan (paruh terang menuju purnama dan paruh gelap menuju tilem).

Sasih: Sistem 12 bulan dalam satu tahun Saka Bali. Dauh (Dawuh): Pembagian jam dalam sehari berdasarkan perputaran bumi.

Hingga saat ini, ajaran wariga yang termuat dalam berbagai naskah lontar kuno, seperti Lontar Sundari Gading atau Wariga Gemet, masih sangat relevan dan aktif dipraktikkan dalam kehidupan modern. Dalam praktiknya, Wariga Bali memiliki fungsi yang sangat esensial bagi masyarakat, di antaranya:

Menentukan Padewasan: Menghitung hari baik untuk melaksanakan upacara keagamaan (Panca Yadnya), membangun rumah, membuka usaha, hingga membeli barang berharga.

Baca juga :  Pemkab Klungkung Rancang Proyek KPBU APJ dan Preservasi Jalan Target 2028

Aktivitas Agraris: Menjadi pedoman tradisional bagi para petani untuk menentukan waktu terbaik mulai bercocok tanam atau memanen hasil bumi.

Wariga Tenung (Karakter Kelahiran): Membaca karakter asli, potensi diri, bakat, kelebihan, hingga tantangan hidup seseorang berdasarkan waktu kelahirannya (weton atau otonan).

Dalam tradisi Wariga Bali, membaca karakter seseorang jauh lebih mendalam daripada sekadar melihat hari lahir Masehi. Sistem ini memadukan tiga pilar energi kosmis utama: Saptawara (energi jiwa/roh), Pancawara (energi fisik/tubuh), dan Wuku (energi nasib/jalan hidup) yang kemudian mengungkap Lintang (bintang pelindung) serta watak seseorang.

Berikut adalah gambaran umum karakter dasar berdasarkan hari (Saptawara):

Redite (Minggu): Memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, berwibawa, dan ambisius.

Soma (Senin): Cenderung tenang, penyayang, serta sangat peka terhadap perasaan orang lain.

Anggara (Selasa): Penuh energi, berani, menyukai tantangan, namun emosinya cenderung cepat meluap-luap.

Buda (Rabu): Komunikatif, cerdas, pandai bergaul, dan berwawasan luas.

Baca juga :  Gubernur Koster Resmi Buka PKB XLVIII, Diikuti 23 Ribu Seniman dan Ratusan Sekaa, IKM/UMKM Digratiskan

Wraspati (Kamis): Bijaksana, suka mengayomi, religius, serta memiliki prinsip yang kuat.

Sukra (Jumat): Memiliki jiwa seni yang tinggi, menyukai keindahan, romantis, dan populer.

Saniscara (Sabtu): Pekerja keras, memiliki tanggung jawab besar, mandiri, dan disiplin.

Puncak dari pembacaan karakter dalam Wariga Bali terletak pada Wuku kelahiran seseorang yang berjumlah total 30 wuku. Setiap wuku berada di bawah naungan dewa dan lintang tertentu yang memberikan warna tersendiri pada perjalanan hidup manusia, mulai dari Wuku Sinta yang dinaungi Dewa Yamadipati hingga Wuku Watugunung di bawah naungan Dewa Anantaboga.

Dengan memadukan kearifan lokal, ilmu perbintangan tradisional, dan matematika warisan leluhur, Wariga Bali membuktikan bahwa waktu bukan sekadar penanda lewatnya detik, melainkan peta panduan untuk menjalani hidup secara selaras, seimbang, dan harmonis dengan alam semesta. Drm-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button