Handy Saputra Gelar Pameran Seni Rupa Ketiga, Hadirkan Figur Mistis hingga Refleksi Budaya Bali

DENPASAR, MataDewata.com | Seniman rupa Handy Saputra kembali menghadirkan karya-karya terbarunya melalui pameran seni rupa ketiga dengan menampilkan 25 Karya, yang terdiri dari 23 Seni Lukis dan 2 Seni Patung yang akan digelar dari tanggal 6 November hingga 30 Desember 2026 di Santrian Art Gallery, Jalan Danau Tamblingan No.47 Sanur, Denpasar.
Pameran ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Handy dalam mengeksplorasi dunia seni rupa. Sebelumnya, ia menggelar pameran pada 2020 di Rumah Sanur dan 2025 di Sika Gallery. Pameran kali ini menjadi ruang bagi Handy untuk kembali memperlihatkan perkembangan karakter visual serta proses kreatif yang selama ini dijalani.
“Ini pameran saya yang ketiga, ya. Jadi pameran pertama itu 2020 di Rumah Sanur, 2025 di Sika Gallery, dan ini yang ketiga nih,” ujar Handy, Jumat (6/11/2026).
Handy menghadirkan figur-figur yang memiliki kesan mistis, bentuk deformasi, hingga sosok binatang dengan karakter yang tidak lazim dalam karya-karyanya. Figur-figur tersebut tampil dengan ekspresi beragam, mulai dari kesan jenaka hingga menyeramkan.
“Mengenai figurnya, tadi saya bilang beranjaknya, perjalanannya masih dari dilihat dari lukisan saya itu, lebih banyak menggunakan ada figur-figur yang istilahnya mistis, ada yang bentuk-bentuk yang deformatif, binatang-binatang yang aneh-aneh, lucu cenderung lucu atau seram ya,” ujarnya.
Menariknya, Handy mengaku tidak selalu memulai proses berkarya dengan konsep yang telah ditentukan. Ide justru berkembang secara spontan ketika ia berhadapan dengan kanvas kosong. Apa yang dilihat atau terlintas dalam pikirannya kemudian menjadi pemantik untuk membangun komposisi lukisan.
“Saya dalam berkarya itu tidak punya satu konsep yang jelas ya. Ya, biasanya kalau sudah mulai itu dari kanvas kosong, saya berpikir, ‘Oh, tadi saya melihat apa? Apa yang ingin saya gambarkan hari ini?’ Oh, gambar kuda, ya sudah ada itu, saya mau taruh apa ya? Figur-figur orang, figur-figur topeng-topeng, totem, saya masukkan itu. Spontan ya.
Ia menerangkan bahwa di luar aktivitas berkesenian, Handy juga dikenal sebagai pengusaha di bidang logistik yang telah dijalankan selama hampir 39 tahun. Baginya, dunia usaha dan seni memiliki ruang yang saling melengkapi, terutama dalam menjaga kepekaan serta sisi kemanusiaan.
“Jadi saking intensnya mungkin susah orang bedain ini seniman atau wirausaha? Yang penting, kesenian itu. Saya pengusaha di bidang logistik ya, kurang lebih hampir 39 tahun,” terang Handy.
Ia menuturkan, melukis menjadi salah satu cara untuk melepaskan diri dari tekanan aktivitas sehari-hari. Namun, manfaat berkesenian baginya lebih luas dari sekadar mengurangi stres. Seni juga menjadi ruang untuk merawat sensitivitas dan sisi humaniora seseorang.
“Di samping untuk terapi ya, menghindari stres. Kalau melukis masuk ke suasana baru, ya, bisa lepas. Tapi itu juga yang paling menyasarkan, manfaatnya kita itu merasa bahwa kemanusiaan kita dari segi humaniora kita kan jadi terkikis. Jadi bagi saya penting bahwa bagi seorang pengusaha itu punya jiwa berkesenian. Bayangkan kalau pengusaha tidak mempunyai sisi sensitivitas itu sebenarnya mungkin hanya pikir cuan-cuan doang ya, cuan profit-profit doang ya,” pungkasnya.
Sementara itu, Pengamat dan Kurator Seni Rupa, M. Bundhowi, melihat karya-karya Handy memiliki karakter visual yang khas. Pada beberapa pameran awal, karya Handy sempat dikategorikan sebagai Art Brut atau seni rupa yang berada di luar pakem seni mapan.
Menurut Bundhowi, kesan liar, naif, dan kekanak-kanakan yang muncul dalam karya Handy membuatnya memiliki kedekatan dengan tradisi Art Brut maupun Outsider Art yang berkembang di Eropa. Ia juga melihat adanya resonansi dengan gerakan seni COBRA yang dikenal membawa semangat anti-kemapanan.
“Ketika saya mengamati lebih dalam karya-karya Handy Saputra, karya-karya tersebut lebih memiliki resonansi dengan karya-karya seniman Art Brut atau Outsider Art yang lahir di Eropa yang dikomandani oleh sebuah gerakan seni rupa anti-kemapanan (anti-establishment) yang bernama COBRA,” jelas Bundhowi.
Lebih jauh, Bundhowi menilai karya Handy tidak berhenti pada tampilan visual yang dipenuhi figur manusia, binatang, makhluk asing, topeng, dan totem. Meski sebagian besar tampil bertumpuk tanpa dimensi maupun perspektif sebagaimana lukisan akademis, karya-karya tersebut menyimpan makna yang dapat dibaca lebih luas.
Ia melihat sejumlah lukisan Handy merefleksikan pengalaman kemanusiaan dengan nuansa naif, humoris, hingga tragis. Lebih dari itu, terdapat pula tema filosofis, sosial, dan kultural yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Bali.
“Saya melihat di beberapa karya Handy bukan saja merefleksikan peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang naif, kadang humoris kadang tragis, namun juga mengandung tema-tema filosofis, sosial bahkan kultural yang Bali. Dalam beberapa karya saya bahkan melihat referensi visual yang seperti Tri Hita Karana yang kerap muncul di karya-karya seni Bali dalam berbagai gayanya,” pungkasnya.
Melalui karya-karyanya, Handy Saputra menghadirkan ekspresi artistik yang melampaui bentuk visual semata. Figur-figur unik yang lahir dari proses kreatif spontan menjadi medium untuk menyampaikan beragam refleksi tentang kemanusiaan, kehidupan sosial, dan kekayaan nilai budaya Bali. On-MD



