Hampir 39 Tahun Jadi Pengusaha, Handy Saputra Tetap Melukis dan Menjaga Kreativitas Seninya

DENPASAR, MataDewata.com | Kesibukan menjalankan usaha di bidang logistik selama hampir 39 tahun tidak membuat Handy Saputra meninggalkan dunia seni. Di tengah aktivitas bisnisnya, ia tetap meluangkan waktu untuk melukis sebagai bagian dari perjalanan kreatif sekaligus ruang untuk melepaskan diri dari tekanan pekerjaan.

Perjalanan berkesenian Handy kembali ditampilkan melalui pameran seni rupa ketiganya yang menghadirkan 25 karya, terdiri dari 23 karya seni lukis dan dua karya seni patung. Pameran berlangsung mulai 6 November hingga 30 Desember 2026 di Santrian Art Gallery, Jalan Danau Tamblingan No. 47, Sanur, Denpasar. Pembukaan pameran digelar pada Jumat (6/11/2026).

Pameran kali ini menandai perjalanan ketiga Handy dalam memperkenalkan karya-karya seni rupanya kepada publik. “Ini pameran saya yang ketiga, ya. Jadi pameran pertama itu 2020 di Rumah Sanur, 2025 di Sika Gallery, dan ini yang ketiga nih,” ujar Handy.

Baca juga :  Bupati Adi Arnawa Upasaksi Karya Padudusan Agung di Sigaran, Mekar Bhuwana

Satu hal yang menarik dari karya Handy yakni figur mistis, bentuk deformasi, hingga sosok binatang dengan karakter tak lazim menjadi ciri yang mewarnai lukisan Handy. Perpaduan-perpaduan ini menghadirkan ekspresi visual yang beragam, mulai dari kesan jenaka hingga menyeramkan.

“Mengenai figurnya, tadi saya bilang beranjaknya, perjalanannya masih dari dilihat dari lukisan saya itu, lebih banyak menggunakan ada figur-figur yang istilahnya mistis ya, ada yang bentuk-bentuk yang deformatif ya, binatang-binatang yang yang aneh-aneh, lucu cenderung lucu atau seram ya,” ujarnya.

Kebebasan berekspresi menjadi bagian penting dari cara Handy membangun karya. Ia tidak membatasi imajinasinya melalui rancangan tertentu, melainkan mengikuti ide yang muncul saat mulai melukis.
“Saya dalam berkarya itu tidak punya satu konsep yang jelas ya. Ya, biasanya kalau sudah mulai itu dari kanvas kosong,” kata Handy.

Baca juga :  Jajaran Pemkot Denpasar Laksanakan Bhakti Penganyar di Pura Agung Penataran Rinjani Lombok Utara

Ia menambahkan “Saya berpikir, ‘Oh, tadi saya melihat apa? Apa yang ingin saya gambarkan hari ini?’ Oh, gambar kuda, ya sudah ada itu, saya mau taruh apa ya? Figur-figur orang, figur-figur topeng-topeng, totem, saya masukkan itu. Spontan, ya,” tambahnya.

Menariknya, Handy menjalani dua dunia yang berbeda secara bersamaan. Ia tetap aktif berkarya sebagai pelukis, sembari mempertahankan kiprahnya di sektor usaha yang telah digeluti selama puluhan tahun. “Jadi saking intensnya mungkin susah orang bedain ini seniman atau wirausaha? Yang penting, kesenian itu. Saya pengusaha di bidang logistik ya, kurang lebih hampir 39 tahun,” ucapnya.

Bagi Handy, melukis bukan sekadar aktivitas untuk menghasilkan karya. Seni menjadi ruang untuk melepaskan diri dari tekanan pekerjaan sekaligus menjaga kepekaan terhadap kehidupan. “Di samping untuk terapi ya, menghindari stres. Kalau melukis masuk ke suasana baru, ya, bisa lepas. Tapi itu juga yang paling menyasarkan, manfaatnya kita itu merasa bahwa kemanusiaan kita dari segi humaniora kita kan jadi terkikis,” ucapnya.

Baca juga :  Bupati Klungkung Pimpin Akselerasi Posyandu 6 SPM dan Tinjau Pembangunan di Nusa Penida

Ia memandang dunia usaha perlu diimbangi dengan sensitivitas dan jiwa berkesenian agar seseorang tidak hanya terjebak pada orientasi keuntungan. “Jadi bagi saya penting bahwa bagi seorang pengusaha itu punya jiwa berkesenian. Bayangkan ya kalau pengusaha tidak mempunyai sisi sensitivitas itu sebenarnya mungkin hanya pikir cuan-cuan doang ya, cuan profit-profit doang ya,” tandasnya.

Melalui pameran ketiganya, Handy kembali memperlihatkan bahwa dunia seni tetap memiliki tempat penting di tengah perjalanan panjangnya sebagai pengusaha. Spontanitas dalam berkarya menjadi ciri tersendiri, sekaligus ruang baginya untuk terus berekspresi dan menjaga sensitivitas sebagai manusia. On-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button