Pan Lensa: Sebuah Cermin dari Keangkuhan yang Menantang
Membangun Kompetensi Publik

DENPASAR, MataDewata.com | Banyak orang bertanya mengapa saya harus selalu tampil dengan gaya yang membuat gerah. Mengapa saya bicara dengan nada angkuh dan sok tahu seolah-olah dunia berputar hanya berdasarkan teori yang saya pegang?
Jawabannya sederhana, karena banyak masyarakat kita sedang tidur nyenyak. Dalam ruang publik yang semakin membosankan, orang cenderung memuji apa yang manis dan mendiamkan apa yang salah. Kita terjebak dalam kenyamanan narasi yang seragam.
Maka, saya hadir sebagai Pan Lensa. Saya memilih memakai baju kesombongan bukan karena saya memang sombong, tetapi karena saya tahu bahwa kesombongan saya adalah trigger paling efektif untuk membuat Anda merasa tidak nyaman.
Saat saya berteriak tentang hukum, tata kota, atau moralitas dengan nada paling menyebalkan, saya sebenarnya sedang memegang cermin di depan wajah Anda. Jika Anda merasa risih melihat saya, itu tanda bahwa nurani Anda masih berfungsi. Jika Anda merasa marah, itu energi yang saya inginkan agar Anda berhenti diam dan mulai beraksi.
Banyak orang yang benar-benar kompeten, seperti mereka yang paham hukum atau mengabdi dalam sunyi, justru memilih berada di balik layar karena malas berurusan dengan kebisingan. Sayangnya, ketika yang ahli memilih diam, panggung publik akan selalu diisi oleh mereka yang hanya berisik tapi kosong.
Saya tidak butuh kekaguman Anda, karena pujian adalah sampah bagi orang yang mengerti arti kontribusi. Yang saya inginkan adalah Anda berdiri dan menunjukkan bahwa Anda lebih baik, lebih paham, dan lebih mampu berbuat nyata daripada sekadar berteori.
Pan Lensa adalah sebuah paradoks. Saya menampilkan kesombongan agar Anda bisa melihat dengan jelas betapa tidak eloknya perilaku angkuh itu. Saya menampilkan diri sebagai orang yang sok tahu agar Anda tergerak menunjukkan pengetahuan yang jauh lebih dalam dan berguna bagi keteraturan masyarakat.
Jangan habiskan waktu untuk membenci sosok seperti Pan Lensa karena itu hanya membuang energi. Gunakan rasa tidak suka itu untuk memvalidasi posisi Anda sendiri.
Jika saya salah, buktikan dengan argumen cerdas. Jika saya terlalu berisik, berikanlah solusi yang lebih tenang dan mendalam. Keteraturan sosial, hukum yang tegak, dan budaya yang terjaga tidak akan pernah lahir dari diskusi yang saling memuji.
Ia lahir dari perdebatan, benturan ide, dan keberanian untuk mengakui bahwa kita butuh orang-orang kompeten untuk duduk di meja diskusi sesungguhnya.
Saya akan tetap di sini, dengan lensa yang saya balik, mengamati Anda semua. Apakah Anda akan terus menjadi penonton yang marah, atau mengambil peran memberikan kontribusi nyata bagi masa depan kita bersama? Pilihan ada di tangan Anda, saya tunggu karya nyata Anda. Md-9



