KMHDI Semprot Pertamina dan Tuntut Kepastian Distribusi
Lima Hari Bali Dilanda Krisis BBM

DENPASAR, MataDewata.com | Memasuki hari kelima, krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali kian memprihatinkan. Antrean panjang masih mengular di sejumlah SPBU, masyarakat mulai menagih kepastian dan realisasi janji pemulihan pasokan dari Pertamina.
Warga terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Tak jarang, mereka harus pulang dengan tangan kosong karena stok di SPBU yang dituju telah habis. Berdasarkan pengamatan di lapangan, antrean kendaraan bahkan masih terus mengular.
Dampak kelangkaan ini turut dirasakan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas harian. Seorang penjual lumpia mengaku harus mengantre hingga 12 jam demi mendapatkan BBM. Akibatnya, ia kehilangan kesempatan mencari nafkah selama sehari karena waktunya habis di antrean SPBU.
Nasib serupa dialami seorang pengemudi ojek online (ojol) yang kehilangan kesempatan menerima pesanan lantaran terkendala BBM. Ia mengaku menghabiskan waktu hingga 10 jam untuk mengantre di SPBU.
Melihat kondisi tersebut, Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PD KMHDI) Bali melayangkan protes keras dan mendesak Pertamina memberikan kepastian distribusi BBM, bukan sekadar janji pemulihan pasokan.
“Kami menuntut kepastian distribusi BBM yang dijanjikan pihak Pertamina. Sudah empat hari merasakan penderitaan ini,” ujar Ketua PD KMHDI Bali, Pitriyou, saat menyampaikan pertanyaan KMHDI Bali, Jumat (16/10/2026).
Ia menilai pernyataan penanganan krisis yang disampaikan kepada publik belum sejalan dengan kondisi nyata di lapangan. Masyarakat masih harus berdesakan dan mengantre panjang untuk memperoleh BBM. “Jangan berikan janji manis yang buat masyarakat senang tapi di lapangan masyarakat kita masih desak-desakan untuk BBM,” tegasnya.
KMHDI Bali juga menilai kebijakan work from home (WFH) yang diterapkan pemerintah daerah belum efektif mengurangi antrean kendaraan. Menurut Pitriyou, selama pasokan BBM belum kembali normal, kebijakan tersebut belum mampu mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kami tidak ingin berlarut-larut, pemerintah sudah berlakukan WFH tapi tetap saja antriannya belum berkurang,” ujarnya. Ia menambahkan, dampak krisis BBM kini tidak hanya dirasakan di wilayah perkotaan atau Bali selatan, tetapi juga telah meluas ke sejumlah kabupaten lainnya.
“Bahkan sekarang krisis BBM ini sampai di Buleleng, Bangli, Gianyar, dan Karangasem. Terus dimana janji Pertamina? Ayolah, jangan siksa masyarakat Bali,” lanjutnya.
Karena itu, KMHDI Bali mendesak Pertamina bersikap terbuka mengenai kendala distribusi yang terjadi. Organisasi mahasiswa itu meminta penjelasan yang transparan disertai langkah konkret untuk memulihkan pasokan BBM di Bali.
“Kami menyadari bahwa krisis mungkin sulit diuraikan, karena itu tolong sampaikan apa adanya. Kami butuh langkah konkret dan kepastian yang transparan dari pihak Pertamina,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Bali masih menantikan kepastian dan langkah nyata dari pihak Pertamina untuk memulihkan distribusi BBM agar aktivitas dan mata pencaharian warga dapat kembali berjalan normal. On-MD



