Stroke Sedot Biaya Rp37 Triliun Lebih dalam Satu Dekade
BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Terapkan Pola Hidup Sehat dan Skrining Rutin

JAKARTA, MataDewata.com | Penyakit stroke menduduki tiga besar daftar penyakit berbiaya tinggi yang dijamin BPJS Kesehatan sepanjang satu dekade. Dalam rentang waktu 2015-2025, sebanyak Rp37,47 triliun iuran peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ludes untuk membiayai penyakit stroke.
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah menuturkan bahwa jumlah kasus stroke juga melonjak tajam, dari 1,47 juta kasus di tahun 2015 menjadi 9,56 juta kasus pada 2025.
“Memang seiring dengan bertumbuhnya jumlah peserta, pemanfaatan Program JKN untuk membiayai penyakit stroke juga ikut bertambah. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa penyakit degeneratif seperti stroke sekarang tidak hanya dialami lansia, namun juga sudah banyak dialami masyarakat usia produktif,” kata Rizzky pada Selasa (27/10/2026).
Rizzky menjelaskan, pada tahun 2025 pihaknya mencatat peserta JKN berusia 26-30 tahun mengalami sekitar 38 ribuan kasus penyakit stroke, dengan sekitar 53% di antaranya merupakan laki-laki. Sementara pada tahun-tahun sebelumnya, pihaknya mencatat 26 ribuan kasus penyakit stroke pada 2023 dan sekitar 34 ribuan kasus pada 2024.
Menurut Rizzky, semua pihak harus segera menyikapi kecenderungan peningkatan kasus penyakit stroke dan pergeseran tren penyakit tersebut ke usia muda. Menurutnya mengendalikan angka penderita stroke menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari pemerintah, BPJS Kesehatan, fasilitas kesehatan, tenaga medis, hingga masyarakat itu sendiri.
“Selagi belum terlambat, mari kita terapkan terapkan pola hidup sehat dan jangan lupa lakukan Skrining Riwayat Kesehatan.setahun sekali untuk mendeteksi seberapa besar risiko kita menderita penyakit kronis, seperti stroke,” kata Rizzky.
Peserta JKN yang berusia 15 tahun ke atas melakukan Skrining Riwayat Kesehatan setahun sekali. Masyarakat bisa melakukan Skrining Riwayat Kesehatan melalui Aplikasi Mobile JKN, chat Whatsapp PANDAWA di nomor 08118165165, melalui situs www.bpjs-kesehatan.go.id, atau dengan mengunjungi langsung Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar.
Dalam skrining ini, sistem mengarahkan peserta JKN untuk menjawab sejumlah pertanyaan mengenai gaya hidup, riwayat penyakit diri sendiri, dan riwayat kesehatan keluarga. Prosesnya pun cukup singkat, yaitu berkisar antara 5-10 menit.
“Saat ini kami juga telah mengembangkan Program Prolanis Muda untuk menjawab tantangan meningkatnya penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus, yang kini juga banyak dialami oleh masyarakat usia di bawah 45 tahun. Melalui pendekatan berbasis komunitas, Prolanis Muda diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku hidup sehat secara berkelanjutan di kalangan generasi muda,” jelasnya.
Rizzky juga mengingatkan bahwa Program JKN mengusung konsep gotong royong. Sumber dana utama Program JKN berasal dari iuran pesertanya. Peserta JKN yang sehat membantu membiayai peserta yang sakit.
Oleh karena itu, pihaknya berharap masyarakat dapat turut serta mendukung keberlanjutan Program JKN di masa depan, dengan cara menjaga kesehatan diri sendiri dan keluarga melalui penerapan pola hidup sehat. Misalnya, aktif bergerak dan berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menghindari kebiasaan merokok, dan lain sebagainya.
“Selain bermanfaat untuk memantau kesehatan peserta JKN, Skrining Riwayat Kesehatan juga berdampak besar dalam pengendalian pengeluaran biaya untuk penyakit kronis. Seandainya kondisi para peserta yang berisiko mengidap penyakit kronis tidak terdeteksi dan tidak ditangani sejak awal, kemungkinan besar kondisinya bisa makin parah. Imbasnya, bisa jadi biaya untuk mengobati penyakit kronis akan jauh lebih besar,” kata Rizzky. Drm/Jk-MD



