Momen Bersejarah, Krama Istri Banjar Adat Selat Gelar Tradisi Mepeed Perdana di Pura Agung Kentel Gumi

Semangat Ngayah dan Kebersamaan

KLUNGKUNG, MataDewata.com | Rangkaian Karya Ngusaba Jagat Pura Agung Kentel Gumi (Puseh Jagat Bali) Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung diwarnai suasana berbeda pada Rabu (28/10/2026). Ratusan krama istri Banjar Adat Selat, Desa Banjarangkan meramaikan persembahyangan bakti penganyar dengan menggelar tradisi mepeed untuk pertama kalinya di pura tersebut.

Krama istri berjalan beriringan penuh kebersamaan menuju pura sambil menjunjung gebogan berisi buah, jajanan serta sarana upakara yang tertata apik. Perpaduan warna dan keindahan susunan gebogan menghadirkan pemandangan sakral yang sekaligus mencerminkan kekayaan tradisi mepeed dan budaya Bali.

Para peserta terlebih dahulu berkumpul di Balai Banjar Selat sebelum memulai perjalanan sakral tersebut. Selanjutnya lima kelompok krama istri dari Banjar Adat Selat mengikuti prosesi mepeed dengan penuh antusias dan semangat ngayah.

Baca juga :  Wali Kota Jaya Negara Lepas Fun and Road Bike REI Bali

Kelihan Adat Banjar Selat Anak Agung Gde Anom Suryanata menyampaikan bahwa pelaksanaan mepeed kali ini menjadi momen bersejarah bagi warga Banjar Adat Selat. Tradisi tersebut bertepatan baru pertama kali bergulir dalam rangkaian Karya Ngusaba Jagat di Pura Agung Kentel Gumi.

β€œPaiketan krama istri sangat antusias dan bersemangat mengikuti prosesi mepeed dalam persembahyangan bakti penganyar ini. Kami tidak memaksakan krama istri untuk ikut serta dan tetap memperhatikan kondisi ekonomi warga,” ujar Anak Agung Gde Anom Suryanata.

Baca juga :  Musim Hujan Kantor PLN Tetap Disemprot Pemadam Kebakaran

Ia menegaskan pihak banjar tetap mengimbangi semangat kebersamaan tradisi ini dengan kepedulian terhadap kondisi ekonomi masing-masing keluarga. Warga menyerahkan partisipasi atas dasar ketulusan dan kesadaran bersama tanpa menjadi beban ekonomi.

Sementara itu Ni Ketut Novi Budayanti salah seorang krama istri dari Kelompok Dua mengungkapkan bahwa persiapan mepeed telah terancang sejak sepekan sebelum pelaksanaan. Persiapan meliputi penataan sarana banten dengan konsep sederhana, estetis dan tidak terlalu tinggi agar tetap nyaman saat krama menjunjungnya sepanjang perjalanan.

Setiap kelompok telah menentukan kreasi warna banten masing-masing melalui koordinasi intensif. Langkah ini menjadi penting mengingat kegiatan mepeed ini merupakan pengalaman perdana bagi para peserta dalam rangkaian upacara di Pura Agung Kentel Gumi.

Baca juga :  Putri Koster Dorong Kompetensi Kader Posyandu Dukung Enam Bidang SPM

Panitia telah menggelar puncak Karya Ngusaba Jagat di Pura Agung Kentel Gumi pada 25 Oktober 2026. Rangkaian upacara kemudian berlanjut dengan prosesi nyejer yang berlangsung hingga 5 November 2026 mendatang.

Gelar mepeed perdana krama istri Banjar Adat Selat ini menjadi bagian dari dinamika pelestarian adat dan budaya Bali. Tradisi ini tidak sekadar mengusung gebogan menuju pura melainkan juga merefleksikan nilai kebersamaan, ketulusan beryadnya serta komitmen masyarakat dalam menjaga warisan tradisi leluhur. Hk-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button