Kerajinan Saab Mute Nagasepaha Buleleng Bertahan dengan Inovasi Motif

BULELENG, MataDewata.com | Kerajinan saab mute di Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, masih terus bertahan di tengah arus perubahan zaman. Kerajinan tradisional yang dibuat dari paduan daun lontar atau ental, kain beludru, dan manik-manik (mute). Tidak saja berfungsi untuk keperluan upacara adat dan keagamaan Hindu, tetapi juga memiliki nilai ekonomi serta menjadi identitas budaya desa.

Baca juga :  Dekranasda Tabanan Bawa Kriya Lokal ke Kriyanusa 2026 Jakarta

Perbekel Desa Nagasepaha, I Wayan Sumeken, S.Sos., menyampaikan saab mute merupakan ikon penting desa. Keterampilannya membuatnya telah diwariskan secara turun-temurun sejak era tahun 1990-an. “Ini ikon kita. Kami ingin saab mute bisa menjadi salah satu ikon Desa Nagasepaha dan terus dikembangkan sebagai warisan budaya tak benda,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/9/2026).

Baca juga :  Barungan Agung, Kolaborasi Empat Sekaa Hipnotis Penonton

Meskipun sempat mengalami penurunan jumlah perajin, sejumlah warga dan ibu rumah tangga seperti Kadek Puniantari tetap setia melestarikan kerajinan tersebut untuk menambah pendapatan keluarga. Pemerintah desa bersama perguruan tinggi dan perangkat daerah terus memberikan dukungan melalui pelatihan, bantuan bahan, hingga pendampingan inovasi motif agar kerajinan berharga terjangkau ini tetap kompetitif di pasaran. Bl-MD

Baca juga :  Pembukaan Bulan Bahasa Bali Tanpa Penonton

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button