Yayasan Bambu Lestari Soroti Krisis Air di Bali, Ajak Masyarakat Kembali Menanam Bambu

DENPASAR, MataDewata.com | Yayasan Bambu Lingkungan Lestari mengajak masyarakat Bali kembali menanam bambu sebagai langkah menjaga kelestarian lingkungan dan ketahanan sumber daya air. Ajakan tersebut muncul di tengah meningkatnya berbagai persoalan lingkungan, mulai dari banjir hingga menurunnya cadangan air di Pulau Dewata.

Koordinator Wilayah Bali Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Mochammad Nicko Agung Pangestu menilai kondisi lingkungan Bali membutuhkan langkah konservasi yang lebih serius. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penurunan ketersediaan air permukaan akibat tingginya pemanfaatan air tanah.

Baca juga :  Dipanggil Gubernur Wayan Koster dan Bupati Adi Arnawa, GWK Siap Bongkar Tembok Penghalang Akses Warga Ungasan

“Bali hari ini menghadapi beberapa fenomena lingkungan. Selain bencana alam, kita juga harus aware terhadap air. Kami mendapat informasi dari beberapa ahli bahwa air permukaan Bali turun sekitar lima persen setiap sepuluh tahun, salah satunya karena masifnya penggunaan air tanah,” ujarnya dalam Konferensi Pers bersama Panitia Peringatan 100 Tahun Rarud Batur, Denpasar, Rabu (22/7/2026).

Foto: Koordinator Wilayah Bali Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Mochammad Nicko Agung Pangestu (paling kiri) bersama Panitia Peringatan 100 Tahun Rarud Batur

Nicko mengatakan bambu menjadi salah satu tanaman yang efektif untuk mendukung konservasi karena memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar selama musim hujan dan melepaskannya kembali saat musim kemarau.

Baca juga :  Cuaca Extrem Sebabkan Sejumlah Pohon Tumbang di Wilayah Denpasar

“Kenapa kami memilih bambu? Dalam riset kami, satu batang bambu, terutama jenis petung, mampu menyimpan sekitar 100 liter air pada musim hujan. Air itu kemudian dilepaskan kembali pada musim kemarau sehingga sangat penting untuk konservasi,” ujar Nicko.

Lebih lanjut, Ia mengingatkan kebutuhan bambu di Bali sangat tinggi untuk menunjang berbagai keperluan adat dan budaya. Karena itu, keberadaan kebun bambu perlu dijaga agar tidak terus berkurang akibat alih fungsi lahan.

Baca juga :  Naik Motor, Bupati Sanjaya Turun Langsung Buka Lomba Mancing di Dua Desa di Kecamatan Kerambitan

“Kebutuhan bambu di Bali sangat besar, sementara kami masih menemukan lahan-lahan bambu ditebang dan diganti menjadi tanaman lain. Kami ingin mengajak masyarakat kembali peduli terhadap bambu karena ini bukan hanya bagian dari budaya Bali, tetapi juga penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air,” tegasnya.

Melalui gerakan konservasi bambu diharapkan semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam penanaman bambu sehingga kelestarian lingkungan dan ketersediaan air di Bali tetap terjaga untuk generasi mendatang. On-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button