Dua Tahun Asta Cita, PEMIRA Apresiasi Swasembada Pangan dan Kampung Nelayan Merah Putih

JAKARTA, MataDewata.com | Pemuda Indonesia Raya (PEMIRA) mengapresiasi capaian sektor ketahanan pangan dan kelautan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Swasembada pangan dan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dinilai menjadi bukti keberpihakan pemerintah terhadap kesejahteraan petani dan nelayan, sejalan dengan agenda Asta Cita.
Deklarator PEMIRA, I Wayan Darmawan, menyebut capaian sektor pangan sebagai langkah bersejarah bagi Indonesia. Ia menyoroti tidak adanya impor beras sepanjang 2025 serta peningkatan cadangan beras pemerintah yang dinilai memperkuat ketahanan pangan nasional.
Berdasarkan data yang disampaikan PEMIRA, per 11 Oktober 2026, stok fisik Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melampaui 4,6 juta ton. Sementara itu, pengadaan beras dalam negeri oleh Perum Bulog mencapai 4,13 juta ton atau 103,29 persen dari target. Capaian tersebut disebut melampaui rekor pengadaan beras Bulog sebelumnya, yakni 3,65 juta ton pada 2012.
“Dulu kita cemas setiap musim paceklik. Hari ini lumbung negara penuh, dan beras itu dibeli dari keringat petani kita sendiri, bukan dari luar negeri. Ini bukti komitmen Presiden Prabowo kepada petani,” ujar I Wayan Darmawan di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Selain beras, PEMIRA juga menyoroti perkembangan produksi sejumlah komoditas pangan strategis. Mengacu pada data Badan Pangan Nasional yang dikutip dalam pernyataan tersebut, delapan komoditas disebut telah mencapai swasembada, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Total produksi kedelapan komoditas itu diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton, sementara kebutuhan nasional diperkirakan sebesar 68,22 juta ton. Dengan demikian, terdapat potensi surplus sekitar 4,69 juta ton.
Dari sisi kesejahteraan petani, Nilai Tukar Petani (NTP) juga disebut meningkat dari 104 pada 2024 menjadi 127,73 pada Juni 2026. Indikator ini menjadi salah satu ukuran untuk melihat daya tukar yang diterima petani terhadap kebutuhan produksi dan konsumsi rumah tangga.
Di sektor kelautan dan perikanan, PEMIRA menilai pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekonomi masyarakat pesisir. Pemerintah disebut telah merampungkan 100 kampung nelayan tahap pertama yang tersebar di 25 provinsi, dengan target sekitar 1.386 kampung beroperasi hingga akhir Desember 2026.
Setiap kawasan dirancang dilengkapi fasilitas pendukung, mulai dari cold storage, pabrik es, SPBU nelayan, tambatan perahu, bengkel kapal, hingga sentra kuliner. Infrastruktur tersebut diharapkan membantu nelayan menjaga mutu hasil tangkapan, memperluas akses pemasaran, dan meningkatkan nilai jual ikan.
PEMIRA turut menyoroti Kampung Samber-Binyeri di Kabupaten Biak Numfor, Papua, sebagai salah satu contoh pengembangan kawasan nelayan. Berdasarkan data yang disampaikan, pendapatan nelayan di kawasan tersebut meningkat 75 persen, dari Rp4,35 juta menjadi Rp7,73 juta per bulan. Produktivitas tangkapan juga disebut naik 101 persen, sedangkan jumlah jenis lapangan kerja bertambah dari dua menjadi 12.
Pemerintah, menurut PEMIRA, juga menargetkan peningkatan Nilai Tukar Nelayan (NTN) dari sekitar 103 menjadi di atas 120. Target tersebut diharapkan sejalan dengan penguatan fasilitas produksi dan dukungan ekonomi bagi masyarakat pesisir.
“Masalah nelayan selama ini bukan soal menangkap ikan, tetapi ikan harus cepat dijual murah karena tidak ada pendingin dan pabrik es. Kampung Nelayan Merah Putih menjawab persoalan itu dari hulu ke hilir. Inilah ekonomi biru yang nyata dan berpihak pada rakyat pesisir,” kata Wayan Darmawan.
Ke depan, PEMIRA menyatakan siap mendukung implementasi Asta Cita melalui keterlibatan pemuda dalam sektor pertanian modern dan perikanan. Keterlibatan tersebut diarahkan pada pemanfaatan teknologi, pengembangan inovasi di desa, serta pengawalan program agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Presiden sudah membuka jalannya. Tugas pemuda adalah mengisinya dengan ilmu, inovasi, dan kerja keras. Dari sawah dan laut kita bangun Indonesia Emas 2045,” tandasnya. On-MD



