Kanwil DJP Bali Serahkan Tersangka Pidana Pajak Berinisial NS ke Kejari Denpasar
Negara Rugi Rp3,5 Miliar

DENPASAR, MataDewata.com | Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Bali menyerahkan tersangka berinisial NS beserta barang bukti kepada Kejaksaan Negeri Denpasar dalam tahap penanganan perkara dugaan tindak pidana di bidang perpajakan yang melibatkan PT CPJB, Senin (21/9/2026).
Penyerahan tersangka dan barang bukti (P-22) kepada kejaksaan merupakan bagian dari proses penegakan hukum setelah tahapan penyidikan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di lingkungan DJP selesai, dan berkas perkara dinyatakan lengkap oleh penuntut umum. Dengan dilaksanakannya P-22, proses penanganan perkara selanjutnya berada dalam kewenangan Kejaksaan Negeri Denpasar.
Kepala Kanwil DJP Bali, Darmawan, menyampaikan bahwa NS merupakan Direktur PT CPJB. Perkara tersebut berkaitan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam kurun waktu masa pajak Januari 2021 sampai dengan masa pajak Desember 2023.
Dalam perkara ini, NS diduga dengan sengaja telah menggunakan faktur pajak yang tidak berdasarkan transaksi sebenarnya, yaitu dengan cara mengkreditkan faktur pajak a quo dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Selain itu, NS juga diduga menyampaikan SPT Masa PPN yang isinya tidak benar, yaitu dengan tidak melaporkan seluruh penyerahan atau penjualan yang berasal dari kegiatan usaha PT CPJB.
Perbuatan tersebut diduga dilakukan untuk mengurangi jumlah PPN yang seharusnya disetorkan ke kas negara, sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan negara sekurang-kurangnya sebesar Rp3,5 miliar.
Atas perbuatannya, NS diduga telah melakukan tindak pidana perpajakan dengan melanggar Pasal 39A huruf a dan Pasal 39 ayat (1) huruf d Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan beserta perubahannya. Penanganan perkara selanjutnya resmi menjadi kewenangan Kejaksaan Negeri Denpasar.
Darmawan menjelaskan bahwa penegakan hukum perpajakan merupakan bagian dari upaya DJP untuk menjaga kepatuhan sekaligus menciptakan rasa keadilan bagi seluruh Wajib Pajak. Dalam setiap prosesnya, DJP tetap berpedoman pada peraturan perundang-undangan serta menghormati hak-hak pihak yang berperkara.
“Direktorat Jenderal Pajak selalu mengedepankan asas ultimum remedium, yaitu menempatkan penegakan hukum pidana sebagai upaya terakhir dalam penegakan hukum perpajakan,” ujarnya.
“Kami mengajak seluruh Wajib Pajak untuk bersama-sama membangun kepatuhan perpajakan dengan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan secara benar, lengkap, dan sesuai ketentuan yang berlaku. Kepatuhan tersebut tidak hanya menjadi bentuk tanggung jawab kepada negara, tetapi juga merupakan bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan sistem perpajakan yang adil agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat,” tutup Darmawan. Pj-MD



