Agung Bharata, Mantan Bupati Gianyar Berpulang

GIANYAR, MataDewata.com | Mantan Bupati Gianyar dua periode Anak Agung Gde Agung Bharata (periode 2003-2008 dan 2013-2018) yang kemudian bergelar Ida Begawan Blebar berpulang pada Sabtu (21/2/2026) pukul 13:36 Wita di RSUD Sanjiwani Gianyar. Almarhum mengembuskan napas terakhir dalam usia 76 tahun 8 bulan setelah hampir sebulan menjalani perawatan intensif akibat kondisi kesehatan yang menurun.
Almarhum yang lahir pada 23 Juni 1949 itu, sempat dirawat karena tidak nafsu makan dan kondisi fisik yang terus melemah. Sempat diperbolehkan pulang ke puri karena kondisi membaik, namun beliau kembali drop dan harus dilarikan lagi ke rumah sakit. Dalam beberapa hari terakhir, beliau lebih banyak mendapatkan asupan melalui infus. Faktor usia serta riwayat penyakit jantung disebut turut mempengaruhi kondisi kesehatan beliau.
Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, yang juga adik almarhum, menyampaikan bahwa keluarga telah berupaya maksimal selama proses perawatan. “Beliau sempat membaik dan pulang, tetapi kondisi kembali menurun,” ujar Wabup Agung Mayun.
Sebelum memimpin Gianyar, almarhum memiliki rekam jejak panjang dalam birokrasi pemerintahan pusat. Agung Bharata pernah bertugas sebagai staf di Sekretariat Negara RI dan dipercaya menjabat Kepala Istana Kepresidenan Tampaksiring pada periode 1997-2003. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdian beliau sebelum akhirnya memimpin Kabupaten Gianyar.
Rangkaian upacara pelebon dijadwalkan berlangsung pada 7 Maret 2026 di Setra Beng. Rangkaian upacara diawali pada 3 Maret dengan mesiram dan melelet. Rahina Anggara Wage Ugu bertepatan dengan Purnama ditetapkan sebagai hari baik untuk munggah ke tumpang salu. Selanjutnya 5 Maret dilaksanakan munggah ngaskara lan ngaturan ayaban, sebelum puncaknya pelebon pada 7 Maret.
Berbeda dari tradisi keturunan raja yang umumnya menggunakan bade nagabanda, prosesi almarhum akan memakai padma dan lembu putih. Hal ini karena beliau telah menjalani madwijati atau dwijati, upacara kelahiran kembali dalam ajaran Hindu untuk menjadi sulinggih, sehingga telah melepaskan atribut keduniawian. “Piranti yang digunakan menyesuaikan status beliau sebagai dwijati,” jelas Anak Agung Gde Mayun didampingi Penglingsir Puri Bitera A.A. Alit Asmara dan Penglingsir Puri Batuan Anak Agung Gde Bagus.
Pasca menuntaskan pengabdian sebagai kepala daerah, almarhum memilih jalan spiritual. Hari-hari beliau lebih banyak diisi dengan penyucian diri, mendalami Weda, serta menjalani konsep wanaprastha yakni tahap kehidupan dengan menjauh dari hiruk pikuk duniawi. Beliau memantapkan diri menapaki jalan sebagai Begawan hingga akhir hayat.
Kepergian Ida Begawan Blebar bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar puri, tetapi juga bagi masyarakat Gianyar. Sosok pemimpin yang menutup perjalanan hidupnya dengan pengabdian spiritual itu kini dikenang sebagai figur yang ajeg menjaga dharma, baik dalam tugas pemerintahan maupun dalam laku suci. Hg-MD



