Tips Menulis: Pahami Perbedaan Penulisan Awalan dan Kata Depan “di-” serta “ke-“

DENPASAR, MataDewata.com | Ketepatan berbahasa menjadi salah satu kunci utama dalam dunia jurnalistik dan penulisan karya tulis. Langkah ini penting agar pesan dapat tersampaikan dengan baik kepada pembaca. Namun, salah satu kesalahan yang paling sering muncul di lapangan adalah penulisan kata depan dan awalan, khususnya untuk kata “di-” dan “ke-“.
Banyak penulis pemula yang masih keliru membedakan kapan kedua kata tersebut harus disambung atau dipisah. Oleh karena itu, panduan praktis ini hadir untuk memastikan tulisan Anda tetap baku sesuai kaidah bahasa Indonesia.
Secara aturan, kata depan “di-” wajib tertulis terpisah jika menyatakan arah atau tempat. Hal ini berfungsi sebagai jawaban atas pertanyaan “Di mana?”. Sebagai contoh, penulisan yang benar adalah di atas, di bawah, di dalam, di depan, di luar, di rumah, di samping, di sana, di sini, dan di tengah.
Namun, Anda perlu berhati-hati dengan kata-kata yang memiliki arti berbeda saat penulisan terpisah atau disambung. Hal ini berlaku pada kata dasar yang berfungsi ganda sebagai kata benda penunjuk tempat sekaligus kata kerja:
Dibalik: Bentuk pasif dari membalik.
Di balik: Menyatakan posisi di bagian sebaliknya.
Dipenjara: Bentuk pasif dari memenjarakan atau memasukkan ke penjara.
Di penjara: Menyatakan keberadaan di dalam penjara.
Disalib: Bentuk pasif dari tindakan menyalib.
Di salib: Menyatakan posisi berada di atas salib.
Sama halnya dengan “di-“, kata depan “ke-” juga wajib tertulis terpisah jika menyatakan arah. Aturan ini berlaku sebagai jawaban atas pertanyaan “Ke mana?”. Contoh penulisan yang tepat meliputi ke atas, ke bawah, ke dalam, ke depan, ke samping, dan ke sana.
Penting untuk diingat, penulisan “ke-” yang dibuat serangkai atau disambung memiliki aturan khusus. Pola ini hanya berlaku untuk kata-kata tertentu seperti kepada, kemari, dan keluar. Sebagai catatan, kata “keluar” berfungsi sebagai lawan kata “masuk”, sedangkan “ke luar” menjadi lawan kata “ke dalam”.
Selain itu, bentuk serangkai juga berlaku untuk kata kemeja sebagai pakaian. Contoh lain adalah kata kelapangan yang berasal dari kata dasar lapang, sehingga maknanya berbeda jauh dengan frasa “ke lapangan”.
Perbedaan mendasar lainnya juga terdapat pada penunjuk bilangan di dalam kalimat. Anda wajib menggunakan awalan “ke-” untuk bilangan tingkat atau ordinal, seperti pada kalimat kedua anak ini atau kelima buku itu. Sementara itu, gunakan kata depan “ke” untuk bilangan kardinal yang menggunakan tanda hubung, seperti anak ke-2 atau buku ke-5.
Dengan memahami aturan dasar ini, penulisan berita maupun artikel tentu akan menjadi lebih profesional. Artikel yang taat asas akan terlihat jauh lebih kredibel di mata publik. Ketepatan dalam menggunakan spasi bukan sekadar masalah teknis, melainkan bentuk penghormatan tertinggi penulis terhadap pembaca setia. MD-9



