Ari Dwipayana Ajak PHDI Seluruh Indonesia Gerakkan Umat Gelar Ritual Magpag Toya

GIANYAR, MataDewata.com | Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, AAGN Ari Dwipayana, mengajak Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di seluruh tingkatan untuk menginisiasi pelaksanaan ritual Magpag Toya atau ritual memohon anugerah hujan dan air sebagai respons terhadap ancaman kekeringan meteorologis dan meningkatnya resiko kebakaran hutan dan lahan.
Ritual Magpag Toya merupakan salah satu tradisi Hindu Bali untuk memohon anugerah air. Ari Dwipayana mengajak PHDI di seluruh tingkatan bersama lembaga keagamaan, sulinggih, pinandita, dan umat Hindu untuk menghidupkan tradisi tersebut sekaligus memperkuat kesadaran spiritual dan kepedulian terhadap alam di tengah ancaman kekeringan.
“Saya mengajak PHDI di seluruh tingkatan untuk bersama-sama menggerakkan umat Hindu Nusantara melaksanakan ritual memohon anugerah hujan dan air. Ini adalah momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari alam semesta,” ujar Ari Dwipayana, Rabu (14/10/2026).
Ia menilai, keterlibatan PHDI di berbagai tingkatan penting agar pelaksanaan ritual dapat menjangkau umat Hindu di berbagai daerah dengan tetap menghormati kearifan tradisi setempat.
Ritual Magpag Toya tidak harus dilaksanakan secara besar-besaran atau menggunakan upakara yang rumit dan mahal. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara sederhana, tulus, dan penuh kesadaran spiritual, dengan berpedoman pada prinsip desa, kala, patra serta tuntunan para sulinggih dan pemuka agama setempat.
Tempat pelaksanaan ritual dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah, antara lain di kawasan pegunungan, danau, sungai, mata air, maupun pesisir atau segara.
Ari menjelaskan, esensi spiritual dari ritual tersebut adalah Dewasraya, yakni memohon pertolongan dan anugerah Ida Sang Hyang Parama Kawi serta Ida Sang Hyang Parama Wisesa agar berkenan menganugerahkan air sebagai sumber kehidupan bagi seluruh makhluk.
“Ketika manusia menghadapi keterbatasan dalam mengendalikan gejala alam, kita diingatkan untuk tidak hanya mengandalkan kemampuan material dan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran spiritual, memohon tuntunan dan anugerah Hyang Widhi Wasa. Inilah esensi Dewasraya,” jelasnya.
Ari menegaskan, permohonan anugerah hujan melalui ritual keagamaan harus diiringi tindakan nyata menjaga lingkungan. Upaya tersebut meliputi perlindungan sumber air dan kawasan hutan, pemeliharaan daerah tangkapan air, pelestarian danau serta sungai, dan penggunaan air secara bijaksana.
“Jangan sampai kita memohon anugerah hujan, tetapi pada saat yang sama justru merusak hutan, mencemari sungai, menutup daerah resapan, dan membiarkan sumber-sumber mata air menghilang. Ritual harus melahirkan kesadaran dan tindakan ekologis yang nyata,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga kesatuan segara-gunung, yang dalam kearifan Nusantara mencerminkan keterhubungan laut dan gunung dalam siklus kehidupan. Keduanya berperan dalam siklus hidrologi, mulai dari penguapan, pembentukan awan, turunnya hujan, hingga aliran air kembali ke laut.
Karena itu, gerakan keagamaan diharapkan memperkuat kepedulian ekologis melalui penghematan air, penanaman pohon, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, serta pemeliharaan sumber mata air.
Ancaman kekeringan juga berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, terutama warga yang kesulitan memperoleh air bersih serta para petani yang menghadapi ancaman gagal panen.
Karenanya, solidaritas dan gotong royong untuk membantu masyarakat terdampak kekeringan sangat dibutuhkan saat ini. Nilai ini sejalan dengan konsep bhuwana alit dan bhuwana agung dalam ajaran Hindu yang menekankan keselarasan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Ari berharap PHDI bersama lembaga keagamaan dan umat Hindu di seluruh Nusantara dapat menjadikan ajakan ini sebagai momentum untuk memperkuat tanggung jawab spiritual dan ekologis, sekaligus tetap mengikuti langkah mitigasi berdasarkan informasi ilmiah serta peringatan resmi BMKG.
“Melalui ikhtiar sekala dan niskala, mari kita bersama-sama memohon anugerah toya, merawat sumber-sumber air, melindungi kehidupan para petani, menjaga ketahanan pangan, dan memastikan seluruh sarwa prani dapat terus hidup dan tumbuh,” tuturnya.
Ia menyampaikan bahwa upaya menjaga keseimbangan kehidupan menuntut adanya harmonisasi yang memadukan praktik spiritual, pelestarian lingkungan, dan kepedulian terhadap sesama. “Semoga Ida Sang Hyang Parama Kawi senantiasa melimpahkan kertha waranugraha, menganugerahkan hujan yang membawa kesuburan, kesejahteraan, dan keselamatan bagi seluruh kehidupan di Nusantara,” tutupnya. On-MD



