Wartawan Senior Djoko Moeljono Berpulang
Dunia Pers Bali Berduka

DENPASAR, MataDewata.com | Pagi ini, hari libur saya mendadak diwarnai kabar duka. Saat membuka grup WhatsApp, sebuah berita membuat saya terdiam. Seorang kawan wartawan senior telah berpulang dini hari tadi. Kabar itu seketika menghadirkan rasa kehilangan sekaligus kenangan tentang sosok yang selama ini saya kenal hangat dan bersahaja.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un
Pak Djoko Moeljono. Senyum dan kumis khasnya tiba-tiba hadir dalam ingatan saya. Ada sesuatu yang mudah dikenali dari sosoknya. Pembawaannya yang hangat membuat setiap perjumpaan terasa akrab. Kini, ketika mendengar kabar kepergiannya, hal-hal sederhana itu justru menjadi bagian dari kenangan yang terasa begitu berharga.
Almarhum dikenal sebagai wartawan senior Harian Bali Tribune. Ia menjalani perjalanan panjang di dunia jurnalistik dan pernah menjadi redaktur serta editor senior di media tersebut. Dedikasinya terhadap dunia pers juga mendapat pengakuan. Pada 2025, ia menerima penghargaan Circle Excellent dari IHGMA Bali sebagai tokoh media. Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam pemberitaan industri hospitality dan pariwisata di Bali.
Saya sudah cukup lama tidak bertemu Pak Djoko. Bahkan, menjelang akhir hayatnya, kami tak lagi berjumpa. Seingat saya, pertemuan terakhir kami berlangsung sekitar setahun lalu, ketika kami sama-sama menjalankan tugas liputan lapangan dalam sebuah acara di Denpasar.
Seperti perjumpaan dengan sesama wartawan pada umumnya, saat itu mungkin tidak ada percakapan yang terlalu istimewa. Kami bertemu di tengah kesibukan pekerjaan masing-masing. Namun, siapa sangka, perjumpaan sederhana tersebut justru menjadi salah satu kenangan terakhir saya bersama beliau.
Kini, setelah mendengar kabar kepergiannya, ingatan tentang pertemuan itu kembali muncul. Saya teringat senyum dan kumis khasnya, juga pembawaannya yang hangat. Ada kalanya kita tidak menyadari bahwa sebuah perjumpaan biasa kelak menjadi sesuatu yang ingin kita kenang lebih lama.
Begitulah kehidupan. Kita bertemu, bertegur sapa, sesekali berbincang, lalu kembali menjalani kesibukan masing-masing. Waktu terus berjalan hingga suatu hari kabar kepergian seseorang menyadarkan kita bahwa kesempatan untuk berjumpa ternyata tidak selalu datang dua kali.
Saya membayangkan ada begitu banyak cerita yang tersimpan sepanjang perjalanan kariernya. Tentang ruang redaksi, tenggat pemberitaan, liputan lapangan, pertemuan dengan narasumber, serta persahabatan yang tumbuh di antara sesama wartawan.
Bagi saya, dunia jurnalistik bukan semata-mata tentang pekerjaan dan berita yang harus diselesaikan setiap hari. Di dalamnya ada perjumpaan dengan banyak orang, percakapan sederhana, serta kehangatan yang terkadang justru lebih lama tinggal dalam ingatan.
Pak Djoko adalah salah satu sosok yang meninggalkan kesan tersebut
Hari ini, mungkin banyak kawan wartawan di Bali yang juga sedang mengenang sosoknya. Setiap orang tentu memiliki cerita dan pengalaman masing-masing bersama almarhum. Saya pun menyimpan kenangan tentang senyum, kumis khas, dan sikap hangatnya. Kenangan yang mungkin tampak sederhana, tetapi kini terasa begitu berarti.
Selamat jalan, Pak Djoko. Mungkin kita memang sudah cukup lama tidak berjumpa. Pertemuan terakhir sekitar setahun lalu di sebuah kegiatan liputan di Denpasar kini menjadi kenangan yang tersisa. Saya tidak pernah membayangkan bahwa perjumpaan sederhana itu akan menjadi kesempatan terakhir untuk menyapa dan melihat senyum khas Bapak.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan jurnalistik di Bali. Terima kasih juga untuk keramahan dan kehangatan yang pernah saya rasakan dalam perjumpaan-perjumpaan kita. Sebagai sesama wartawan, saya tahu betapa panjang dan tidak mudahnya perjalanan profesi ini. Kini, Bapak telah menuntaskan perjalanan itu. Biarlah karya, pengabdian, dan kenangan tentang Bapak tetap hidup di antara kami yang masih melanjutkan perjalanan.
Selamat beristirahat dengan tenang, Pak Djoko. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah, mengampuni segala khilaf, dan menempatkan Bapak di tempat terbaik di sisi-Nya. Doa terbaik saya menyertai kepergian Bapak. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan keikhlasan.
Al-Fatihah
Denpasar, 1 November 2026
[Angga Wijaya]



