Gubernur Koster Apresiasi Buku Kompas Moral Wartawan Karya Emanuel Dewata Oja
Panduan Penting Menjaga Etika Jurnalistik dan Keberlanjutan Industri Pers

DENPASAR, MataDewata.com | Jurnalis senior Emanuel Dewata Oja meluncurkan buku berjudul “Kompas Moral Wartawan” di Inna Bali Heritage Hotel, Denpasar, Rabu (28/10/2026). Gubernur Bali Wayan Koster hadir langsung menyaksikan peluncuran karya yang menjadi ikhtiar memperkuat etika dan tanggung jawab profesi jurnalistik di tengah derasnya pergeseran teknologi digital serta tantangan industri pers.
Gubernur Bali Wayan Koster menilai buku karya Emanuel Dewata Oja sangat relevan sebagai panduan insan pers dalam mengemban tugas secara profesional. Hal ini menjadi krusial mengingat pemberitaan media massa turut membentuk persepsi publik terhadap Bali sebagai pusat destinasi pariwisata internasional.
“Bali adalah menjadi pusat perhatiannya dunia. Pulau kecil yang wilayahnya 5.590 kilometer persegi, jumlah penduduknya 4,4 juta. Tapi Bali ini menjadi pusat perhatian dunia,” kata Koster saat menyampaikan sambutannya.
Menurut Koster pesatnya perkembangan teknologi digital dan media sosial membuat berbagai informasi mengenai Bali menyebar cepat hingga ke pelosok dunia. Kondisi tersebut menuntut wartawan agar senantiasa mengedepankan akurasi, kelengkapan fakta serta konteks secara utuh sebelum menyampaikan suatu peristiwa kepada publik.
Ia menganggap buku “Kompas Moral Wartawan” mampu menjadi referensi berharga bagi wartawan untuk memahami batasan etis serta menjaga kebebasan pers agar tetap berjalan di atas koridor profesionalismenya. “Ini bagus sekali. Mengangkat moralnya itu suatu kemajuan, setingkat. Kemudian, tingkatan yang lebih tinggi lagi memberikan kompas, memberikan panduan, memberikan arah,” tegasnya.
Koster menegaskan wartawan memegang peranan sangat penting dalam menyebarluaskan kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Berdasarkan pengalamannya menjabat anggota DPR RI selama tiga periode hingga menjadi Gubernur Bali, pers terbukti menjadi jembatan penghubung utama antara pemerintah dan masyarakat demi menjaga akuntabilitas pejabat publik.
Koster turut mengingatkan pemberitaan pariwisata Bali sangat mempengaruhi persepsi wisatawan terkait kondisi keamanan dan kenyamanan daerah. Ia menceritakan pengalamannya saat meninjau stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) ketika terjadi kendala distribusi BBM. P
otongan video yang beredar tanpa konteks lengkap sempat memicu persepsi berbeda di tengah masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga akan pentingnya penyampaian informasi secara utuh dan proporsional. Ia juga mendorong Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali terus memperkuat program pendidikan jurnalistik agar para wartawan memahami etika profesi secara mendalam pada era digital.
Sementara itu penulis buku Emanuel Dewata Oja menjelaskan bahwa karya semi-ilmiah ini ia susun dari rangkuman materi presentasi dan pengalamannya mengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Undiknas Bali sejak 2011. Pria yang menjabat Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Bali periode 2017–2028 tersebut memadukan teori dan pengalaman lapangan guna mengupas tuntas dinamika jurnalisme masa kini.
Buku ini mengulas regulasi ekosistem pers seperti UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik, hingga tanggung jawab platform digital. Edo menyoroti maraknya penyebaran ulang karya jurnalistik tanpa izin di media sosial serta tantangan kecerdasan buatan (AI) yang menuntut wartawan terus meningkatkan kompetensinya. “Tinta boleh pudar dalam hitungan hari, tetapi gagasan yang diwujudkan dalam buku adalah jiwa yang tidak pernah mati,” pesan Emanuel Dewata Oja menutup peluncuran bukunya. Hd-MD



