Warga Geram BBM Nyaris Tidak Tersedia di Sejumlah SPBU Daerah Denpasar

DENPASAR, MataDewata.com | Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Denpasar mulai memicu kemarahan warga. Masyarakat yang berharap dapat memperoleh BBM untuk menunjang aktivitas sehari-hari justru dihadapkan pada antrian dan ketidakpastian ketersediaan stok.
Kondisi ini, membuat warga geram, terlebih ketika mereka harus menunggu cukup lama tanpa kepastian apakah BBM yang dibutuhkan masih tersedia. Kondisi ini mengganggu mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi dan memunculkan pertanyaan mengenai kejelasan informasi serta kelancaran distribusi BBM di lapangan, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan pantauan MataDewata.com di lapangan didapati antrean panjang kendaraan mulai mengular di sejumlah SPBU Denpasar bahkan sejak pukul 03:00 dini hari. Kekesalan warga kian memuncak lantaran setelah rela menunggu berjam-jam sejak, stok BBM di lokasi nyatanya kosong.
Ironisnya, di awal antrian sempat ada respons dari pegawai SPBU yang memberi harapan ketersediaan bahan bakar, namun berujung pada kekecewaan karena pasokan fisik sama sekali tidak ada.
Situasi ini menuai kritik keras oleh masyarakat yang mulai geram terhadap pihak terkait yang memiliki dalam menjamin ketersediaan kebutuhan dasar publik. Sorotan dan keluhan warga pun merebak di lokasi antrean, menggambarkan kekecewaan mendalam atas kondisi yang menghimpit ekonomi mereka.
“Sudah mahal langka lagi,” keluh salah seorang warga di lokasi antrian SPBU kawasan Jl. Nangka Utara.
Tidak hanya jenis bahan bakar bersubsidi, warga juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM non-subsidi di lapangan. Hal ini memicu pertanyaan besar terkait ke mana alur distribusi energi yang seharusnya dijamin kelancarannya oleh otoritas terkait. “Pertamax pun Ndak ada,” cetus warga lainnya ketika mendengar cerita dari warga lainnya.
Kondisi kelangkaan ini sangat dirasakan oleh masyarakat. Meski warga sudah siap untuk membeli dengan harga yang berlaku, ketersediaan fisik barang justru tidak dijumpai di lapangan. Hal ini secara langsung mengganggu mobilitas harian dan produktivitas warga yang bergantung pada transportasi untuk bekerja.
“Ada uang tapi tidak ada minyaknya,” ujar salah seorang warga dengan nada kecewa.
“Gimana orang mau kerja kalau begini,” timpal warga lain yang terhambat mobilitasnya akibat kendaraan kekurangan bahan bakar.
Kekesalan warga kian beralasan sebab minimnya informasi di awal membuat warga terpaksa membuang waktu dan berpindah-pindah SPBU tanpa hasil. Salah satu warga menceritakan pengalamannya yang terpaksa pulang dengan tangki kendaraan tetap kosong meski sudah mendatangi dua lokasi berbeda.
”Saya sudah 2 kali tadi disana juga kita menunggu kirain itu bensin ternyata solar. Sampai sejam kita tunggu baru di ada pegawai yang bilang minyaknya habis, ini bukan bensin, ini solar,” bebernya meluapkan kekecewaan.
“Disini tadi dibilang ada kok tiba-tiba bilang nggak ada,” tambahnya.
Ketidakpastian persediaan dan antrian yang makin mengular, masyarakat terpaksa menunggu tanpa kepastian yang jelas dari petugas lapangan maupun pengelola SPBU. Ia kemudian pun menyindir lambatnya respons penanganan yang berpotensi memicu kerawanan sosial akibat penumpukan massa. “Tunggu aja siapa tau mereka takut karena banyak yang nunggu nanti membludak disini,” lanjutnya.
Sementara itu, pihak pengelola melalui pegawai SPBU di lokasi berupaya memberikan penjelasan kembali bahwa pasokan BBM memang dalam kondisi habis total. ”Sing ade bensin pak, habis, di Padma mare ade pak (Tidak ada bensin pak, habis, di Padma baru ada pak),” ujar petugas SPBU memberikan pengarahan.
Diketahui, sehari sebelumnya Gubernur Bali, Wayan Koster memanggil jajaran PT Pertamina Patra Niaga dan Hiswana Migas di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, pada Senin (12/10/2026) pukul 11:00 Wita terkait krisis dan kelangkaan BBM di Bali.
Melalui pertemuan itu, pihak Pertamina berjanji akan segera melakukan percepatan distribusi dan alokasi BBM. Namun, komitmen tersebut kini dipertanyakan oleh warga yang di lapangan justru masih kesulitan mencari bahan bakar. Kelangkaan BBM di Denpasar menjadi ujian keras bagi regulator dan Pertamina.
Ketidakpastian stok dapat mengganggu kenyamanan dan mengancam ekonomi masyarakat, terutama warga yang hendak bekerja. Pihak berwenang dituntut segera melakukan evaluasi total dan menjamin ketersediaan pasokan tanpa alasan teknis yang mengorbankan masyarakat. On-MD



