Kadin Bali Buka Ruang Kolaborasi, Jaring Kerjasama Pengusaha Lokal dan Internasional

DENPASAR, MataDewata.com | Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali membuka ruang kolaborasi untuk mempertemukan pengusaha lokal hingga internasional. Pengembangan bisnis di Bali membutuhkan jaringan, mitra, informasi pasar, serta akses kerja sama. Melalui Kadin, berbagai pelaku usaha dapat membangun koneksi sekaligus membuka peluang bisnis yang lebih luas.
Posisi Kadin diatur dalam UU RI Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri, Pasal 4 yang menyatakan bahwa Kamar Dagang dan Industri merupakan wadah bagi pengusaha Indonesia, baik yang tidak bergabung maupun yang bergabung dalam organisasi pengusaha dan/atau organisasi perusahaan.
Kadin memiliki peran strategis sebagai wadah yang mempertemukan pengusaha dan pebisnis, baik lokal maupun internasional. Karena itu, bagi pengusaha yang ingin mencari jaringan, mitra maupun membuka akses pasar, Kadin menjadi salah satu pintu yang bisa dimanfaatkan. Apalagi jaringan Kadin berada dari tingkat nasional hingga provinsi dan kabupaten/kota serta menaungi berbagai sektor usaha.
Ruang kolaborasi itu, kemudian diperluas melalui kerjasama lintas, salah satunya dengan Timor Leste. Peluang kerja sama tersebut mengemuka dalam dialog “Bali–Timor Leste Business Forum” yang diselenggarakan di Awan Auditorium 3, Tsinghua South East Asia Center, Denpasar, Jumat (2/10/2026).
Forum ini membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring, mencari akses bisnis, serta menjajaki kerja sama yang dapat diterjemahkan menjadi peluang ekonomi antara Indonesia dan Timor Leste.
Menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Provinsi Bali, I Made Ariandi, peluang tersebut perlu diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki potensi pasar sekaligus tetap memperhatikan karakter lingkungan dan daya dukung infrastruktur Bali.
“Kuatkan city hotel yang banyak, kuatkan vila-vila yang representatif, yang nature, jangan terlalu membebani dari segi infrastruktur, fasilitas pada saat proses pembangunan,” ujar Ariandi usai menghadiri Bali–Timor Leste Business Forum.
Ariandi mendorong agar Bali tidak hanya mengandalkan pola pariwisata konvensional. Karena itu, perlu ada keberanian untuk memperluas pengalaman wisata dengan menggarap potensi olahraga dan wisata bahari sebagai bagian dari peluang pasar baru.
“Undang para pelaku motorsport sama Wisata laut. Itu saja. Mereka orang Asing ke orang ASEAN, pasti sudah yang terpenting adalah belajar, tapi makanan yang dibutuhkan oleh kalangan internasional yang baik,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah dan perguruan tinggi perlu ikut membaca perubahan pasar secara lebih cepat. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar potensi ekonomi yang muncul diterjemahkan menjadi peluang bisnis yang konkret.
“Kementerian juga sama, universitas juga sama. Kalau bapak-bapak profesor baru bangun tidur jam 8 melihat matahari, nah itu baru, bapak salah bangunnya. Kesiangan itu, itu sunset,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Bali–Timor Leste Business Forum, Dr. I Ketut Subadra, SH., MH., MM., CPLA, menilai Kadin Bali memiliki posisi strategis dalam membuka kemungkinan kerja sama dengan dunia usaha.
Menurutnya, ukuran keberhasilan forum bisnis nantinya terlihat dari sejauh mana pertemuan tersebut mampu melahirkan kerja sama yang nyata di lapangan. Karena itu, konsorsium atau lembaga usaha yang dibentuk dalam Bali–Timor Leste Business Forum juga membuka peluang kerja sama dengan Kadin Bali.
“Iya, Kadin Bali merupakan lembaga yang siap, nanti kita lihat kerjasamanya seperti apa. Namanya bisnis, tetapi tetap kita akan membuat MoU juga antara perusahaan kita dengan Kadin,” ujarnya. Pertemuan ini diharapkan menjadi awal bagi pengusaha Bali dan Timor-Leste untuk saling membuka akses, mencari mitra, dan melihat peluang bisnis yang bisa dikembangkan bersama. On-MD



