Inflasi Bulanan Bali Oktober 2026 Melandai, Sinergi Pengendalian Inflasi Terus Diperkuat

DENPASAR, MataDewata.com | Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali pada 2 November 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Oktober 2026 mencatat inflasi sebesar 0,25% (mtm), mengalami pelandaian jika dibandingkan dengan bulan September 2026 yang berada di angka 0,32% (mtm).

Inflasi bulanan tersebut terutama didorong oleh terbatasnya pasokan pangan, khususnya komoditas hortikultura, akibat minimnya produksi pada musim kemarau di tengah fenomena El Nino.

Selain itu, gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi secara sementara pada pertengahan Oktober turut memberikan tekanan terbatas terhadap kelancaran distribusi barang di beberapa wilayah. Kenaikan harga daging babi juga terjadi di tengah terbatasnya pasokan serta tingginya permintaan pasar.

Baca juga :  Sekda Adi Arnawa Ajak Muslimat Jaga Toleransi dan Moderasi Beragama dengan Baik

Secara tahunan (yoy), inflasi Provinsi Bali mengalami peningkatan dari 3,79% pada September 2026 menjadi 3,87% pada Oktober 2026. Capaian tersebut berada di atas inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,23% (yoy). Sementara itu, secara tahun kalender (ytd), inflasi Bali naik dari 2,49% menjadi 2,74%.

Dengan dinamika tersebut, upaya pengendalian inflasi pada dua bulan terakhir tahun 2026 perlu terus diperkuat agar tetap berada dalam rentang sasaran Β pada akhir tahun.

Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi bulanan pada Oktober 2026. Kabupaten Badung mencatatkan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,52% (mtm) atau inflasi tahunan 4,16% (yoy).

Baca juga :  Amor Ing Acintya, I Ketut Toya Adnyana Tutup Usia

Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan 0,18% (mtm) atau 3,63% (yoy), diikuti Kabupaten Tabanan sebesar 0,16% (mtm) atau 4,35% (yoy), serta Singaraja sebesar 0,10% (mtm) atau 3,67% (yoy).

Secara komoditas, penyumbang inflasi bulanan pada Oktober 2026 meliputi peningkatan harga cabai merah, cabai rawit, sawi hijau, kol putih/kubis, buncis, daging babi, serta laptop/notebook. Laju inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh penurunan harga pada komoditas daging ayam ras, bawang merah, bawang putih, tongkol diawetkan, serta ikan tongkol/ikan ambu-ambu.

Bank Indonesia Provinsi Bali terus berkomitmen mendukung langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali, termasuk memperkuat pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar. Ke depan, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, seperti berlanjutnya El Nino kuat hingga awal 2027.

Baca juga :  Kelurahan Sesetan Gelar Kegiatan Sosial Sasar YAPPA

Memperkuat pengendalian ke depan, Bank Indonesia bersama Pemprov dan Pemkab/Kota se-Bali memfokuskan strategi melalui kerangka 4K, yakni Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi yang efektif.

Implementasinya dijalankan melalui Rakor TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), fasilitasi distribusi pangan lewat Perumda Pangan, pemberian bantuan sarana prasarana kepada kelompok tani, hingga penguatan koordinasi publik. Melalui sinergi tersebut, inflasi Bali sepanjang 2026 diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran sasaran nasional. Ps-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button