Pariwisata

Kecak Dance Titi Situ Banda Sambut Kunjungan Wisatawan di Pantai Melasti

Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19

BADUNG, MataDewata.com | Pantai Melasti (Stunning Beach In Bali) yang dikembangkan dengan konsep harmonisasi Tri Hita Karana kini semakin menampakkan capaiannya untuk siap menjadi destinasi wisata internasional premium class. Ditambah dengan hadirnya pementasan Kecak Dance Titi Situ Banda di Panggung Budaya Praharsacitta Pantai Melasti menyambut geliat pariwisata dan kunjungan wisatawan dunia ke Bali.

Bendesa Adat Ungasan, I Wayan Disel Astawa, SE., mengatakan, pengelolaan Pantai Melasti sebagai Daya Tarik Wisata (DTW) sesuai Peraturan Bupati Badung Nomer: 4 Tahun 2018. Sepenuhnya ditujukan untuk mensejahterakan masyarakat berdasarkan kearifan lokal serta seirama visi misi Gubernur Bali yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

“Masyarakat Desa Adat Ungasan mengucapkan rasa terimakasih kepada Bapak Bupati Badung (I Nyoman Giri Prasta, red) yang telah memberikan napas kehidupan masa depan terhadap masyarakat Ungasan dan Pura Kahyangan Tiga dan Parahyangan desa melalui Perbup Nomer: 4 Tahun 2018 tentang DTW Pantai Malasti. Tentu kami tetap meminta arahan kepada pemerintah agar memberikan kemudhaan-kemudahan regulasi agar desa adat tetap berjalan seirama dengan pemeritah menuju Santi Jagadita,” ujarnya, Senin (13/12/2021).

Foto: Bendesa Adat Ungasan, I Wayan Disel Astawa, SE. (dok/ist).

Pementasan Tari Kecak perdana telah dimulia tanggal 20 November 2021. Sebagai pengenalan kelengkapan baru destinasi wisata berbasis budaya Bali, pementasan dilaksanakan pada hari Jumat hingga Minggu. Melibatkan 15 banjar adat yang dibagi menjadi tiga grup dengan total penari Cak 125 ditambah 22 orang penari fragmen. “Kita kemas Pantai Melasti sebagai tulang punggung desa kedepan. Melibatkan masyarakat dari 15 banjar adat,” tegas Disel Astawa.

Ditambahkan, pementasan Tari Kecak akan segera dilaksanakan secara penuh dalam satu minggu seiring peningkatnya kunjungan wisatawan untuk melihat matahari terbenam dari Pantai Melasti. Kedepan juga disiapkan berbagai pementasan seni dan budaya untuk menjawab permintaan dari wisatawan yang akan datang.

http://www.pantaimelasti.com

“Kecak baru kita buka reguler sehabis Hari Raya Kuningan. Kita juga siap menambah pementasan seni dan budaya yang dimiliki Desa Adat Ungasan bila ada permintaan dari tamu. Untuk Tari Kecak sudah ada penonton rata-rata 150 sampai 200 setiap pementasannya. Harapannya nanti target penonton sampai seribu orang sesuai kapasitas panggung,” jelasnya.

Anggota DPRD Provinsi Bali ini juga menegaskan, implementasi visi misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali benar-benar dijalankan, sehingga kawasan Pantai Melasti tidak dikembangkan dari sisi bisnis saja. “Konsepnya lengkap untuk menjaga dan melestarikan adat, budaya dan agama Hindu,” terangnya.

Foto: Pementasan Tari Kecak Dance saat matahari terbenam (dok/ist).

Melalui pentas seni dan budaya di Pantai Melasti dengan memperdayakan masyarakat lokal dijadikan sebagai salah satu solusi menjawab permasalahan ekonomi di tengah pandemi Covid-19. “Secara prinsip kita tidak boleh mati (kesulitan, red) dari sisi ekonomi dalam keadaan pandemi. Tapi bagaimana kita harus tetap menjaga ekonomi masyarakat dan kesehatan juga tetap terjaga, itu yang lebih penting,” ucapnya.

Keberadaan Pura Segara juga dijelaskannya menjadi perpaduan kekuatan bagi pengelola untuk mengkolaborasikan antara pertunjukan seni dan budaya dengan upacara keagamaan bagi masyarakat Desa Adat Ungasan. Dimanfaatkan 38 Pura Panti dan Paibon untuk kegiatan melasti dan Nyekah (kelanjutan prosesi Ngaben) tentu turut menjaga kesakralan setiap pengembangan kawasan.

Foto: Taman Angsoka Pantai Melasti (dok/ist).

DTW Pantai Melasti sebagai bagian usaha milik desa adat juga berkontribusi bagi Pura dan Perahyangan milik desa, sehingga bisa mendukung berbagai kegiatan adat dan keagamaan untuk meringankan beban masyarakat. Bahkan setiap banjar adat juga telah disiapkan kios untuk dimanfaatkan mendukung peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa.

“Ini juga sebagai sanannya (laba, red) Kahyangan Tiga dan Parahyangan Desa yang setiap tahun menghabiskan biaya upacara dan upakara dua miliar rupiah. Enam bulan selalu menghaturkan pujawali dengan 10 pura. Belum Melasti, Kesanga, Melasti Nangluk, lengkap sudah semua sumbernya dari pengelolaan Pantai Melasti,” beber Disel Astawa.

Foto: Jegeg Bagus Ungasan berpose di Depan Kori Agung Pantai Melasti (dok/ist).

Didukung penerapan protokol kesehatan (Prokes) ketat mulai pintu masuk dan Aplikasi PeduliLindungi, Pantai Melasti siap menyambut Kepariwisataan Bali Era Baru. Penyerapan sekitar 1.000 tenaga kerja sektor usaha termasuk pada pengelolaan dari tukang sapu, Pecalang hingga Pemangku hampir keseluruhannya telah tervaksin. “Jadi inilah harapan masa depan. Di tengah pandemi masih bisa bernafas (menggeliatkan ekonomi, red). Semua dilakukan untuk desa,” terang wakil rakyat yang dikenal vokal itu.

Sejalan dengan program Presiden RI, Joko Widodo untuk menggalakkan ekonomi kreatif dan UMKM, Pengelola Pantai Melasti juga terlihat jelas turut mewujudkan konsep Trisakti Bung Karno yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Secara tidak langsung eksistensi DTW Pantai Melasti turut berkontribusi bagi peningkatan pendapatan daerah melalui penerimaan pajak hotel dan restauran.

Foto: Anjungan Watu Gangga Pantai Melasti (dok/ist).

Menjadikan Kecak Dance Titi Situ Banda sebagai salah satu daya tarik baru bagi pantai dengan icon “Angsa Bercinta” ini, melengkapi terbangunnya tiga buah Beach Club, dengan panorama tebing kembar (The Twin Hils), Taman Angsoka, Kori Agung dan Kuliner Rakyat. Pantai Melasti dengan banyak spot indah juga menjadi pilihan tepat untuk prewedding dan tempat mengabadikan momen bahagia lainnya.

Kordinator Cak Tiga Pantai Melasti, I Made Dira mengatakan, pementasan Tari Cak selain menawarkan keindahan matahari terbenam juga menyajikan keindahan Anjungan Watu Gangga yang memiliki fungsi sebagai pemecah ombak dan dimanfaatkan kelompok nelayan setempat. Dalam waktu dekat juga akan ditambah dengan dibukanya beach club berupa kapal pinisi sebagain icon baru untuk wedding dan prewedding.

“Harapan bagi kita di Ungasan memiliki wadah kreatifitas dan bisa mendapatkan tambahan di luar pekerjaan pokok. Sebagai One Stop Destination disini telah didirikan restoran, ada paralayang, beach club dan spot indah lainnya. Kita akan terus mempromosikan Pantai Melasti dengan pertunjukan reguler. Kita juga siapkan seni lainnya seperti Barong Dance dan Fire Dance untuk dipertontonkan sifatnya,” tutur Made Dira diakhir pementasan, Senin (13/12/2021). MD-9

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close