Puskor Hindunesia Hadir untuk Anak Panti Asuhan Tat Twam Asi, Teguhkan Kepedulian terhadap Generasi Hindu

DENPASAR, MataDewata.com | Kepedulian terhadap anak-anak yatim piatu Hindu tidak cukup diwujudkan melalui bantuan kebutuhan sehari-hari. Pemenuhan kebutuhan spiritual, pendampingan keagamaan, serta kesempatan menjalankan tradisi sesuai ajaran Hindu juga menjadi bagian penting dalam memastikan anak-anak tumbuh dengan identitas, kepercayaan diri, dan rasa memiliki terhadap komunitasnya.
Ketua Umum Dewan Koordinator Nasional (Dekornas) Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia), Ida Bagus K. Susena, mendukung pelaksanaan upacara metatah bagi anak-anak di Panti Asuhan Tat Twam Asi, Denpasar, Selasa (13/10/2026).
Ia menekankan bahwa dukungan tersebut menjadi wujud kepedulian terhadap kebutuhan spiritual anak-anak sekaligus upaya menjaga keberlangsungan tradisi dan nilai-nilai keagamaan Hindu.
Menurut Susena, di tengah keterbatasan dukungan keluarga yang dialami sebagian anak panti asuhan, kehadiran organisasi keagamaan dan masyarakat diharapkan dapat membantu memastikan kebutuhan spiritual mereka memperoleh perhatian yang semestinya.
Ia menilai kehadiran dan kepedulian Puskor Hindunesia terhadap anak-anak panti asuhan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan pengabdian kepada umat. Anak-anak yang kehilangan orang tua atau tidak dapat tumbuh bersama keluarga membutuhkan lingkungan yang mendukung perkembangan fisik, mental, pendidikan, dan spiritual mereka.
Susena menjelaskan bahwa dalam perspektif Hindu, semangat Tat Twam Asi mengajarkan kesadaran bahwa penderitaan dan kebahagiaan orang lain patut menjadi perhatian bersama. Nilai tersebut menjadi landasan moral bagi tumbuhnya kepedulian, solidaritas, dan tindakan nyata untuk membantu sesama tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kondisi keluarga.
Karena itu, dukungan terhadap upacara metatah di Panti Asuhan Tat Twam Asi menjadi bagian dari pelayanan keagamaan yang lebih luas, yakni memastikan anak-anak Hindu yang berada dalam pengasuhan lembaga sosial tetap mendapatkan ruang untuk menjalani kehidupan spiritual dan tradisi keagamaannya.
Ia mengatakan dalam tradisi Hindu Bali, metatah atau mepandes merupakan salah satu upacara penting dalam perjalanan kehidupan seseorang. Pelaksanaannya mengandung makna simbolis dan tuntunan moral yang diwariskan melalui tradisi Hindu Bali.
Menurutnya, bagi anak-anak panti asuhan, kesempatan mengikuti upacara keagamaan juga dapat menjadi pengalaman bermakna untuk mengenal tradisi, memahami nilai-nilai Dharma, serta merasakan dukungan komunitas dalam perjalanan hidup mereka.
Karena itu, perhatian terhadap kebutuhan ritual dan pembinaan spiritual anak-anak perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan hak mereka atas pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan pengasuhan yang layak. Pelayanan keagamaan tidak seharusnya dipandang terpisah dari upaya membangun kesejahteraan anak secara menyeluruh.
Kepedulian terhadap anak-anak panti asuhan tidak dapat dibebankan hanya kepada pengelola yayasan. Pemerintah, organisasi keagamaan, dunia usaha, komunitas adat, dan masyarakat luas memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.
Puskor Hindunesia melalui gerakan sosial kemanusiaan menempatkan pelayanan kepada umat sebagai bagian dari pengabdian organisasi. Sebelumnya, dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-23 pada 2026, Puskor Hindunesia juga menyalurkan bantuan kepada sejumlah panti asuhan Hindu di Bali, antara lain berupa kupon makan dan botol minum bagi anak-anak asuh.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa perhatian terhadap panti asuhan dapat diwujudkan melalui bantuan kebutuhan praktis sekaligus kepedulian terhadap kehidupan sosial anak-anak.
Upaya semacam ini penting untuk terus dikembangkan agar anak-anak panti asuhan tidak hanya memperoleh bantuan ketika ada kegiatan tertentu, tetapi juga mendapatkan perhatian berkelanjutan dalam bidang pendidikan, kesehatan, pembinaan karakter, dan kehidupan keagamaan.
Dukungan terhadap pelaksanaan metatah di Panti Asuhan Tat Twam Asi menjadi pengingat bahwa keberpihakan kepada anak-anak yang membutuhkan perhatian merupakan bagian penting dari pengamalan Dharma dalam kehidupan bermasyarakat.
Kepedulian tersebut tidak berhenti pada pemberian dukungan terhadap suatu upacara. Lebih jauh, hal itu dapat menjadi momentum untuk memperkuat gotong royong umat Hindu dalam memastikan setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh secara sehat, berpendidikan, terlindungi, dan tetap terhubung dengan nilai-nilai spiritual serta budaya yang menjadi bagian dari kehidupannya.
Pada akhirnya, ukuran kepedulian sosial bukan hanya seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan seberapa konsisten masyarakat hadir mendampingi mereka yang membutuhkan.
Melalui semangat Tat Twam Asi Puskor Hindunesia diharapkan terus menjadi bagian dari gerakan bersama untuk merawat masa depan generasi muda Hindu, termasuk anak-anak yang tumbuh di panti asuhan, agar memperoleh kesempatan yang setara untuk menjalani kehidupan yang bermartabat, mandiri, dan berlandaskan Dharma. On-MD



