Pijat Tuina Sebagai Terapi Komplementer dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting

Libatkan Kader Posyandu di Empat Kabupaten/Kota

DENPASAR, MataDewata.com | Selama hampir sebulan secara berturut-turut, Tim Peneliti Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar yang terdiri atas Dr. I Wayan Juniarsana, SST, M.Fis., Ir. Hertog Nursanyoto, M.Kes., dan I Made Suarjana, SKM, M.Kes., serta didukung oleh perwakilan Himpunan Mahasiswa Jurusan Gizi (HMJ Gizi), sukses melaksanakan safari kesehatan. Kegiatan ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Latihan Penyegaran Kader yang diikuti oleh perwakilan kader Posyandu dari empat desa lokasi khusus (lokus) stunting di Bali.

Keempat wilayah tersebut meliputi Desa Bajera Utara di Kecamatan Selemadeg (Kabupaten Tabanan), Desa Pelaga di Kecamatan Petang (Kabupaten Badung), Desa Batubulan Kangin di Kecamatan Sukawati (Kabupaten Gianyar), serta Kelurahan Tegalkertha di Kecamatan Denpasar Barat (Kota Denpasar).

Menurut Wayan Juniarsana saat ditemui di Denpasar, rangkaian kegiatan ini merupakan tahapan pelaksanaan Penelitian Model Integrasi Ginalatrik (Edukasi Gizi, Pijat Tuina, dan Latihan Psikomotorik dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting dan Gizi Kurang pada Anak Balita di Provinsi Bali). Program ini merupakan bagian dari Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) di lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar.

Keterlibatan aktif HMJ Gizi dalam kegiatan ini pada dasarnya merupakan implementasi dari model inovasi pengabdian masyarakat yang dikembangkan Jurusan Gizi melalui konsep OSOB (one student one banjar). Melalui konsep tersebut, mahasiswa dilibatkan langsung ke tengah masyarakat sebagai agent of change untuk mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan.

Baca juga :  Cegah Penyakit Ginjal Kronik dengan Mengenali Penyebab dan Gejalanya

Dengan pengalaman langsung di lapangan, lulusan Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar diharapkan menjadi tenaga kesehatan yang siap pakai dan memahami secara mendalam persoalan kesehatan di wilayah kerjanya.

Antusiasme Kader dan Dukungan Pemerintah Desa

Seluruh kader Posyandu menyambut kegiatan ini dengan penuh antusias karena materi yang disajikan menghadirkan inovasi baru sebagai tambahan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola pelayanan Posyandu.

Perbekel Desa Pelaga, I Ordin, menyampaikan apresiasi dan harapan agar kegiatan ini memberikan dampak signifikan dalam upaya percepatan penurunan stunting sesuai target yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Badung. β€œKarena penyegaran kader ini merupakan kegiatan inovatif, kami berharap kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan posyandu dan menurunkan angka stunting di Desa Pelaga,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Batubulan Kangin juga menekankan pentingnya materi pelatihan ini serta mendorong para kader untuk menularkan ilmu yang didapat kepada rekan-rekan kader lain yang belum berkesempatan hadir.

Peran Penting Terapi Pijat Tuina

Dalam pemaparan materinya, narasumber pertama Dr. I Wayan Juniarsana, SST, M.Fis., menuturkan bahwa upaya penurunan stunting di Bali masih harus digencarkan mengingat masih ditemukannya persepsi yang keliru di masyarakat. Anak yang bertubuh lebih pendek dibandingkan teman sebayanya sering kali hanya dipandang sebagai gangguan pertumbuhan fisik semata, sehingga intervensi yang diberikan sebatas Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bernilai gizi tinggi.

Baca juga :  Update Penanggulangan Covid-19 di Bali

Padahal, PMT yang diberikan belum tentu dikonsumsi langsung oleh anak sasaran, bahkan kerap dikonsumsi oleh anggota keluarga lainnya. Faktor utama hilangnya selera makan pada anak stunting terjadi karena tubuh mereka belum siap menerima asupan gizi yang adekuat, dan sistem pencernaannya belum mampu menyerap zat gizi secara optimal.

Di sinilah letak urgensi dari terapi komplementer Pijat Tuina. Diadaptasi dari metode pengobatan tradisional China, terapi ini bertujuan meningkatkan selera makan, menstimulasi pertumbuhan, serta mencegah dan meredakan gejala penyakit pada anak.

Pijat Tuina dilakukan dengan menekan titik-titik akupunktur tertentu pada tubuh anak guna menstimulasi fungsi pencernaan dan mengharmonisasikan sirkulasi chi (pergerakan energi) dalam tubuh. Kelancaran aliran energi ini sangat menentukan kesehatan organ tubuh sehingga efektif mengatasi kesulitan makan dan mengejar ketertinggalan pertumbuhan anak stunting.

Monitoring Berbasis Jaringan dan Edukasi Gizi Seimbang

Untuk memastikan efektivitas intervensi, narasumber kedua, Ir. Hertog Nursanyoto, M.Kes., memperkenalkan pemanfaatan aplikasi berbasis jaringan yang memungkinkan pemantauan (monitoring) pertumbuhan dan perkembangan anak secara real-time. Melalui aplikasi ini, para kader dapat memperoleh informasi perkembangan anak secara cepat tanpa harus menunggu rekapitulasi laporan manual, sekaligus menjadikan edukasi gizi di Posyandu lebih tepat sasaran sesuai kondisi objektif anak.

Baca juga :  Sebanyak 722 Orang Sembuh Covid-19 di Kota Denpasar

Rangkaian penyegaran kader kemudian ditutup dengan penyampaian materi gizi seimbang oleh HMJ Gizi. Gizi seimbang pada dasarnya mencakup pengaturan jenis, jumlah, dan frekuensi pemberian makan yang tepat setiap harinya. Pola makan yang benar sangat krusial dalam mendukung proses tumbuh kembang anak, terutama ketika selera makan mereka mulai pulih berkat stimulasi Pijat Tuina.

Tanpa pemahaman gizi seimbang yang memadai, peningkatan nafsu makan anak justru berisiko memicu masalah gizi baru akibat kekeliruan pemberian makanan, seperti kasus gizi lebih akibat konsumsi makanan berkalori kosong (empty caloric) dan makanan cepat saji (junk food) secara berlebihan.

Pelatihan ditutup dengan sesi praktik langsung pengoperasian aplikasi monitoring tumbuh kembang berbasis jaringan oleh para kader dengan sasaran anak-anak yang mengalami masalah gizi di wilayah kerja Banjar Bukian. Para kader mengaku sangat terbantu dan puas dengan pelatihan ini, karena aplikasi tersebut mempermudah tugas pencatatan di lapangan serta memberikan panduan yang pasti dalam memilih tema edukasi bagi para ibu.

Melalui respons positif tersebut, para kader Posyandu diharapkan mampu bertransformasi menjadi agen perubahan yang handal dalam mengawal percepatan penurunan stunting di Provinsi Bali, sementara Tim Peneliti Jurusan Gizi bersama HMJ Gizi berkomitmen untuk terus konsisten melaksanakan pengabdian masyarakat demi mendongkrak kualitas kesehatan dan gizi publik. Hd-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button