Bali-Timor Leste Business Forum 2026: Perkuat Kolaborasi Ekonomi dan Perluas Akses Pasar Regional

DENPASAR, MataDewata.com | Ajang Bali-Timor Leste Business Forum 2026 digelar untuk memperkuat kolaborasi ekonomi sekaligus memperluas akses pasar regional. Forum strategis ini mempertemukan langsung para pemangku kebijakan, pelaku usaha, hingga delegasi dari kedua wilayah untuk merajut kerja sama perdagangan dan investasi yang lebih komprehensif, resmi dibuka di Tsinghua South East Asia Center, Denpasar, Jumat (2/10/2026).

Pertemuan penting ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI Natalius Pigai, Anggota Komite I DPD RI Provinsi Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, SE(MTRU), M.Si, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Wiranata, serta Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali, I Made Ariandi. Sementara itu, delegasi Timor-Leste dipimpin langsung oleh Menteri Pertanian Timor-Leste, Marcos da Cruz.

Membuka jalannya forum, sambutan Gubernur Bali Wayan Koster yang dibacakan oleh Ngurah Wiranata menegaskan bahwa Pulau Dewata memandang Timor-Leste lebih dari sekadar mitra dagang, melainkan sekutu strategis dalam menggerakkan roda ekonomi kawasan. Hubungan historis dan geografis yang dekat menjadi landasan kokoh bagi kolaborasi ini.

Baca juga :  Ketua SMSI Bali Apresiasi AWK Tempuh Jalur Pers

“Indonesia dan Timor-Leste memiliki hubungan yang sangat penting dan terus berkembang. Kedekatan geografis, hubungan antar masyarakat, serta keterhubungan ekonomi menjadi fondasi yang kuat bagi kita untuk membangun kerja sama yang semakin erat,” ujar Ngurah.

Sebagai gambaran potensi, ia memaparkan bahwa total nilai ekspor Bali pada periode Januari–Agustus 2026 telah menyentuh angka 276.341.625 dolar AS. Dari jumlah tersebut, nilai perdagangan khusus antara Bali dan Timor-Leste berdasarkan Surat Keterangan Asal (SKA) tercatat sebesar 18.845.350 dolar AS. Komoditas yang mendominasi meliputi kerajinan kayu, furniture, produk logam, hingga tekstil.

Meski demikian, Ngurah menilai ruang ekspansi masih terbuka lebar, khususnya dalam menggenjot penetrasi produk unggulan daerah melalui perluasan akses pasar. “Di bidang perdagangan, terdapat ruang yang luas untuk meningkatkan hubungan, memperluas akses pasar, dan memperkenalkan produk-produk unggulan dari kedua wilayah,” tambahnya.

Menariknya, forum ini juga membuka keran investasi untuk menciptakan nilai tambah, memperkuat kapasitas bisnis lokal, serta menyerap lapangan kerja baru. Sejalan dengan visi pembangunan nasional, Menteri HAM Natalius Pigai mengingatkan pentingnya menyelaraskan ekspansi bisnis lintas batas ini dengan arah kebijakan pemerintah pusat. Menurutnya, sinergi yang kuat akan meminimalisir hambatan birokrasi di masa depan.

Baca juga :  Bangun Sinergitas, Sekda Dewa Indra Hadiri Peresmian PAW Anggota DPRD Provinsi Bali

“Kalau dikembangkan untuk lima sampai 10 tahun ke depan, supaya usaha atau pengembangan bisnisnya bisa berkembang secara baik, maka harus inheren dengan kebijakan pemerintah,” tegas Natalius.

Pigai mencontohkan sejumlah program strategis nasional seperti hilirisasi, Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Kampung Nelayan, hingga Koperasi Desa Merah Putih yang menyimpan irisan kuat bagi peluang bisnis kedua negara. Keterkaitan ini diyakini mampu menjamin keberlanjutan kerja sama dalam jangka panjang.

Antusiasme serupa juga disuarakan oleh inisiator acara sekaligus Anggota DPD RI, Arya Wedakarna. Ia menyoroti bahwa volume perdagangan bilateral Indonesia dan Timor-Leste secara nasional telah menembus angka 230 juta dolar AS, namun potensi di Bali masih bisa dioptimalkan secara masif. Terlebih, ada sekitar 100.000 pelintas batas asal Timor-Leste yang rutin mendatangi Bali setiap tahunnya untuk berwisata, berbelanja, mengakses layanan kesehatan, hingga mengenyam pendidikan.

“Kita ada direct flight tiap hari. Nah, maka dari itu salah satu hasil dari bisnis forum ini adalah kita akan membuat konsorsium, yaitu perusahaan ekspor-impor yang di dalamnya terdiri dari para pengusaha Bali,” kata AWK.

Baca juga :  Bangkitkan Spirit Budaya dan Potensi Lokal, Bupati Tabanan Hadiri Pembukaan Bantiran Festival ke-2

Melalui pembentukan konsorsium ini, para pengusaha lokal Bali didorong untuk langsung terhubung dengan mitra strategis di Timor-Leste. Langkah taktis ini dinilai jauh lebih efektif ketimbang harus terus-menerus membidik pasar tradisional di Eropa atau Amerika yang kian protektif. Terlebih, posisi geografis Timor-Leste yang dekat dengan Australia dan China memberikan nilai tawar tersendiri.

Tidak berhenti pada sektor perdagangan dan logistik, sektor pendidikan turut menjadi sorotan hangat. Arya menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 550 mahasiswa asal Timor-Leste yang menimba ilmu di Bali, membuka peluang emas bagi industri pendidikan tinggi di tengah puluhan kampus swasta dan negeri yang ada.

Dengan resmi bergabungnya Timor-Leste sebagai bagian dari keluarga besar ASEAN, perhelatan Bali–Timor Leste Business Forum 2026 ini diharapkan mampu menjadi katalisator nyata dalam memperkokoh integrasi ekonomi kawasan Asia Tenggara yang inklusif dan berkelanjutan. On-MD

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button