Puskor Hindunesia: Ini Tamparan Keras Ketika Kemiskinan Orang Bali Dipertontonkan

DENPASAR, MataDewata.com | Pusat Koordinasi (Puskor) Hindunesia menyoroti masih adanya kantong-kantong kemiskinan di Bali yang dinilai belum tersentuh secara optimal. Ketua umum Puskor Hindunesia Ida Bagus K. Susena menilai berbagai konten di media sosial yang menampilkan kondisi masyarakat miskin menjadi ironi di tengah citra Bali sebagai destinasi wisata dunia.
Susena mengapresiasi capaian Pemerintah Provinsi Bali yang berhasil meraih penghargaan nasional dalam penanggulangan kemiskinan dan stunting. Namun, capaian itu dinilai tidak boleh menutupi kenyataan bahwa masih terdapat kesenjangan sosial-ekonomi di sejumlah wilayah, terutama daerah yang tidak bertumpu pada sektor pariwisata seperti Buleleng, Karangasem, Bangli dan Jembrana.
“Kalau kami telusuri di media sosial, hampir tiap hari ada saja warga terlantar, miskin, tidak berdaya, tidak punya rumah. Ini adalah pameran kemiskinan di media sosial. Bagi kita orang Bali, ini miris sebenarnya,” ujarnya.
Ia mengkritik munculnya pihak-pihak yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingan tertentu melalui berbagai platform media sosial. “Ini adalah tamparan keras ketika kemiskinan orang Bali dipertontonkan, sementara kita terus melaksanakan kegiatan-kegiatan pariwisata yang glamor. Ini sangat berbanding terbalik,” tegasnya.
Disisi lain, pihaknya juga menyoroti meningkatnya jumlah masyarakat Bali yang memilih bekerja ke luar negeri karena keterbatasan lapangan pekerjaan di daerah asalnya. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak terhadap keberlangsungan adat, budaya, hingga kehidupan sosial masyarakat Bali apabila terus berlangsung dalam jangka panjang.
“Kalau kemudian untuk jangka waktu lama, dan banyak orang kita ke luar negeri, otomatis dampaknya kepada keberlangsungan adat dan budaya kita. Seni juga,” pungkasnya.
Untuk itu, pemerintah perlu menghadirkan lebih banyak lapangan kerja di Bali agar masyarakat tidak terpaksa mencari pekerjaan ke luar negeri, sekaligus menjaga keberlangsungan budaya dan identitas Pulau Dewata di masa mendatang. On-MD



