Gubernur Koster Ajak Mahasiswa Jadikan Membaca dan Berdiskusi sebagai Budaya Intelektual

DENPASAR, MataDewata.com | Gubernur Bali, Wayan Koster, mengajak mahasiswa menjadikan membaca dan berdiskusi sebagai budaya intelektual yang harus terus dipelihara di tengah derasnya arus informasi di era digital. Kemudahan mengakses informasi saat ini tidak boleh menghilangkan kebiasaan membaca secara mendalam. Justru kemampuan untuk membaca dengan sabar dan penuh konsentrasi akan menjadi nilai lebih bagi generasi muda.
Hal itu, disampaikan Koster saat memberikan sambutan dalam acara Bedah Buku bertajuk βMarhaenisme: Dalil Baru untuk Gen-Z yang diselenggarakan oleh Universitas Mahasaraswati Denpasar, di Auditorium Saraswati, Selasa (21/7/2026).
“Jadikan membaca sebagai kebiasaan yang tidak bisa ditawar. Di era dimana segala sesuatu bisa diakses dengan cepat dan mudah, justru kemampuan untuk duduk dan membaca secara mendalam dengan kesabaran dan konsentrasi akan menjadi keistimewaan yang semakin langka dan semakin berharga,” ujar Koster.
Koster juga mendorong mahasiswa menjadikan diskusi sebagai bagian dari kehidupan akademik. Perbedaan pandangan seharusnya menjadi ruang untuk saling belajar, bukan menjadi alasan untuk bermusuhan.
“Jadikan diskusi sebagai cara hidup. Jangan jadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk bermusuhan, melainkan sebagai kesempatan untuk saling belajar dan saling memperkaya. Kemampuan untuk tidak setuju dengan seseorang sambil tetap menghormatinya sebagai manusia adalah salah satu kecakapan paling penting yang dimiliki oleh setiap keluarga demokratis yang dewasa, ujarnya.
Menurutnya, budaya saling menghargai harus terus dibangun di kalangan generasi muda agar perbedaan tidak berujung pada perpecahan. “Jadi pikiran itu semuanya harus dimaknai secara positif. Jadi saling membangun, saling memberi tempat,” ucapnya.
Di akhir pesannya, Koster mengingatkan bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Bawalah nilai-nilai yang dipelajari di kampus menjadi sesuatu yang nyata dalam kehidupan. Pengetahuan yang tidak diaplikasikan adalah pengetahuan yang tidak berguna. Jadikanlah pemahaman tentang keadilan, kemanusiaan dan keberpihakan kepada yang lemah sebagai kompas yang memandu setiap keputusan yang kita ambil, baik dalam karier, dalam kehidupan masyarakat, hingga dalam kepemimpinan, tutupnya. On-MD



