Menumbuhkan Keadilan Sosial dari Pasar Tradisional Lewat Gerakan Tanpa Menawar

Gagasan I Komang Kusumaedi (IKK) Hidupkan Ekonomi Kerakyatan dan Perkuat Silaturahmi

DENPASAR, MataDewata.com | Di tengah masifnya modernisasi dan menjamurnya pusat perbelanjaan modern, pasar tradisional sering kali terpinggirkan. Padahal, dari sudut pandang sosiologis dan ekonomi kerakyatan, pasar tradisional adalah jantung yang menghidupkan denyut nadi keseharian masyarakat.

Sebuah gagasan inspiratif disuarakan oleh I Komang Kusumaedi (IKK), seorang ASN Pemprov Bali yang mengajak masyarakat untuk kembali melirik dan meramaikan pasar tradisional lewat gerakan moral sederhana setiap hari Sabtu.

Melalui seruan bertajuk “The Saturday is visit Traditional Market, Just Buying No Bargaining Price” masyarakat diajak untuk menyempatkan diri berbelanja ke pasar tradisional di hari Sabtu tanpa melakukan tawar-menawar harga. Konsep ini mengajak pembeli untuk membayar barang kebutuhan, baik senilai Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 50.000, maupun lebih, sesuai dengan harga yang dipatok oleh pedagang kecil.

Baca juga :  MD Suteja Wartawan Idealis Bali Multiplatform

“Bukankah jika saat berbelanja di Pasar Modern seperti mal, supermarket, dan toko modern semeton tidak menawar harga dan langsung membayar berapapun harganya? Mengapa hal itu tidak diterapkan juga saat belanja di pasar tradisional?” ujar IKK dalam pesan moralnya.

Langkah kecil ini ia nilai sebagai salah satu cara paling sederhana namun berdampak besar dalam mengimplementasikan nilai sila kelima Pancasila, yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, untuk turut mengapresiasi keringat para petani, pedagang kecil, dan pelaku UMKM lokal.

Baca juga :  Bupati Satria dan DPRD Sepakati APBD Perubahan 2026, Pendapatan Dirancang Rp1,68 Triliun

Bagi birokrat yang gemar kegiatan dan aksi sosial kemanusiaan ini menilai, Hari Sabtu dan Minggu menjadi momen sangat tepat untuk dimanfaatkan bersama keluarga untuk berbaur dengan masyarakat lewat kegiatan mesimakrama atau silaturahmi.

Selain bernilai sosial dan ekonomi, menurutnya mengunjungi pasar tradisional memiliki efek psikologis yang menyegarkan sebagai terapi alami mengatasi jenuh dan galau dari rutinitas kerja. Gerakan sederhana ini diharapkan membangkitkan kepedulian kolektif, memutar roda ekonomi kerakyatan dari bawah, sekaligus merawat tradisi luhur kebersamaan di bumi Bali. “Astungkara dabdab Gumi Bali,’ tutupnya. IKK-MD

Baca juga :  Gianyar Validasi Buku Kerajinan Wastra dan Logam Demi Dokumen Budaya Utuh

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button