Gubernur Koster Paparkan Strategi Besar di Tingkat Nasional

Pembangunan yang Tidak Hanya Mengejar Pertumbuhan, tetapi Juga Menjaga Identitas, Memperkuat Budaya, dan Memastikan Keberlanjutan bagi Generasi Mendatang

JAKARTA, MataDewata.com | Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster menunjukkan langkah strategis dan progresif dalam memperkuat masa depan arah pembanguan Pulau Dewata. Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng itu menyampaika saat audiensi dan pemaparan komprehensif yang ia sampaikan saat Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi V DPR Ri, Rabu (8/4/2026).

Momentum penting percepatan pembangunan Bali berbasis kualitas, budaya, dan keberlanjutan

Dalam forum strategis yang dipimpin Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus dan dihadiri jajaran kementerian, termasuk Dody Hanggodo serta Dudy Purwagandhi, Gubernur Bali tampil dengan pemaparan yang tidak hanya kuat secara data, tetapi juga tajam dalam arah kebijakan.

Digambarkan Bali bukan sekadar destinasi wisata, melainkan episentrum peradaban berbasis budaya yang hidup dan dinamis Dengan luas wilayah 5.590 km dan jumlah penduduk sekitar 4,4 juta jiwa. Memiliki karakter unik dengan 1.500 desa adat yang menjadi benteng budaya sekaligus fondasi kehidupan sosial masyarakat. Keunikan inilah yang menjadi kekuatan utama Bali dalam menarik dunia.

Data yang disampaikan Gubernur Koster memperlihatkan optimisme yang kuat. Tahun 2025 menjadi tonggak bersejarah dengan Jumlah kunjungan wisatawan mencapai 16,3 juta orang. Dari angka tersebut, sebanyak 7,05 juta merupakan wisatawan mancanegara-tertinggi sepanjang sejarah Bali. Angka ini bahkan menyumbang sekitar 45.8% dari total wisatawan asing ke Indonesia.

Baca juga :  Syukuran Penghargaan Leit Star, Wujud Apresiasi Tertinggi bagi Kader Pelopor PDI Perjuangan

Lebih jauh, kontribusi Bali terhadap devisa pariwisata nasional mencapai 55% Ini bukan sekadar engka, melainkan bukti konkret bahwa Bali adalah tulang punggung pariwisata Indonesia. Dengan rata-rata lame tinggal wisatawan mencapai 11,9 hari dan pengeluaran sebesar 1.522.44 dolar AS per kunjungan, Bali menunjukkan kualitas pariwisata yang jauh melampaui rata-rata nasional.

Tidak berhenti pada sektor pariwisata, Indikator makro pembangunan Bali juga menunjukkan performa impresit. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,82%, dengan tingkat kemiskinan hanya 3,42%- terendah secara nasional. Tingkat pengangguran berada di angka 1,45%, juga terendah, sementara Indeks Pembangunan Manusia mencapai 79,37. Angka-angka ini menegaskan bahwa pembangunan Bali tidak hanya bertumpu pada pariwisata, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Namun, dalam nada yang konstruktif dan visioner, Gubernur Koster tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan. la secara terbuka menyampaikan persoalan krusial seperti alih fungsi lahan, peningkatan volume sampah, ancaman krisis air bersih, hingga kemacetan yang semakin kompleks. Selain itu, isu sosial seperti berkurangnya peluang usaha masyarakat lokal, praktik penggunaan nana warga lokal oleh pihak asing, hingga potensi degradasi budaya juga menjadi perhatian serius.

Alih-alih menjadi hambatan, seluruh tantangan tersebut justru dijadikan dasar untuk merumuskan arah pembangunan Bali yang lebih kuat dan terstruktur. Pemerintah Provinsi Bali mengusung konsep pariwisata berbasis budaya yang berkualitas, bermartabat, dan berkelanjutan.

Baca juga :  Wabup Suiasa Hadiri Lepas Sambut Komandan Kodim 1611/Badung

Salah satu langkah konkret yang dipaparkan Adalah program pengelolaan sampah terpadu dari hulu ke hilir. Mulai dari pembatasan plastik sekali pakai, penguatan TPS3R dan TPST, hingga pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan kapasitas 1.200 ton per hari. Proyek ini direncanakan mulai dibangun pada akhir Juni 2026 dan ditargetkan beroperasi pada awal 2028, menjadi solusi nyata atas persoalan sampah di Bali.

Di sektor air bersih, Pemprov Bali merancang sistem distribusi berbasis sumber strategis seperti Telagawaja, Bendungan Sidan, dan Bendungan Titab. Langkah ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pariwisata sekaligus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Tak kalah penting, Bali juga diarahkan menuju kemandirian energi berbasis energi bersih. Melalui regulasi daerah, Pemprov Bali mendorong pembangunan pembangkit listrik berbasis gas berkapasitas 1.550 MW serta pemanfaatan PLTS atap hingga 500 MW.

Ini menandai transformasi Bali menuju daerah yang lebih ramah lingkungan dan berdaya saing global Dalam sektor pangan, Bali mengusung konsep Bali Daulat Pangan melalui sistem pertanian organik Program ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan petani lokal.

Pemaparan Gubernur Koster juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur darat sebagai tulang punggung konektivitas Berbagai proyek strategis seperti pembangunan underpass, jalan lingkar Ball, hingga konektivitas antar kawasan wisata dan kawasan suci menjadi prioritas utama.

Baca juga :  Program Jaga Desa Sebuah Terobosan Perkuat Transparansi Pengelolaan Dana Desa Secara Kolaborasi

Respons positif langsung datang dari pemerintah pusat Menteri Perhubungan mengungkapkan rencana pengembangan transportasi inovatif seperti taksi laut dari Bandara Ngurah Rai menuju Nusa Dua dan Canggu. Sementara Menteri Pekerjaan Umum memastikan dukungan terhadap pembangunan jalan, penanganan banjir, dan keberlanjutan proyek tol Gilimanuk-Mengwi. Seluruh pimpinan dan anggota Komisi V DPR RI menyatakan komitmen penuh untuk mendukung percepatan pembangunan Bali.

Bahkan ditegaskan bahwa pembangunan Bali tidak bisa dilakukan dengan cara biasa, melainkan harus dengan skema khusus mengingat peran strategisnya bagi Indonesia. Keputusan rapat yang ditandatangani Bersama menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.

Dukungan tersebut mencakup pembangunan infrastruktur, pengelolaan sampah berbasis teknologi, penyediaan air bersih, hingga penguatan konektivitas logistic Momentum ini menjadi titik balik penting bagi Bali Di tengah tekanan global dan persaingan dengan destinasi seperti Thailand dan Malaysia, Ball tidak hanya bertahan, tetapi justru bersiap melesat lebih jauh dengan fondasi yang lebih kokoh. Apa yang ditunjukkan Gubernur Wayan Koster dalam forum ini bukan sekadar laporan, melainkan peta jalan masa depan Bali. Hp-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button