Belasan Barong Sai Unjuk Aksi Saat Piodalan Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio Gianyar
Wujud Nyata Akulturasi Budaya Hindu dan Konghucu

GIANYAR, MataDewata.com | Tradisi akulturasi budaya dan agama antara Konghucu dengan Hindu menyatu dalam harmoni dan kebersamaan saat piodalan di Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio (Konco) Gianyar, Sabtu (24/10/2026). Ketua Pemaksan Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio, Nyoman Aryawan, Senin (26/10/2026), menjelaskan bahwa sejarah berdirinya tempat ibadah bagi warga Tionghoa di Gianyar ini telah ada sejak ratusan tahun silam.
Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, alkisah saat Ida Bhatara yang berstana di Pura Ulun Danu Batur melakukan perjalanan suci ke Pantai Masceti, Blahbatuh, Gianyar, rombongan beliau sempat singgah di tempat yang kini menjadi lokasi Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio. Uniknya, saat singgah terjadi hujan hanya di area pesinggahan tersebut. Dari peristiwa itu, dibangunlah sebuah pengingat atau turus lumbung yang lama-kelamaan berkembang menjadi pura dan konco oleh warga keturunan Tionghoa di Gianyar.
Keberadaan Cong Poo Kong Bio dan Pura Sri Sedana yang beralamat di Jalan By Pass Ngurah Rai/Jalan Dipta No. 14A ini erat kaitannya dengan Ratu Subandar di Pura Ulun Danu Batur dalam mitologi Hindu. Selain itu, leluhur warga keturunan Tionghoa zaman dulu banyak yang berprofesi sebagai pedagang dan ahli ekonomi, sehingga mendapat tempat yang dekat dengan Puri Gianyar pada masa lalu.

Dalam pelaksanaan piodalan dan upakara, perayaan ini secara konsisten memadukan tradisi Tionghoa dan Hindu. Selain tradisi Konghucu yang menggunakan lilin, dupa, dan persembahan khas, prosesi juga diiringi dengan banten selayaknya upacara piodalan di pura pada umumnya. Tahun ini, piodalan jatuh pada 24 Oktober 2026 atau bertepatan dengan tanggal 15 bulan 9 Tahun Imlek / Purnamaning Kalima dalam sistem kalender Bali.
Saat puncak piodalan, dilangsungkan pula pementasan tarian sakral seperti Rejang Dewa, Baris Gede, Rejang Renteng, Rejang Sari, Tari Topeng, hingga Sidakarya, hasil kolaborasi apik antara pemaksan konco dengan warga Lingkungan Sangging. Adapun para dewa yang dipuja dan berstana di konco ini antara lain Desa Cong Poo Kong (Dewa Perdagangan), Dewa Kwan Kong (Dewa Keadilan), Dewa Tan Hu Sin Jin (Dewa Arsitek), dan Dewa Cai Sen Ya (Dewa Uang).
Nyoman Aryawan mengungkapkan bahwa jumlah pemaksan dari konco ini tercatat sekitar 120 Kepala Keluarga (KK), yang sebagian besar merupakan warga Tionghoa berdomisili di Kecamatan Gianyar. “Banyak juga yang dari luar Gianyar ikut bersembahyang selama piodalan berlangsung. Tempat ibadah ini bukan hanya milik umat Konghucu, tetapi juga masyarakat yang berkeyakinan untuk melakukan persembahyangan di sini,” ujar Aryawan.
Rangkaian piodalan yang berlangsung selama empat hari ini setiap malamnya dimeriahkan dengan pagelaran seni budaya, mulai dari tarian tradisional Bali seperti Tari Manukrawa dari SDN 3 Gianyar dan Tari Puspanjali oleh warga pemaksan, hingga atraksi spektakuler belasan Barong Sai. “Untuk Barong Sai, tampil belasan Barong Sai dari berbagai perkumpulan yang ada di Denpasar, Gianyar, dan Klungkung,” pungkasnya. Drm-MD



