Mangrove diprediksikan Jadi Bisnis Ekonomi Masa Depan Indonesia

DENPASAR, MataDewata.com | Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Muhammad Jumhur Hidayat melaksanakan penanaman pohon mangrove secara serentak di beberapa wilayah di Indonesia. Mangrove memiliki peluang menjadi bisnis Ekonomi Masa Depan untuk Indonesia. Menurutnya pemulihan ekosistem mangrove ke depan hanya mengandalkan anggaran pemerintah, tetapi juga dapat dikembangkan melalui mekanisme pasar karbon yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Jumhur penanaman mangrove dapat dikolaborasikan dengan kegiatan bisnis berbasis perdagangan karbon internasional. Karbon yang dihasilkan dari kawasan mangrove dapat diperdagangkan di pasar karbon sehingga menciptakan sumber pendanaan baru untuk mendukung pemulihan lingkungan.

“Ke depan, penanaman mangrove ini tidak hanya mengandalkan APBN atau APBD, tetapi bisa dikolaborasikan dengan kegiatan bisnis. Karbon yang dihasilkan dapat dipasarkan di pasar karbon internasional dan menghasilkan dana yang cukup besar,” ujar Hanif saat memberikan sambutan dalam acara Peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026, Wantilan, Taman Hutan Rakyat Ngurah Rai, Provinsi Bali, Minggu (26/7/2026).
Berdasarkan perhitungan pemerintah, pembangunan Indonesia melalui pemulihan lingkungan yang memanfaatkan mekanisme pasar karbon merupakan kegiatan yang menguntungkan. Bahkan, sejumlah investor berskala besar telah menyatakan minat untuk berinvestasi dalam penanaman mangrove di Indonesia.
“Saya bersama Menteri Kelautan dan Perikanan serta Menteri Kehutanan sudah didatangi investor-investor besar. Mereka ingin menanam ratusan ribu mangrove. Ini akan menguntungkan investor, tetapi sekaligus menciptakan kegiatan ekonomi dan lapangan kerja hijau (green jobs),” ujarnya.
Lebih jauh, Jumhur mengatakan masyarakat yang terlibat dalam penanaman dan pemeliharaan mangrove juga berpeluang memperoleh pendapatan tambahan melalui skema bagi hasil ketika kredit karbon diperdagangkan.
“Selama tiga sampai empat tahun mereka mendapatkan upah untuk memelihara mangrove. Ketika karbon dijual di pasar karbon, masyarakat juga akan mendapatkan benefit sharing yang nilainya bisa lebih besar dibandingkan keuntungan investor,” kata Hanif.
Pemerintah saat ini masih menghitung besaran kontribusi sektor pemulihan lingkungan berbasis pasar karbon terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan ekonomi hijau karena didukung wilayah yang luas, kekayaan hutan, pesisir, dan laut yang menjadi modal utama dalam perdagangan karbon.
“Indonesia memiliki potensi ekonomi yang luar biasa. Ini adalah potensi ekonomi yang bukan konvensional. Karena itu mari kita menjaga lingkungan sekaligus memanfaatkan keuntungan geografis kita untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutupnya. On-MD



