Warga Madura Banjarangkan Laksanakan Tradisi Ngaro
Lestarikan Warisan Leluhur Kuno Bertepatan Malam Purnama Kapat, Warga Arya Dalem Madura Gelar Ritual Sakral di Tengah Malam

KLUNGKUNG, MataDewata.com | Warga keturunan Madura di Pura Kawitan Dadia Arya Dalem Madura, Dusun Selat, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, melaksanakan tradisi sakral “Ngaro” pada malam Purnama Kapat, Sabtu (26/9/2026).
Tradisi Ngaro merupakan warisan leluhur kuno asal tanah Madura yang dilestarikan oleh keturunan Raja Madura di wilayah Banjarangkan, di mana berdasarkan sejarah, tradisi ini bermula dari ritual penebusan dosa leluhur Adipati Arya Kuda Pinolih yang turut dihadiri oleh Raja Bali Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan.
Hubungan erat tersebut semakin diperkuat dengan peristiwa bersejarah penemuan keris Raja Bali di perairan Sanur berkat bantuan ikan barakuda yang menjadi tonggak awal pelaksanaan tradisi Ngaro.
Kelihan Pura Kawitan Dalem Madura Banjarangkan, I Wayan Juliawan, menjelaskan bahwa selain warga keturunan Madura di Intaran Sanur, warga Madura di Banjarangkan secara konsisten menjaga tradisi ini dengan rangkaian upacara yang diawali pembuatan banten sejak pukul 18:00 Wita.
Sebanyak 30 kepala keluarga warga Arya Madura Banjarangkan mengikuti prosesi mengarak tapakan dari pura, dan karena pertimbangan abrasi, puncak persembahan sesajen dilaksanakan di Pantai Siut, Gianyar, tepat pukul 00.00 Wita yang dipuput oleh pemangku setempat.
“Saat melaksanakan upacara, kami minim menggunakan gamelan maupun sinar lampu sebagai penerang, dan setelah selesai persembahan tumpeng serta banten dibagikan kepada warga maupun pemedek yang hadir,” ujar I Wayan Juliawan. Secara filosofis, tradisi Ngaro bertujuan memohon keselamatan dan kerahayuan jagat sekaligus wujud penghormatan kepada para leluhur cikal bakal warga Arya Madura di Bali. Hk-MD



