Barungan Agung, Kolaborasi Empat Sekaa Hipnotis Penonton

GIANYAR, MataDewata.com | Open Stage Balai Budaya Gianyar, Senin (13/4/2026) malam, terasa berbeda. Riuh tepuk tangan dan decak kagum ribuan penonton yang memadati Alun-alun Gianyar pecah sejak Sekaa Gong Kebyar Anak-anak Sanggar Cudamani memasuki panggung. Open Stage Balai Budaya Gianyar mendadak “panas” oleh energi muda saat pementasan Gong Kebyar Barungan Agung serangkaian Pekan Budaya Gianyar.

Bukan sekadar pementasan, malam itu menghadirkan konsep yang jarang terlihat, di mana empat sekaa gong dipadukan dalam satu panggung besar. Dua di antaranya diproyeksikan sebagai Duta Gianyar tahun 2026 yakni Gong Kebyar Anak-anak dan Gong Kebyar Wanita, sementara dua lainnya menjadi pendamping sekaligus “penantang” yang akan disiapkan untuk tahun berikutnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, menyebut konsep ini sebagai Parade Gong Kebyar Barungan Agung. “Ini pertama kalinya di Gianyar, bahkan di Bali penyatuan empat sekaa dalam satu konsep pertunjukan yang utuh. Kami ingin menghadirkan akulturasi pertunjukan yang lebih kompleks, sekaligus memberi ruang eksplorasi bagi para seniman,” ujarnya.

Baca juga :  Bank BPD Bali Tingkatkan Penjualan Layang-Layang di Tengah Pandemi Secara Cashless

Dari sisi panggung, atmosfer terasa hidup. Gong Kebyar Anak-anak Banjar Kebon Bona Blahbatuh tampil penuh percaya diri, berhadapan langsung dengan energi eksplosif dari Cudamani Pengosekan Ubud. Sementara di segmen wanita, Sanggar Lila Janaki Batuan Sukawati menyuguhkan kehalusan gerak yang berpadu dengan dinamika tabuh dari Sanggar Alit Sundari Batuyang. Penonton dibuat larut dari tabuh yang menghentak hingga tari yang penuh ekspresi.

Lebih dari sekadar tontonan, pergelaran ini membawa pesan kuat memuliakan warisan leluhur yang mengangkat pesona Gianyar. Tembang, tabuh, dan tari yang dibawakan bukan hanya hasil latihan teknis, tetapi juga representasi identitas budaya Gianyar yang terus hidup dan berkembang.

Baca juga :  Gubernur Wayan Koster Dan Tjok Oka Sukawati Tutup Bulan Bahasa Bali Ke-V Tahun 2023

“Pergelaran ini adalah persembahan utama untuk masyarakat Gianyar sendiri, sebelum nanti dibawa ke panggung yang lebih luas seperti PKB. Ini tentang tanah kelahiran, tentang generasi, dan tentang keberlanjutan budaya,” tegas Adi Parbawa.

Meskipun para seniman yang tampil pada malam tersebut disiapkan untuk Pesta Kesenian Bali, Adi Parbawa menegaskan bahwa Gianyar tidak pernah kehabisan inovasi dalam hal seni.

“Generasi muda Gianyar merupakan talenta-talenta yang tidak pernah kehabisan ide dan inovasi, hari ini mereka tampil dalam Barungan Agung sesuai tema Pekan Budaya Gianyar yakni Prasada Bhakti Ulangun, yang berarti kemuliaan pesona Gianyar. Tentunya nanti pasti akan ada inovasi baru untuk PKB yang menyesuaikan dengan Tema PKB yakni Atma Kerthi,” ujarnya penuh bangga.

Baca juga :  Pesona Utsawa Busana Adat 2024 di PKB, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya Dukung Peragaan Busana Ciri Khas Kabupaten Tabanan

Hal senada disampaikan perwakilan Majelis Kebudayaan Bali Kabupaten Gianyar, I Wayan Sudirana. Menurutnya, panggung seperti ini sangat penting sebagai ruang kaderisasi.

“Ini langkah konkret pemerintah dalam membina generasi muda di bidang seni. Mereka tidak hanya belajar, tapi langsung diuji di panggung,” ujarnya.

Barungan Agung serangkaian Pekan Budaya Gianyar pun tak berhenti di satu malam. Pada Selasa (14/4), giliran Gong Kebyar Dewasa Duta Gianyar 2026 dari Sanggar Naya Art Batubulan akan tampil bersanding dengan gong dewasa pendamping menjadi lanjutan “pemanasan” menuju panggung besar Bali. Di tengah gemuruh gong dan sorak penonton, satu hal terasa jelas Gianyar tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga terus menghidupkannya dengan cara yang segar, kolaboratif, dan penuh daya ledak artistik. Hg-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button