Putu Tika Dorong Putra Daerah Pulang Mengabdi ke Klungkung

Sebut Sejumlah Pejabat Moncer Termasuk Birokrat Medis I Made Udayana

KLUNGKUNG, MataDewata.com | Anggota DPRD Kabupaten Klungkung, Putu Tika Winawan, mendorong Bupati Klungkung I Made Satria membuka ruang seluas-luasnya bagi putra-putri daerah yang selama ini berkarier di luar Klungkung untuk pulang dan menunjukkan kemampuan mengabdi di tanah kelahirannya. Menurutnya, pengalaman dan kapasitas yang mereka peroleh di luar daerah dapat menjadi modal memperkuat pembangunan Klungkung.

Pernyataan itu disampaikan Tika, Minggu (4/10), saat menanggapi pergantian Sekda Klungkung Anak Agung Gede Lesmana menjadi Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM serta penunjukan I Gusti Agung Gede Putra Mahajaya sebagai Penjabat Sekda. Bupati Satria sebelumnya menyatakan pengisian Sekda definitif akan dilakukan melalui proses seleksi dan panitia seleksi (pansel), sehingga tidak dilakukan secara tergesa-gesa.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Klungkung yang membidangi SDM dan tata kelola pemerintahan itu, menilai keputusan Bupati Satria memberikan kesempatan kepada pejabat sebelumnya untuk menunjukkan kemampuan sebelum dilakukan pergantian, merupakan bagian dari evaluasi kinerja. Dia juga mengapresiasi langkah bupati menunjuk Pj Sekda terlebih dahulu sehingga roda pemerintahan tetap berjalan sembari proses seleksi Sekda definitif disiapkan.

Menurut Tika, pengisian Sekda definitif nantinya harus mengedepankan sistem meritokrasi. Artinya, kapasitas, rekam jejak dan kemampuan menjalankan tugas harus menjadi pertimbangan utama. Namun, dia menilai loyalitas kepada pimpinan juga menjadi bagian penting karena Sekda mempunyai posisi strategis dalam menjalankan roda pemerintahan.

“Senioritas saja tanpa loyalitas akan membuat pimpinan daerah tidak nyaman bekerja,” ujar Tika.

Dia menjelaskan, Sekda bukan hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi menjadi jembatan komunikasi antara bupati dengan DPRD, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perangkat daerah dan berbagai instansi lainnya. Karena itu, figur yang mengisi jabatan tersebut harus mampu membangun komunikasi dan menerjemahkan kebijakan kepala daerah ke dalam kerja birokrasi.

Baca juga :  Proyek Senilai Rp1,2 Triliun Jadi Pelabuhan Perikanan Terbesar di Indonesia, Dorong Ekonomi Kerthi Bali Lewat Sektor Kelautan

Meski demikian, Tika menegaskan pengisian Sekda definitif tetap harus melalui mekanisme yang berlaku. Tidak boleh ada penunjukan langsung tanpa pembuktian kapasitas. “Harus dibuktikan dulu kinerjanya. Tidak langsung didefinitifkan. Jadi belum tentu Penjabat yang sekarang jadi definitif. Tetap melalui pansel,” katanya.

Dari pembahasan mengenai kebutuhan figur birokrasi itu, Tika kemudian menyinggung pentingnya membuka kesempatan bagi putra-putri Klungkung yang kini berkarier di berbagai daerah. Dia mengaku dalam sejumlah kunjungan kerja menemukan cukup banyak putra daerah yang memiliki pengalaman dan keinginan untuk bekerja secara kolektif membangun Klungkung.

Menurut dia, putra daerah memiliki sense of crisis atau kepekaan terhadap persoalan dan kondisi genting yang dihadapi daerah. Kepekaan itu, menurut Tika, dapat menjadi modal ketika mereka diberi ruang untuk ikut menyelesaikan persoalan daerah. Dalam konteks pemerintahan, sense of crisis berkaitan dengan kemampuan mengenali persoalan yang membutuhkan perhatian dan tindakan cepat sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Tika menyebut sejumlah putra daerah yang telah menempati posisi strategis di luar Klungkung. Di antaranya Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali I Dewa Nyoman Rai Dharmadi, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Badung Komang Budhi Argawa, serta Kepala Dinas Sosial Kota Denpasar I Gusti Ayu Laksmi Saraswati.

Baca juga :  Art Centre Dipadati Krama Bali saat Perayaan Tumpek Krulut

“Banyak putra daerah kita yang moncer di luar daerah. Kenapa tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan mengabdi di daerah sendiri?” kata Tika. Dia kemudian menyebut satu nama yang menurutnya memiliki latar belakang sangat relevan untuk dipertimbangkan pulang mengabdi di Klungkung, yakni I Made Udayana.

Udayana merupakan putra daerah yang memiliki perjalanan panjang di bidang pelayanan kesehatan dan manajemen rumah sakit. Berdasarkan curriculum vitae yang dihimpun, dia merupakan ASN RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah sejak 2002. Kariernya dimulai dari perawat pelaksana, kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi manajerial, termasuk Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan Rawat Inap dan Asisten Manajer Pelayanan Penunjang Nonmedik. Sejak Mei 2026, dia tercatat menjabat Manajer Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah.

Latar pendidikannya juga lintas disiplin. Udayana menyelesaikan pendidikan Doktor Ilmu Manajemen Universitas Udayana pada 2023, Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat pada 2017, Profesi Ners pada 2014, Sarjana Ilmu Hukum pada 2009, serta pendidikan keperawatan sebelumnya.

Pengalamannya tidak berhenti pada manajemen rumah sakit. Udayana juga memiliki kompetensi di bidang hukum kesehatan, manajemen risiko rumah sakit, akreditasi, kegawatdaruratan, kediklatan dan peningkatan mutu pelayanan. Dia pernah terlibat dalam Tim Reaksi Cepat rumah sakit dalam penanganan Bom Bali I, Bom Bali II dan gempa Bantul, serta menjadi bagian dari tim pendamping survei akreditasi internasional Joint Commission International (JCI) 2013.

Dengan latar tersebut, Tika berharap Udayana bersedia kembali memberikan pengabdian di Klungkung. Dia juga meminta Bupati Satria mempertimbangkan putra daerah dengan pengalaman seperti Udayana untuk ikut memperkuat pelayanan kesehatan di daerah. “Klungkung memanggil. Saya berharap Saudara Bupati mempertimbangkan beliau untuk mengabdi di Klungkung,” ujar Tika.

Baca juga :  Pj. Gubernur Bali S.M Mahendra Jaya Ajak PT Telkom Indonesia Bali Hadir Membangun Kecerdasan Generasi Bangsa

Tika mengatakan, apabila gagasan tersebut dapat direalisasikan, kontribusi yang diharapkan bukan sekadar menambah daftar pejabat atau mengisi struktur organisasi. Dia ingin pengalaman manajemen dan pelayanan kesehatan yang dimiliki Udayana dapat diterjemahkan menjadi perubahan yang dirasakan langsung masyarakat.

Salah satu yang menjadi sorotannya adalah penguatan fungsi puskesmas. Menurut Tika, puskesmas harus benar-benar hidup dan berdaya, baik dari sisi pelayanan maupun pengelolaan, sehingga masyarakat merasakan perubahan kualitas layanan kesehatan ketika datang mendapatkan pelayanan.

“Harapannya setiap puskesmas menjadi lebih hidup, lebih berdaya, dan perubahan kualitas pelayanannya benar-benar dirasakan masyarakat. Bukan sekadar pelengkap administrasi,” tegasnya.

Bagi Tika, gagasan membuka ruang bagi putra daerah tersebut tidak hanya berkaitan dengan satu nama atau satu jabatan. Dia melihat Klungkung memiliki banyak sumber daya manusia yang telah menempa pengalaman di berbagai daerah dan institusi. Tantangannya adalah bagaimana pengalaman tersebut dapat dibawa pulang dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan daerah.

Karena itu, proses seleksi pejabat maupun pengisian posisi strategis di Pemkab Klungkung, menurut dia, harus tetap berjalan berdasarkan mekanisme dan sistem merit. Pada saat bersamaan, ruang pengabdian bagi putra-putri Klungkung di seluruh Bali perlu dibuka agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kapasitas dan kontribusinya bagi daerah asal. Ksa/Hk-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button