Puskor Hindunesia Soroti Minimnya Dukungan Pemerintah bagi Ormas Hindu di Bali

DENPASAR, MataDewata.com | Pusat Koordinasi (Puskor) Hindunesia menyoroti minimnya perhatian pemerintah terhadap organisasi kemasyarakatan (ormas) Hindu berskala nasional di Bali. Menurut mereka, hingga kini ormas Hindu masih menghadapi keterbatasan anggaran dan belum memiliki sekretariat tetap untuk menjalankan berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan.
Ketua Umum Pusat Koordinasi Hindu Indonesia, Ida Bagus K. Susena menilai keberadaan ormas Hindu selama ini turut membantu pemerintah dalam pembinaan umat dan pelestarian nilai-nilai keagamaan masih dijalankan secara swadaya.
“Kami bergerak murni ngayah, murni tulus ikhlas. Sudah lebih dari 20 tahun kami bertahan. Kami tidak punya sekretariat. Rumah ketua yang sedang menjabat selalu dijadikan sekretariat organisasi,” ujarnya saat Audiensi bersama Komisi IV di Sekretariat DPRD Provinsi Bali, Senin (3/7/2026).
Menurutnya, sejumlah kondisi ini cukup ironis mengingat masih terdapat sejumlah aset pemerintah yang belum dimanfaatkan secara optimal, salah satunya Wisma Sejahtera yang dinilai layak dijadikan pusat kegiatan organisasi kemasyarakatan Hindu.
Susena juga berharap adanya kebijakan penganggaran yang lebih berpihak kepada ormas Hindu secara mandiri, tanpa harus bergantung pada lembaga lain. “Kami bukan berada di bawah Parisada. Kami adalah organisasi independen. Karena itu wajar jika ormas Hindu juga mendapatkan dukungan penganggaran secara independen,” ujarnya.
Disisi lain, ia mengingatkan bahwa penguatan organisasi Hindu tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga desa adat yang saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari alih fungsi lahan, kepentingan investasi, hingga pergeseran fungsi ritual menjadi sekadar tontonan.
Pembinaan mental dan spiritual generasi muda Hindu perlu mendapat perhatian lebih serius agar nilai gotong royong, adat, dan budaya Bali tetap terjaga di tengah pesatnya perkembangan zaman. “Kami ingin bersama-sama menjaga Bali, baik secara sekala maupun niskala, sehingga adat, budaya dan kehidupan keagamaan tetap menjadi fondasi pembangunan Bali ke depan,” pungkasnya. On-MD



