Lelaku Sang Bima Menggetarkan Panggung Terbuka Balai Budaya

GIANYAR, MataDewata.com | Gemuruh gamelan mengalun pelan, disusul cahaya lampu yang menyorot megah Open Stage Balai Budaya Gianyar, Rabu (15/4/2026) malam, ratusan pasang mata terpaku saat sendratari kolosal Bima Swarga bertajuk Lelaku Sang Bima mulai dipentaskan. Tak sekadar tontonan, pertunjukan ini menjelma menjadi perjalanan batin yang menyentuh sisi kemanusiaan penonton.

Kisah dibuka dengan kegelisahan Dewi Kunti setelah turunnya sabda dari angkasa. Ia tak dapat melaksanakan upacara Dewa Yadnya sebelum roh Maharaja Pandu dan Dewi Madri mencapai sunia loka. Dalam suasana haru itu, Bima putra Dewi Kunti yang dikenal kuat dan teguh menyatakan kesanggupannya menembus Yama Loka demi membebaskan atma kedua orang tuanya.

Baca juga :  Wayan Koster dan Bunda Putri Ajak Milenial dan Gen-Z Nonton Jayaprana Layonsari

Perjalanan Bima menuju alam kematian divisualisasikan dengan dramatik. Pintu Yama Loka dijaga Sang Jogor Manik Suratma dan para Cikrabala, menghadirkan ketegangan sejak awal. Penonton diajak menyaksikan gambaran neraka yang getir roh-roh yang disiksa akibat dosa semasa hidup, dipanggang, ditusuk, hingga diceburkan ke kawah panas. Visual ini tak hanya memukau, tetapi juga menyisakan renungan mendalam tentang hukum karma.

Meski hatinya tergetar, Bima tetap melangkah mantap. Puncak cerita terjadi saat ia berhadapan dengan Sang Hyang Yama Dipati. Dengan penuh ketulusan, Bima memohon pembebasan atma Pandu dan Madri, menegaskan bahwa kematian keduanya bukanlah buah angkara, melainkan takdir yang diliputi kutukan dan cinta.

Baca juga :  "Kapandung" Geliat Dunia Perfilman Kota Denpasar di Tengah Pandemi

Ujian demi ujian diberikan Sang Hyang Yama melalui para penjaga alam baka. Namun keteguhan, keberanian, dan keikhlasan Bima akhirnya mampu meluluhkan hati sang penguasa akhirat. Atma Pandu dan Dewi Madri pun dibebaskan, menandai kemenangan dharma atas karma.

Sendratari kolosal ini dipersembahkan oleh Sanggar Paripurna dengan mottonya “Ngwerdiang Budaya, Ngewangun Yowana” yang bermakna membangkitkan budaya, membangun generasi muda. Nama “Paripurna” dimaknai sebagai tekad untuk berkesenian secara utuh, ngajegang tradisi, ngelestariang kearifan lokal, serta ngupapira generasi muda agar tetap berakar pada budaya leluhur.

Baca juga :  Lestarikan dan Kembangkan Seni Tradisi Disbud Badung Gelar Utsawa Dharma Gita

Melalui pementasan ini, Sanggar Paripurna tidak hanya menghadirkan tontonan berkualitas, tetapi juga menegaskan komitmennya dalam merawat denyut seni tradisi Bali di tengah perkembangan zaman. Di tengah semaraknya kegiatan budaya, sendratari ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup dan relevan, mengalir dari panggung ke hati setiap penonton yang hadir. Hb-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button