Pemkab Buleleng Siagakan Ambulans dan Prioritaskan Kendaraan Layanan Publik
Antisipasi Warga Pingsan Saat Antre BBM

BULELENG, MataDewata.com | Pemerintah Kabupaten Buleleng bergerak cepat merespons situasi antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) akibat kendala distribusi. Guna memberikan perlindungan serta mengantisipasi adanya warga yang mengalami kelelahan hingga jatuh sakit akibat terlalu lama menunggu, Pemkab Buleleng menerjunkan armada ambulans khusus dari Buleleng Emergency Service (BES) ke berbagai titik SPBU.
Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG., mengungkapkan bahwa pihaknya telah menginstruksikan seluruh kepala puskesmas yang wilayah kerjanya terdapat SPBU untuk segera menyiagakan armada ambulans beserta tim tenaga medis.
“Banyak berita di daerah lain, masyarakat antre BBM mengalami kelelahan, ada yang pingsan sampai kejang. Saya pribadi tidak mengharapkan demikian, tapi untuk mengantisipasi, tadi pagi saya instruksikan puskesmas-puskesmas yang ada SPBU untuk memantau dengan ambulans,” jelas Bupati Sutjidra, Kamis (15/10/2026).
Menurut penjelasannya, dari total 21 SPBU yang tersebar di wilayah Buleleng, kapasitas dari 20 puskesmas daerah diyakini masih sangat memadai untuk melakukan pemantauan secara berkala. Armada medis disiagakan menggunakan skema yang fleksibel, baik dengan cara bersiaga langsung (standby) di lokasi antrean maupun melalui patroli rutin (on call).
Panjangnya antrean di berbagai SPBU sendiri terjadi akibat adanya keterlambatan pasokan yang dipicu oleh kendala teknis pada rantai pendistribusian BBM.
Bupati Sutjidra mengungkapkan bahwa beberapa warga bahkan kedapatan harus mengantre selama 5 hingga 6 jam, bahkan sebagian di antaranya rela menginap di sekitar area SPBU sejak malam hari demi mendapatkan bahan bakar. “Kami tidak bisa memungkiri, masyarakat dari malam sudah mulai antre. Ada kendaraan yang diparkir, ada yang nginep,” kata Sutjidra.
Proses pengiriman mobil tangki BBM dari Depo Manggis dan Sanggaran menuju Kabupaten Buleleng sendiri membutuhkan waktu perjalanan sekitar 4 hingga 5 jam. Kendati demikian, pasokan bahan bakar dilaporkan telah mulai masuk ke Buleleng secara bertahap sejak dini hari. “Tadi pagi jam 4 subuh, pasokan 34.000 liter sudah sampai, sehingga beberapa SPBU sudah mulai melayani,” tuturnya.
Selain mengerahkan layanan kesehatan darurat, Pemkab Buleleng juga memberlakukan skema prioritas pengisian BBM bagi kendaraan pelayanan publik serta unit operasional darurat. Pasokan BBM diprioritaskan bagi armada pemadam kebakaran (damkar), ambulans, truk pengangkut sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta kendaraan operasional Satpol PP dan Dinas Perhubungan.
“Kalau operasional rumah sakit, ambulans, damkar, dan LH berhenti karena tidak ada bensin, penanganan darurat dan pengangkutan sampah bisa lumpuh. Jadi ini kami prioritaskan,” tegas Bupati Sutjidra.
Menanggapi berbagai keluhan masyarakat terkait kendala pemindaian QR Code yang dinilai turut memperlambat proses pelayanan di SPBU, Bupati Sutjidra menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan kewenangan dari pemerintah pusat.
Sebagai langkah taktis untuk mengurai kemacetan dan antrean, Pemkab Buleleng juga mendukung usulan penerapan skema bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) guna memberikan ruang bagi Pertamina dalam memperlancar distribusi BBM selama 2 hingga 3 hari ke depan.
Di akhir keterangannya, Bupati Sutjidra mengimbau seluruh masyarakat Buleleng agar tetap tenang, tidak melakukan aksi borong (panic buying), serta membeli BBM secara bijak sesuai dengan kebutuhan harian.
“Stok BBM itu ada, tetapi memang butuh waktu untuk pendistribusiannya. Kami minta masyarakat tetap tenang dan bersabar, pemerintah terus berupaya maksimal menyelesaikan kendala distribusi ini,” pungkasnya. Hb-MD



