Bali Perkuat Pasar Timor Leste, Konsorsium Pengusaha Segera Dibentuk

DENPASAR, MataDewata.com | Bali memperkuat pasar di Timur Leste melalui Bali–Timor Leste Business Forum dan membentuk Konsorsium Pengusaha sebagai wadah perdagangan Indonesia – Timor Leste. Bali membuka peluang lebih besar untuk memperkuat hubungan perdagangan dengan Timor Leste. Nilai perdagangan Indonesia dan Timor Leste disebut telah mencapai sekitar US$230 juta, namun potensi tersebut dinilai masih dapat dikembangkan, khususnya melalui pengusaha Bali.
Sebagai langkah, Bali–Timor Leste Business Forum menjadi ruang dialog antara Bali dengan Timor Leste. Salah satu peluang yang disoroti adalah tingginya kunjungan warga Timor Leste ke Bali yang mencapai sekitar 100 ribu orang setiap tahun. Bali–Timor Leste Business Forum berlangsung di Awan Auditorium 3, Tsinghua Shoutheast Asia Center, Jumat (2/10/2026).
Anggota Komite I DPD RI Provinsi Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, SE(MTRU), M.Si sebagai inisiator forum Bali–Timor Leste Business Forum mengatakan bahwa selama ini warga Timor Leste rutin datang ke Bali untuk mengakses layanan kesehatan, berbelanja, hingga menempuh pendidikan.
“Perdagangan Indonesia-Timor Leste itu sudah mencapai 230 juta dolar. Tetapi di Bali perlu ditingkatkan,” ujar Arya Wedakarna. Menurut AWK penerbangan langsung setiap hari antara Bali dan Timor Leste menjadi salah satu modal untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua wilayah.
“Ada 100.000 penumpang setiap tahun datang ke Bali dari Timor Leste. Mereka datang ke Bali hanya untuk cek kesehatan, mereka berbelanja, mereka sekolah, shopping dan leisure, liburan. Ini yang belum digarap. Kita ada direct flight tiap hari,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, forum ini mendorong pembentukan konsorsium ekspor-impor yang menyatukan pengusaha lokal Bali dengan mitra strategis di Timor Leste. Tak hanya perdagangan, kerja sama ini juga merambah sektor pendidikan dengan merangkul sekitar 550 mahasiswa asal Timor Leste yang kini tengah menempuh studi S1 maupun S2 di Pulau Dewata.
“Yang pertama MoU adalah terkait dengan konsorsium. Bali Business Forum bukan hanya sekadar bisnis forum, tapi juga akan membuat company, membuat joint venture perusahaan. MoU-nya dalam bidang pendidikan karena ada 550, kalau tidak salah, mahasiswa dari Timor Leste yang berkuliah di Bali baik S1 dan S2. Bali memiliki 60 perguruan tinggi negeri dan swasta, ini juga potensi buat kampus-kampus kita,” kata AWK.
Sebagai langkah penguatan, Menteri HAM RI Natalius Pigai menekankan bahwa kerja sama ekonomi antara Bali dan Timor Leste sangat penting guna mempererat hubungan bilateral kedua negara tetangga. Ekspansi dan pengembangan bisnis perlu diselaraskan dengan kebijakan pemerintah pusat agar didukung oleh regulasi yang kuat dan berkelanjutan.
“Bisnis forum ini penting karena Timor Leste itu negara tetangga kita. Neighbor. Karena itu, tetangga kita adalah tetangga paling dekat. Kalau kembangkan bisnis untuk 5-10 tahun ke depan itu sebaiknya supaya ada apa, usaha atau pengembangan bisnisnya bisa berkembang secara baik, maka harus inheren dengan kebijakan pemerintah,” ujar Pigai.
Ia menilai berbagai program pemerintah juga membuka ruang kerja sama ekonomi, termasuk hilirisasi serta program pengembangan ekonomi masyarakat. “Kerja sama antara Indonesia dan Timor Leste ini harus inheren dalam kebijakan pemerintah resmi, jadi disesuaikan, diarahkan kepada kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Menurutnya, keselarasan antara dunia usaha dan kebijakan pemerintah diperlukan agar berbagai peluang kerja sama dapat berjalan lebih lancar dalam jangka panjang. “Kalau inheren dengan kebijakan pemerintah, maka regulasi hambatan itu akan nanti bisa lebih lancar lagi untuk masa yang akan datang,” tutupnya. On-MD



