Hardiknas 2026: Menjadikan Tulisan sebagai Sejadah Idealisme Pengawal Pendidikan

"Memuliakan Guru dan Mengenyangkan Harapan"

 

Oleh: I Made Suteja, Wartawan dan Redaktur Mata Dewata

BALI, MataDewata.com | Hari ini Sabtu, 2 Mei 2026. Kalender bangsa kembali mengingatkan kita pada satu titik refleksi tepat sehari setelah perayaan Hari Buruh. Di Hari Pendidikan Nasional ini, kita sebagai anak bangsa diajak menoleh sejenak ke belakang.

Mengenang sosok pahlawan yang meletakkan dasar kecerdasan bangsa, Ki Hajar Dewantara yang lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

Kekinian menuntut kita lebih dari sekadar mengenang. Kita diminta jujur melakukan refleksi di tengah gelombang pembangunan yang sering kali terombang-ambing. Hari ini, komitmen menjaga fondasi dana pendidikan di angka 20 persen sebagai mandat konstitusi sedang diuji faktanya.

Di atas kertas, angka itu mutlak, namun di lapangan bisa saja realita bicara lain. Tampak masih ada sekolah yang didatangi rayap kayu, kaca jendela yang pecah, halaman tidak hijau tertata, bahkan ada yang belum beralas rabatan beton halus.

Semangat lama yang diwariskan kini bersanding dengan dinamika baru bernama Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kita sedang menyaksikan penambahan paradigma. Dunia pendidikan tidak lagi sekadar menjadi “Bidan” yang melahirkan generasi cerdas secara intelektual.

Baca juga :  Wali Kota Denpasar Jaya Negara Hadiri Pemelaspasan Bale Kulkul Banjar Panti Gede Pemecutan Kaja

Tetapi juga memikul beban memastikan gizi dan fisik anak bangsa tetap terjaga, sehat, dan kuat tumbuhnya. Bagi kita para kuli tinta, fenomena ini adalah “Pil Harapan” bangsa yang harus terus kita konsumsi sekaligus kita kawal distribusinya.

Mengingatkan Langkah dengan Goresan Pena

Harapan akan semakin baiknya bidang pendidikan tidak boleh hanya didengungkan setahun sekali saat seremoni Hardiknas. Bagi jurnalis sejati, menulis adalah Sejadah Idealisme.

Di atas tulisan itulah kita menjaga agar marwah dunia pendidikan tidak tersentuh oleh tangan-tangan jahil. Memastikan tidak ada “Program Titipan”, apalagi tergerus anggaran “Dadakan” yang menyelinap masuk untuk keperluan non-sekolah.

Langkah kerja cerdas membangun bangsa dengan pena berarti memastikan bahwa setiap rupiah anggaran benar-benar mendarat tepat sasaran di bidang pendidikan. Butiran keringat yang jatuh saat menulis bukan sekadar upaya menjaga peta pendidikan berjalan sesuai target statistik.

Harapan akut juga untuk menyuarakan nasib guru honorer agar terlepas dari jeratan lapar dan lilitan nasib yang tidak menentu. Sebab, pendidikan yang hebat tidak mungkin lahir dari perut yang lapar.

Baca juga :  May Day 2026, PLN Bali Wujudkan Hubungan Industrial Harmonis 

Kini bangsa sedang berupaya menjaga agar perut siswa maupun perut guru benar-benar terisi agar proses belajar mengajar berlangsung dengan baik (Memuliakan Guru dan Mengenyangkan Harapan).

Refleksi di Tengah Era AI (Akal Imitasi) dan Post-Truth

Tantangan Hardiknas 2026 semakin kompleks dengan gempuran teknologi Artificial Intelligence atau yang saya sebut sebagai Akal Imitasi. Kita berada di era di mana lontaran kata dan narasi bisa diproduksi tanpa jiwa.

Menciptakan rimba Post-Truth, di mana opini sering kali dianggap lebih benar daripada fakta autentik dan formulasi solusi.

Pemerintah saat ini sedang memposisikan dunia pendidikan pada harapan yang telah diukur Presiden Prabowo. Pertanyaannya: Apakah kita akan membiarkan generasi mendatang hanya mahir mengoperasikan Akal Imitasi? Kita harus ingat hakikat pendidikan adalah untuk mengasah nurani!

Di sinilah jurnalisme harus hadir sebagai penawar di tengah kaburnya batasan antara kebenaran dan kebohongan. Tulisan kita harus menjadi kompas agar dunia pendidikan tidak kehilangan arah.

Pendidikan bukan sekadar transfer data, melainkan transfer nilai-nilai kemanusiaan. Algoritma program yang kuat jangan sampai mengubur harapan di era Post-Truth akibat absennya evaluasi yang jujur.

Baca juga :  Pertandingan Persahabatan Tenis Lapangan Universitas Udayana dengan Universitas Indonesia

Menjaga Nurani, Mengawal Pembangunan

Realita di lapangan sering kali tidak seindah pidato pejabat yang hidupnya sudah aman secara finansial. Tugas kitalah mengawasi apakah ada anggaran yang selip atau kebijakan yang tumpang tindih.

Inilah tugas mulia yang tidak melulu dibayar oleh materi. Kini, jurnalis harus terus menguatkan pandangan dengan pikiran jernih, mengawal pembangunan agar marwah pendidikan tidak hancur di tengah hiruk-pikuk kecerdasan buatan.

Publikasi adalah bentuk keterbukaan. Sebaliknya, manipulasi informasi dan menutupi fakta adalah keniscayaan menuju kehancuran. Generasi kita adalah generasi yang harus terbuka dan jujur. Fakta di media sosial (Medsos) menunjukkan bahwa informasi kadang dihasut oleh kebohongan dan hoaks, dan di sanalah kita berdiri sebagai penjernih.

Sebagai penutup: di Hardiknas 2026 ini, mari kita merapatkan barisan. Posisikan tinta kita menjadi saksi bahwa pembangunan bangsa dimulai dari kejujuran mengelola ruang kelas, transparansi anggaran, dan pemuliaan terhadap mereka yang digugu dan ditiru. Menulis adalah cara kita mencintai bangsa. Ketajaman pikiran dan ketulusan hati adalah pengingat arah pada tujuan sejati. MD-9/Maharani

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button