Tumpek Landep Momentum Menajamkan Kesadaran untuk Memilah, Mengurangi dan Mengolah

TPA Suwung “Meledak” Tanya Dulu “Sudah Landep Belum Idep Kita Soal Sampah?

DENPASAR, MataDewata.com | Umat Hindu Dharma Kembali merayakan Hari Tumpek Landep (Sabtu, 18 April 2026). Memuja kebesaran Sang Pencipta (Sang Hyang Widhi Wasa) untuk memohon ketenangan pikiran kembali pada esensi “menajamkan pikiran (jnana), bukan memuja benda”. Upakara ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Pasupati untuk memohon keselamatan dan ketajaman akal-budi.

Di era modern tidak saja keris, benda sakral dan tajam lainnya yang diupacarai, namun hingga alat kerja dan kendaraan juga tidak luput kebagian banten/canang/gantung-gantungan di Hari Tumpek Landep. Prosesi upacara diawali di Merajan/Sanggah/Pura masing-masing, barulah diikuti upacara atau ritual pada benda-benda lainnya (Landepin Idep Dulu, Baru Landepin Benda).

Makna dan tujuannya untuk membersihkan pikiran yang berjalan seimbang dengan ketajaman teknologi dan profesi. Maka upacara dan ritualnya diawali pada diri manusia sendiri baru barang yang dikaitkan relevan di era saat ini. Dari ketenangan berpikir inilah kita akan mampu mencapai kejernihan dalam menggapai solusi sebagai formulasi penyelesaian berbagai permasalahan hidup yang ada/terjadi.

Tidak salah dikatakan! Vibrasi spiritual akan terpancar di Hari Tumpek Landep agar apapun profesi dan pekerjaan kita senantiasa ada di garis kebaikan dan bermanfaat bagi orang banyak. Begitu juga bagi Pemimpin, kejernihan pikiran dan pandangan yang berpedoman pada ilmu dan pengetahuan mampu membawa rakyatnya lebih baik dan sejahtera serta dimudahkan penuh keteraturan.

Baca juga :  PLN UP2D Bali Gelar Aksi Bersih Pantai Seminyak, Dukung Program ESG dan Pelestarian Lingkungan

Momentum mengasah pikiran dan hati nurani inilah yang membuat kita sadar, bahwa Tumpek Landep lebih pada esensi bukan ritualnya saja. Jangan sampai setiap Tumpek Landep kendaraan selalu dicuci dulu sebelum diupacarai namun saat hari lahir dirinya sendiri (otonan/hari lahir) tidak pernah diupacarai (Sing Taen Meoton). Jika pikiran sudah Landep/Tajam, maka semua alat yang ada di era modern ini akan menjadi bermanfaat dan tidak jadi sumber petaka.

Mengaitkan prosesi upacara pembersihan pikiran dari kotoran ini, juga bisa diasumsikan sebagai instrument sama pada penyelesaian masalah dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti upaya Pemerintah dan Masyarakat dalam mengurai benang kusut permasalahan sampah yang menjadi beban alam Bali bertahun-tahun yang belum kunjung terselesaikan.

Tumpek Landep dan Carut-Marutnya Permasalahan Sampah di Bali 

Masalah sampah bukan soal TPA Penuh (Meledak, Red) lalu berpikir membuka lahan pembuangan baru, bukan pula karena armada yang kurang memadai namun kembali pada potensi pikiran yang belum Landep dalam memperlakukan sampah/alam. Selain sampah organik banyak sampah yang dihasilkan oleh alat modern justru menjadi masalah kronis penumpukan sampah tanpa pengelolaan yang semestinya.

Baca juga :  Hadiri Peringatan HPS, Wagub Cok Ace Ingatkan Pentingnya Ketahanan Pangan

Di sinilah ketajaman pikiran itu diperlukan melalui vibrasi perayaan Tumpek Landep. Hadirnya plastik, besi, kaca dan benda lainnya yang mempermudah manusia saat ini justru tidak bisa dikelola secara baik sebagai hasil pemikiran dari kemajuan teknologi. Pertanyaannya? Mengapa kemudahan yang sudah bisa dinikmati manusia justru bermuara saling lempar tanggung jawab dan mudah menyalahkan pihak lain hingga memperburuk tata kelola sampah.

Kita pahami Tumpek Landep mengingatkan kita untuk bisa “Memilah” mana yang baik dan mana yang buruk, begitu juga dengan sampah di mana kita diajari untuk bisa memilah yang tujuannya untuk kebaikan. Poin pentingnya Mulat Sarira, menjaga agar pikiran selalu bersih, badan selalu bersih dan lingkungan juga selalu terjaga bersih. Pertanyaan selanjutnya: “Sudah landep belum idep-ku dalam kelola sampah?”

Baca juga :  Integritas Notaris Kunci Pelayanan Berkualitas

Sarana upakara adalah simbolis pembersihan pikiran, yang akan menjadi percuma jika justru akhirnya mengotori lingkungan. Bisa disimpulkan carut-marut sampah akan selesai kalau “Tumpek Landep” tidak cuma seremonial di Merajan/Sanggah dan Pura. Masyarakat secara menyeluruh harus mulai bisa menajamkan kesadaran untuk Memilah, Mengurangi dan Mengolah.

Contoh lainnya, kecerdasan dan oleh pikir membuat manusia merasa penting membangun Kamar Mandi dan Septic Tank (rumah tai) namun lupa membangun Teba Modern (rumah sampah organik). Swakelola sampah membantu masyarakat untuk mengolah sampahnya namun di lapangan swakelola justru ada yang hanya jadi parasit penghisap sampah bernilai ekonomis tinggi, namun menimbun dan menumpuk sisanya di TPA Suwung.

Tidak hanya Masyarakat, Pemerintah juga harus Mulat Sarira, banyak belajar, suka mendengar lalu memformulasikan solusi bersama agar instrument pengelolaan sampah berbasis sumber berjalan baik di hulu. Sisa sampah di luar rumah tangga dan residu diproses pada pengelolaan hilir dengan Konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Kesimpulannya, semua harus memiliki kepekaan dan ketergantungan dalam pengolahan sampah untuk memberi keuntungan tanpa mengotori rumah orang lain. MD9-Maharani

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button