Groang-Groeng dan Naikkan Kaki ke Setang Motor, Warga “Terkena Sanksi Kanorayang” Picu Kisruh di Pulau Nusa Penida

Selalu Berulah hingga Berakhir Diungsikan ke Klungkung Daratan

KLUNGKUNG, MataDewata.com | Bikin “Kisruh” Saat Nyepi dan Ngembak Geni, 21 Warga Pulau Nusa Penida “Terkena Sanksi Kanorayang” diungsikan ke Klungkung Daratan. Sebabnya berawal saat berlangsungnya Catur Brata Penyepian salah satu warga yang dimaksud menyalakan lampu penerangan dan berlanjut saat Ngembak Geni salah satu warga itu Groeng-Groeng mengangkat kaki di atas kepala motor dan melintas di depan Pos Kambling.

“Dia naik motor melewati Pos Kambling tempat ngumpulnya masarakat dengan menggerung-gerungkan (Groang-Groeng) motornya dan mengangkat kakinya ke atas kepala motor (setang) yang membuat masarakat di Pos Kambling itu serentak dengan riplek bersorak-sorak menyoraki kelakuan gilanya,” ujar salah satu warga yang dibenarkan Kelihan Banjar Nyoman Supaya.

Terlepas dar kisruh terbaru yang mereka buat, diketahui pelemik yang terjadi di Banjar Sental Kangin yang mengakibatkan warga disepekin oleh krama dan berlangsung dengan proses karunayang. Made sadiarta, Putu suartika, Wayan Buda, Made Paing, Ketut Ngadeg, Wayan Widiadnyana. Disebut juga oleh warga dari semua warga yang di karunayang itu Made Sudiarta dan Putu Suartika lebih mencolok. Bahkan di sebut baik Made Sudiarta maupun Putu Suartika merupakan otak sekaligus pimpinan dari kelompoknya.

Kronologis dari mereka hingga terjadinya Kesepekang hingga berlanjut Dikarunayang sesuai Awig-Awig Desa Adat yang di jadikan pedoman sebagai dasar (aturan) hukum banjar adat dan hukum desa adat di Tanah Bali yang sudah di jalankan oleh seluruh masarakat Pulau Dewata secara turun-temurun dari jaman Kerajaan. Semenjak Negara Indonesia ini ada, berlangsung hingga saat ini Awig-Awig Adat tetap kokoh di Tanah Bali. Menjadikan Pulau Dewata dikenal hingga saat ini sebagai kota tradisi seni dan budaya yang adiluhung.

Sepengetahuan Krama Banjar Adat Sental Kangin, Made Sudi kesehariannya kerap tidak ada toleransi, tidak ada belas kasih, tidak ada rasa eling terhadap sesame. Semua yang menjadi keinginannya selalu saja harus diikuti oleh warga. “Karena dulu badannya gede dan dia juga jago bela diri. Dia juga lahir di keluarga terhormat dengan mewarisi banyak warisan tanah dan bapaknyapun seorang pegawai negeri. Di mana saat itu orang orang di desa menganggap pegawai negeri itu sebagai orang terhormat. Terlebih lagi dia juga punya warisan kekayaan dari orang tuanya. Hal itu yang membuat dia menganggap dirinya super power,” ungkap warga tadi.

Baca juga :  Romi Yudianto Lantik Anggota MPDN Kota Denpasar dan Notaris Pengganti Kabupaten Badung

Lanjut juga menyampaikan segala keinginannya harus dipatuhi oleh warga. “Walaupun hal tersebut membuat semua warga merasa seperti segala hak dan aspirasinya masarakat lainya seperti tak pernah dianggap oleh masarakat karena segala aspirasi atau usulan dari para orang yang disepekin ini harus di turuti oleh semua warga. Sehingga sebagian besar keputusan yang terjadi di banjar selalu sebagian besar usulan orang orang ini yang selalu digunakan,” lanjutnya.

Juga diceritakan, bahkan dulu ada tanah hak Peduwen Pura Gunung Anyar serobot dan disertipikatkan menjadi sertipikat atas nama dirinya sekeluarga. Namun Krama Pengempon Pura Gunung Anyarpun belum melakukan perlawanan dengan melaporkan atau menggugat ke pihak yang berwajib. Alhasil kasus terakhir terkait kepemilikan tanah yang sebelumnya milik negara yang menyebabkan para orang-orang itu disepekin hingga di karunayang.

Diceritakan, di tahun 1945 hingga 2017 ada hamparan tanah di wewidangan krama Banjar Adat Sental Kangin Desa Ped di mana tanah itu dulunya dipakai sebagai tempat pembuatan gubuk warga yang bertani rumput laut. Lanjut tahun 2014 rumput laut sudah tidak bisa hidup lagi di kawasan pantai itu. Bersamaan dengan tidak bisa hidupnya lagi rumput laut di kawasan itu dan beruntungnya saat itu juga mulai keluarnya produk android (handphone) yang membuat banyaknya masyarakat Nusa Penida yang sudah bisa live di lokasi Pantai-pantai di Nusa Penida.

Membuat wisatawan mulai banyak berdatangan ke nusa penida. Tahun 2016 kawasan itu sudah mulai kumuh, dari mulai hancurnya tanggul laut hingga hancurnya gubuk-gubuk rumput laut para warga yang mulai berserakan di pinggir pantai dan tanah di kawasan itu yang membuat kawasan itu seperti sebun bangkung (kumuh dan berantakan). Walaupun banyak wisatawan masuk ke Nusa Penida tapi tidak satu wisatawan pun sudi main ke Banjar Sental karena pantai daerah Sental Kangin hancur. Jebolan gubug-gubug rumput laut yang hancur berserakan bersaling timpa dengan jebolnya tanggul laut di arial tersebut.

Hal itu yang membuat terpanggilnya jiwa salah satu warga yang bernama Ketut Leo. Saat itu pria yang terkenal darmawan itu mengumpulkan Krama Banjar Sental Kangin dan menjelaskan pada semua krama banjar adat pentingnya menata dan membersihkan hamparan tanah pinggir pantai yang hancur berserakan.

Baca juga :  Remisi Khusus Hari Raya Nyepi 1944 Bagi Narapidana Se-UPT Provinsi Bali

Alhasil kawasan pantai mulai bersih dan indah untuk dapat munggugah hasrat wisatawan untuk bermain ke kawasan itu. Tujuannya agar kawasan tersebut dapat menjadi sumber penghasilan baru buat warga masyarakat Sental Kangin serta dapat menjadi sumber penghasikan banjar. Menjadi salah satu tulang pundak (Laba) banjar adat untuk negen tetegenan adat seperti bale banjar, pembangunan pura dalem, pembangunan pura puseh, pembangunan pura segara, pembangunan bale agung serta segala biaya perawatan hingga upacaranya masing-masing pura tersebut.

Setelah kawasan itu dibersihkan dan lautnya mulai disender sebagai tanggul laut yang permanen tempat itu mulai indah dan menarik. Setelah tempat itu menjadi indah muncullah keinginan krama banjar untuk mulai menggunakan tempat tersebut untuk membangun beach club. Karena jumlah anggota warga Krama Banjar Adat Sental Kangin 100 KK, sedangkan tanah kawasan pinggir pantai itu yang bisa di bangun hanya 171 meter. Sehingga bila dibagi rata-rata per KK hanya 1,7 meter.

Seperti diketahui untuk membangun usaha beach club luasan itu tidak akan bisa digunakan karena terlalu kecil. Sehingga masarakat di sarankan untuk membagi per kelompok, tiba-tiba Made Sudi dan Putu Suartika krama banjar yang disepekin ini memilih kawasan yang paling lebar tanahnya dengan ngambil sepanjang 72 meter.

Di Lokasi diketahui lebar panjang tanah 171 meter dan lebar tanah juga tidak rata dari lebar 10 meter hingga 5 meter bahkan ada yang 3 meter. Sementara Made Sudi memilih paling pertama mengambil di dataran yang paling lebar dengan lebar 10 meter itu dengan panjang 72 meter. Menyisakan jatah untuk 94 KK lainnya hanya 100 meter dengan lebar 5 meter. Hal itulah yang membuat masyarakat tidak bisa membagi dengan masyarakat yang belum dapat.

Selanjutnya saat meraka di ajak rapat untuk mengetahui kondisi bahwa banyak warga yang belum dapat justru memantik permasalahan. “Dia malah menyuruh sini gabung sama saya. Masyarakat ditawarin untuk gabung sama dia tapi tak ada satupun masarakat yang mau. Karena masarakat tau bikas (prilaku) dan perbuatan alami orang itu yang bukan orang baik, bukan orang jujur dan bukan orang yang layak di percaya,” ujar warga lanjut menyampaikan masarakat memilih pada kelompok yang mereka bisa percayai.

Baca juga :  Rudenim Denpasar Kembali Deportasi WN Uganda Terlibat Prostitusi

Saat krama memutuskan agar Made Sudi membagi sebagian tanah yang dia ambil lagi 3,5 meter atau lagi tiga setengah meter dia tidak mau memberi bahkan mau menantang masarakat dengan mengatakan tanah ini tanah negara. Hingga terjadilah perkara di pengadilan dan diapun disepekin dari banjar karena melawan hasil keputusan rapat dan melanggar awig-awig yang sudah ditetapkan. Karena dia terus merongrong martabat dan kewibawaan dese adat serta berkata-kata buruk terhadap hukum desa adat setelah 6 bulan kemudian dia disangsi karunayang.

Diketahui yang bersangkutan kerap sekali buat masalah dengan menantang masyarakat berantem dan terus bersikap arogan dan sering sekali ada kejadian ribut karena ia buat masalah. Sekiranya labih dari 25 kali sampai Manis Nyepi (Ngembag Geni) ia pagi-pagi sudah buat masalah. Saat masyarakat kumpul di Pos Kambling seperti biasanya duduk main catur dan mengobrol. Tampaklah salah satu warga yang disepekin bernama Made Paing mulai merancang aksi untuk buat masalah dengan krama banjar. Diketahui juga oleh warga bahwa yang bersangkutan memiliki anak seorang tentara yang kebetulan datang karena hari raya.

Made Paing menaiki motor melewati Pos Kambling tempat ngumpulnya masyarakat dengan menggerung-gerungkan motornya (Groang-Groeng) dan mengangkat kakinya ke atas kepala motor yang membuat masyarakat di tempat kejadian serentak dengan riplek bersorak-sorak menyoraki kelakuan gila yang dilakukan yang bersangkutan.

Diketahui pasca kejadian itu Made Paing lanjut balik menjemput anaknya (si tentara itu) dan mulai menantang masarakat satu persatu. Sontak aksi itu membuat masarakat sepontan kesurupan (marah) untuk melawan. Karena oknum tentara terus mendorong-dorong semua orang didekatnya dan menantang semua sehingga masarakat memukul kentongan bulus yang menyebabkan dia terpaksa diungsikan oleh aparat untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Berakhir diungsikan ke Klungkung daratan dengan menempati Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Banjarangkan, Klungkung, Bali. Wl-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button