Golkar Siapkan Strategi Hadapi Parliamentary Threshold 5 Persen, Jaringan dan Manajemen Digital Jadi Sorotan

DENPASAR, MataDewata.com | Golkar mulai menyiapkan strategi menghadapi Pemilu 2029 merespons wacana kenaikan parliamentary threshold menjadi 5 persen. Penguatan jaringan hingga tingkat bawah dan manajemen organisasi berbasis digital menjadi bagian dari persiapan menghadapi persaingan politik yang semakin ketat.
Meski ketentuan parliamentary threshold 5 persen belum ditetapkan dalam Undang-Undang Pemilu, Golkar Bali mulai menyiapkan mesin partai menghadapi Pemilu 2029. Penguatan jaringan hingga tingkat bawah, konsolidasi organisasi dan manajemen digital mulai disiapkan untuk menghadapi persaingan perebutan kursi parlemen.
Hal itu, disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer, saat memberikan sambutan dalam Rakerda dan Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Bali dan Pengurus DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota se-Bali, yang diselenggarakan di Monumen Gong Perdamaian Dunia-Desa Budaya Kertalangu, Jl. Bypass Ngurah Rai No.88x, Kesiman Kertalangu, Denpasar, Sabtu (3/10/3026).
“Walaupun nanti Undang-Undang Pemilu belum disahkan, kira-kira itu akan terjadi parliamentary threshold 5 persen untuk pusat,” ujar Demer.
Demer menilai, penerapan ambang batas tersebut akan membuat persaingan antar partai semakin ketat dalam memperebutkan suara untuk mendapatkan kursi di parlemen.
“Dengan adanya parliamentary threshold dinaikkan, ini akan terjadi pertarungan yang cukup sengit karena tentu semua partai akan mengejar parliamentary threshold itu untuk dapat mendudukkan fraksi di pemilu yang akan datang,” ujarnya.
Wacana kenaikan parliamentary threshold membuat persiapan internal menjadi perhatian Golkar. Demer menyebut ada empat bagian yang perlu diperkuat, yakni kader, jaringan, manajemen, dan kesiapan logistik. “Untuk kesuksesan itu, dari pandangan saya ada empat hal,” kata Demer.
Demer menempatkan kualitas kader sebagai salah satu perhatian utama. Menurutnya, kader yang dipilih tidak cukup hanya mengisi struktur organisasi, tetapi harus mampu bekerja dan memiliki kemampuan mendongkrak dukungan masyarakat.
“Kalau ada orang, artinya bukan hanya orang yang sekadar ditaruh. Saya berharap itu orang-orang yang mampu dan mampu untuk menjadi elektabilitas, mampu kepopulerannya untuk bisa mendongkrak suara,” katanya.
Demer menyebut struktur Golkar sudah menjangkau kabupaten/kota hingga desa, perlu diperkuat sampai tingkat dusun untuk memperluas jangkauan dan menyerap aspirasi masyarakat.
“Golkar rasanya lengkap jaringan sampai kabupaten/kota, sampai ke desa. Dan saya minta ditambah lagi jaringan yang sampai kepada dusun. Jadi jaringan itu segera dibangun setelah ini, setelah kita pelantikan ini,” terangnya.
Selain jaringan, Demer juga menyoroti pentingnya manajemen digital. Sistem tersebut akan dimanfaatkan untuk mengorganisasikan kegiatan partai sekaligus memudahkan proses pengawasan di lapangan.
“Manajemen digital yang saya maksud, kita merencanakan mengorganisasikannya dengan baik. Kemudian action-nya itu adalah penggerak masyarakat. Kontrolnya nanti melalui sistem digital kita sehingga memudahkan dalam controlling tersebut,” tuturnya.
Kesiapan logistik juga menjadi perhatian Demer. Ia meminta kebutuhan tersebut dipersiapkan sejak awal sebagai bagian dari persiapan Golkar menuju Pemilu 2029. “Kesiapan logistik sangat penting. Oleh karena itu, persiapkanlah diri,” pungkasnya.
Dengan kesiapan tersebut, Golkar mulai memanaskan mesin organisasi menuju Pemilu 2029. Penguatan kader, jaringan hingga tingkat bawah, manajemen digital dan kesiapan logistik menjadi pekerjaan yang mulai disiapkan dari sekarang. On-MD



