BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome
Lewat Pendekatan Value-Based Health Care

CIMAHI, MataDewata.com | BPJS Kesehatan terus berkomitmen mendorong transformasi layanan kesehatan jantung pada Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pendekatan Value-Based Health Care. Pendekatan inovatif ini secara khusus menempatkan indikator health outcomes serta total biaya sepanjang siklus pelayanan sebagai dasar utama dalam menciptakan nilai tambah dan mutu pelayanan bagi peserta.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menyampaikan bahwa transformasi layanan semacam ini sangat mendesak untuk dilakukan guna menjawab tantangan peningkatan biaya pelayanan kesehatan secara nasional, sekaligus memastikan bahwa pembiayaan dari Program JKN benar-benar memberikan manfaat kesehatan yang optimal bagi seluruh rakyat Indonesia.
Menurutnya, keberlanjutan Program JKN di masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan finansial institusi dalam membiayai pelayanan kesehatan, melainkan juga oleh kapasitas sistem dalam memastikan tercapainya outcome kesehatan yang jauh lebih baik bagi masyarakat.
“Tantangan peningkatan biaya pelayanan kesehatan terlihat dari tingginya pembiayaan di rumah sakit. Dari data BPJS Kesehatan, total biaya pelayanan kesehatan Program JKN pada 2025 mencapai Rp191,3 triliun, dengan sekitar 87,1 persen realisasi pembiayaan berasal dari pelayanan di rumah sakit,” terang Pujo.
Pujo menambahkan, penanganan penyakit jantung menjadi salah satu fokus perhatian utama dalam ekosistem Program JKN seiring dengan tingginya tingkat utilisasi layanan serta besaran biaya yang dibutuhkan. Tercatat pada tahun 2025 saja, kasus penyakit jantung yang dijamin oleh Program JKN mencapai lebih dari 29,7 juta kasus dengan total pembiayaan menembus angka Rp17,35 triliun.
“Tingginya kebutuhan pelayanan jantung dalam ekosistem JKN perlu diantisipasi sejak dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dengan mengendalikan faktor risiko. Banyak kasus penyakit jantung yang merupakan dampak faktor risiko yang tidak terkendali di hulu, untuk itu perlu penguatan pelayanan di tingkat FKTP,” jelasnya.
Dalam kerangka pendekatan Value-Based Health Care, FKTP diperkuat secara optimal sebagai fondasi utama dalam pengendalian kasus jantung melalui peningkatan upaya promotif dan preventif. Penguatan tersebut mencakup pemantauan ketat terhadap tekanan darah dan kadar gula darah, pemeriksaan rutin HbA1C, edukasi kepatuhan minum obat bagi pasien, serta pengawasan intensif terhadap peserta yang masuk dalam kategori berisiko tinggi.
Sementara itu, di tingkat rumah sakit, BPJS Kesehatan mendorong pelayanan medis yang lebih berorientasi pada mutu dan outcome klinis jangka panjang. Berbagai pendekatan strategis yang dikembangkan meliputi pengambilan keputusan klinis terpadu melalui tim medis khusus (Heart Team), penerapan tata laksana klinis yang sesuai dengan standar pedoman medis, pemanfaatan pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR), hingga prosedur staged revascularization.
Pujo menuturkan lebih lanjut bahwa BPJS Kesehatan kini juga tengah mendorong pergeseran indikator monitoring mutu penjaminan layanan intervensi jantung. Fokus pemantauan dialihkan dari sekadar indikator proses menuju indikator outcome yang nyata, seperti waktu tanggap kritis (response time), tingkat keselamatan pascatindakan, akurasi intervensi medis, kualitas masa pemulihan pasien, tingkat kepatuhan terhadap protokol klinis, hingga efisiensi sistem rujukan berjenjang.
“Kita ingin mengubah paradigma dari paying for services menjadi purchasing better outcomes, dari treating events menjadi preventing events, serta dari mengukur utilisasi menjadi mengukur outcome,” tegas Pujo.
Mewakili Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) III Siliwangi, Pamen Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Lingkungan Hidup, Tri Adrijanto Santoso, menyatakan dukungannya terhadap langkah transformasi ini. Menurutnya, layanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya bergantung pada ketersediaan peralatan medis yang canggih, tetapi juga pada kemudahan akses, kecepatan penanganan, serta keramahan kualitas pelayanan bagi masyarakat.
“Kodam III Siliwangi mendukung program pemerintah dalam upaya promotif dan preventif, termasuk melalui edukasi kepada masyarakat. Dengan kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat menjadi kontribusi positif dalam peningkatan kualitas kesehatan,” ujar Tri Adrijanto Santoso.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Rumah Sakit (Rumkit) Tingkat II Dustira, Kolonel Ckm dr. Muchlas Fahmi, Sp.M., menegaskan komitmen institusinya untuk terus meningkatkan standar mutu pelayanan medis bagi para pasien, khususnya dalam bidang penanganan penyakit jantung beserta seluruh layanan penunjangnya.
“Pemanfaatan layanan jantung oleh peserta JKN di RS Dustira bisa dikatakan tinggi. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, RS Dustira telah melayani 975 pasien cathlab yang semuanya merupakan peserta JKN,” ungkap Muchlas Fahmi.
Ia menambahkan bahwa pelayanan kesehatan merupakan sebuah proses yang berkesinambungan, sehingga peningkatan mutu layanan harus senantiasa dilakukan secara konsisten demi menghadirkan pelayanan yang cepat, tepat, aman, bermutu tinggi, dan berpusat pada kepuasan pasien (patient-centered care).
Sementara itu, Koordinator BPJS Watch, Timbul Siregar, menyoroti bahwa penyakit jantung merupakan salah satu kategori penyakit katastropik dengan pembiayaan tertinggi yang dijamin oleh Program JKN. Oleh karena itu, penekanan angka kejadian penyakit ini harus dimulai dari akar masalah melalui penguatan gaya hidup sehat di tengah masyarakat.
“Penyakit jantung perlu menjadi perhatian pemerintah karena salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penyakit tersebut berkaitan dengan gaya hidup. Untuk menekan tingginya angka penyakit tersebut, diperlukan upaya promotif dan preventif, termasuk menerapkan pola hidup sehat,” ucap Timbul Siregar.
Ia juga menyambut baik langkah BPJS Kesehatan yang konsisten mendorong peningkatan efisiensi pembiayaan melalui penerapan pendekatan ValueBased Health Care berbasis outcome, mengingat derajat kesehatan yang prima merupakan modal utama dalam membangun bangsa yang produktif. Drm-MD



